Tips Hindari Penipuan Wedding Organizer, Ini Cara Aman Pilih WO Profesional
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
25 - Apr - 2026, 03:48
JATIMTIMES - Maraknya kasus penipuan berkedok jasa wedding organizer (WO) belakangan ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya calon pengantin yang tengah mempersiapkan hari bahagia mereka. Fenomena ini bahkan berdampak langsung pada menurunnya tingkat kepercayaan (trust issue) terhadap pelaku industri pernikahan yang profesional.
Sekretaris Umum Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Hastana) Indonesia, Kiki Indah Permata, mengakui bahwa industri WO saat ini sedang menghadapi tantangan serius akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa tidak semua pihak yang terlibat dalam kasus penipuan tersebut merupakan bagian dari wedding organizer profesional.
Baca Juga : Wali Kota Blitar Dukung E-Sports dan Industri Kopi sebagai Peluang Masa Depan Pemuda
“Beberapa nama yang sempat disebut dalam kasus itu sebenarnya bukan wedding organizer, melainkan vendor lain seperti catering. Tapi dampaknya tetap kena ke kami, karena masyarakat jadi ragu untuk menggunakan jasa WO,” kata Kiki, Sabtu (25/4/2026).
Ia menekankan bahwa WO yang tergabung dalam Hastana memiliki standar kerja yang jelas dan profesional, berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat yang masih menganggap profesi ini sebagai pekerjaan kasual atau freelance semata.
“Kami punya sistem kerja, standar pelayanan, bahkan seragam dan naungan organisasi. Jadi ini bukan pekerjaan sembarangan, tapi profesi yang bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Kiki juga membagikan sejumlah tips kepada masyarakat terutama bagi calon pengantin agar tidak terjebak dalam penipuan jasa WO. Salah satunya adalah dengan melakukan pengecekan rekam jejak atau rapor penyedia jasa, termasuk lama berdiri dan pengalaman menangani klien.
“Silakan dicek dulu, sudah berapa lama berdiri, portofolionya bagaimana, dan testimoni dari klien sebelumnya. Di kota seperti Malang ini relatif mudah untuk melakukan cross check,” jelasnya.
Selain itu, transparansi dalam pengelolaan keuangan juga menjadi indikator penting. Ia menegaskan bahwa dalam standar asosiasi, setiap rincian anggaran harus disampaikan secara terbuka kepada klien.
“Kami tidak menganjurkan sistem paket yang tidak transparan. Semua harus jelas, berapa anggaran untuk hotel, catering, dekorasi, dan vendor lainnya. Bahkan kontrak dengan masing-masing vendor juga harus ada,” tambah Kiki.
Baca Juga : Tragedi Rafting Berdarah 2014 di Kota Batu Viral Lagi Usai Dibahas Nadia Omara, Ibu Korban Buka Suara
Lebih lanjut, Kiki mengimbau calon pengantin untuk waspada terhadap penawaran harga yang tidak masuk akal serta permintaan pelunasan di awal yang tidak sesuai dengan kesepakatan kontrak.
“Kalau ada paket wedding untuk 1.000 tamu tapi harganya di bawah Rp 100 juta, itu sudah red flag. Atau diminta menambah DP dengan iming-iming diskon besar, itu juga patut dicurigai. Banyak kasus seperti itu berujung penipuan,” imbuh Kiki.
Ia menambahkan, sistem pembayaran ideal biasanya dilakukan secara bertahap dan pelunasan dilakukan mendekati hari pelaksanaan acara, bukan jauh-jauh hari sebelumnya.
“Kalau kami, semuanya berdasarkan kontrak. Bahkan klien juga boleh langsung transfer ke vendor masing-masing, kami tidak pernah memaksa harus satu pintu,” tutup Kiki.
