Tanker Minyak Iran Lolos dari Blokade AS, Kini Dilaporkan Menuju Perairan Indonesia
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
03 - May - 2026, 06:55
JATIMTIMES - Sebuah kapal tanker minyak raksasa milik Iran dilaporkan berhasil melewati pengawasan laut Amerika Serikat (AS) dan kini bergerak menuju kawasan perairan Indonesia dengan membawa muatan minyak mentah bernilai fantastis.
Mengutip laporan Times of India dan Anadolu Agency (AA), kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) milik National Iranian Tanker Company (NITC) tersebut membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah dengan nilai mencapai hampir US$220 juta atau sekitar Rp 3,8 triliun.
Baca Juga : 4 Titik Semprot Parfum agar Wangi Tahan Lama Seharian
Lembaga pemantau pergerakan kapal tanker TankerTrackers menyebut kapal itu berhasil lolos dari pantauan Angkatan Laut AS dan terus melaju ke kawasan Asia Timur.
“Sebuah supertanker milik NITC yang membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah senilai hampir US$220 juta berhasil menghindari Angkatan Laut AS dan mencapai wilayah Timur Jauh,” tulis TankerTrackers.
Kapal yang teridentifikasi bernama HUGE dengan nomor IMO 9357183 itu terakhir kali terdeteksi berada di lepas pantai Sri Lanka lebih dari sepekan lalu.
Saat ini, kapal tersebut disebut sedang melintasi Selat Lombok, Indonesia, dan diperkirakan bergerak menuju wilayah Kepulauan Riau.
Berdasarkan data pelacakan, kapal tanker itu juga diketahui tidak lagi menyalakan sinyal Automatic Identification System (AIS) sejak 20 Maret, tepat setelah meninggalkan kawasan Selat Malaka.
Laporan ini muncul di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mengklaim Washington telah menguasai penuh Selat Hormuz dan menyebut blokade terhadap Iran berjalan sangat efektif.
Baca Juga : Pengumuman SNBT 2026 Kapan? Ini Jadwal Resmi dan Cara Cek Hasil UTBK SNBT
Namun, sejumlah laporan menyebut beberapa kapal Iran masih berhasil menembus pembatasan tersebut. Media pemerintah Iran bahkan mengklaim setidaknya 52 kapal, termasuk 31 tanker minyak, mampu melewati blokade dalam waktu 72 jam.
Di sisi lain, pihak militer AS menyatakan telah mencegat atau memaksa sekitar 41 kapal terkait Iran untuk berbalik arah sejak kebijakan blokade diberlakukan.
Amerika Serikat juga menilai langkah itu telah menimbulkan kerugian miliaran dolar bagi Iran dan menekan ekspor minyak negara tersebut secara signifikan.
Sebagai informasi, blokade mulai diterapkan sejak 13 April sebagai bagian dari tekanan ekonomi dan strategi geopolitik terhadap Iran, terutama di jalur penting Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
