Antisipasi Kekurangan Hewan Kurban Jelang Iduladha, Kota Malang Butuh Sapi Impor
Reporter
Riski Wijaya
Editor
Nurlayla Ratri
25 - Apr - 2026, 06:32
JATIMTIMES - Ketersediaan sapi lokal di Kota Malang mulai menunjukkan tren penurunan menjelang Iduladha 2026. Kondisi ini diduga berkaitan dengan strategi peternak yang menahan penjualan untuk mendapatkan harga lebih tinggi saat puncak permintaan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, mengakui kondisi tersebut. Ia menyebut pasokan yang terbatas berpotensi memicu kenaikan harga dalam waktu dekat.
Baca Juga : DPRD Kabupaten Malang Desak Pemerintah Tindak Tegas Proyek Diduga Tak Berizin Tomoland
“Jadi, saat ini memang ketersediaan sapi lokal itu cenderung agak menurun. Mungkin ini strateginya para peternak sapi untuk menahan, dan mendekati Iduladha akan dilepas. Konsekuensinya biasanya ada kenaikan harga,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan, Pemkot Malang mulai membuka opsi mendatangkan sapi dari luar, termasuk impor. Namun, kebijakan tersebut tetap dibatasi agar tidak merugikan peternak lokal.
“Nah, kami berusaha menggandeng perusahaan-perusahaan untuk mendatangkan sapi impor. Tetapi ada ketentuan, jumlahnya tidak boleh melebihi 50 persen dari sapi lokal,” jelasnya.
Terkait kebutuhan pasti hewan kurban tahun ini, pihaknya belum bisa memastikan angka final. Perhitungan baru akan dilakukan mendekati Iduladha saat permintaan mulai terlihat jelas di lapangan.
“Ini belum tahu persis. Nanti menjelang Iduladha baru terukur,” tambah Slamet.
Meski demikian, berdasarkan tren tahun-tahun sebelumnya, kebutuhan sapi kurban di Kota Malang berada di kisaran 2.500 ekor.
Baca Juga : Elpiji hingga Cabai Kompak Naik di Jatim, Ini Daftar Lengkap Harga Sembako Terbaru 25 April 2026
Selain memastikan ketersediaan, Dispangtan Kota Malang juga menyiapkan langkah pengawasan kesehatan hewan. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya.
Ratusan mahasiswa akan diterjunkan untuk membantu pemeriksaan kesehatan sapi, baik di kandang penjualan maupun saat proses penyembelihan berlangsung.
“Biasanya kami dibantu sekitar 500 mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan untuk memeriksa hewan yang dijual, hingga saat penyembelihan,” pungkasnya.
Langkah ini diharapkan mampu menjamin keamanan dan kelayakan hewan kurban bagi masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas pasokan di tengah potensi lonjakan harga.
