Ekspedisi Jepara ke Banten dan Maluku: Jejak Perang dan Diplomasi Maritim Abad Ke-16
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Yunan Helmy
04 - Mar - 2025, 01:32
JATIMTIMES - Pada akhir abad ke-16, Jepara menjelma menjadi kekuatan maritim yang berpengaruh di pesisir utara Jawa. Di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat, Jepara tidak hanya bertahan sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan utama, tetapi juga menjadi basis ekspansi politik dan militer yang melanjutkan cita-cita Kesultanan Demak.
Sebagai penerus Demak, Jepara mewarisi tradisi ekspedisi maritim yang agresif, baik dalam menghadapi ancaman Portugis maupun dalam memperkuat cengkeramannya atas wilayah-wilayah strategis di Nusantara.
Baca Juga : FIFGROUP Hadirkan SPEKTRA Meriah di Dua Kota Secara Bersamaan
Ekspedisi Jepara ke Banten pada 1580 dan keterlibatannya dalam konflik Maluku memperlihatkan dua hal yang mendasari kebijakan politik Ratu Kalinyamat dan para penerusnya. Pertama, Jepara masih melihat dirinya sebagai pemegang warisan politik Kesultanan Demak. Kedua, bahwa Jepara terus berusaha memainkan peran utama dalam percaturan geopolitik maritim di Nusantara.
Namun, bagaimana Jepara menjalankan ekspedisi tersebut? Apa kepentingan yang melatarbelakangi pergerakan militernya ke Banten dan Maluku? Dan yang lebih penting, sejauh mana ekspedisi ini berhasil mencapai tujuan-tujuan politiknya?
Serangan Jepara ke Banten 1580: Antara Ambisi dan Kegagalan
Serangan Jepara ke Banten pada 1580 bukanlah sekadar ekspedisi militer biasa. Ini adalah sebuah upaya politik yang kompleks, dilatarbelakangi oleh pertarungan kekuasaan di Banten setelah wafatnya Maulana Yusuf. Sebagai kerajaan Islam yang berkembang pesat, Banten memiliki hubungan genealogis dengan Demak dan Jepara.
Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, memiliki seorang putra bernama Pangeran Aria atau Pangeran Jepara, yang merupakan cucu Sultan Trenggana dari Demak. Dengan demikian, hubungan antara Jepara dan Banten tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga didasarkan pada pertalian darah yang kuat.
Pada tahun 1580, ketika Maulana Yusuf wafat, takhta Banten diwariskan kepada putranya, Pangeran Muhammad, yang saat itu masih berusia sembilan tahun. Situasi ini menciptakan ketidakstabilan politik di Banten dan Pangeran Jepara melihatnya sebagai kesempatan untuk merebut kekuasaan. Ia datang ke Banten dengan iring-iringan besar, membawa pasukan yang dipimpin oleh Kiai Demang Laksamana, seorang tokoh militer yang kemungkinan sudah dikenal oleh orang Portugis.
Namun, upaya Pangeran Jepara untuk merebut takhta menghadapi perlawanan sengit. Meski sempat hampir berhasil, kudeta ini akhirnya gagal setelah seorang patih Banten yang awalnya mendukungnya berbalik arah. Pertempuran pun pecah di dalam kota. Kiai Demang Laksamana gugur dalam pertempuran dan Pangeran Jepara terpaksa mundur dengan tangan hampa.
Apakah serangan ini dilakukan atas perintah langsung Ratu Kalinyamat? Tidak ada bukti tertulis yang menyebutkan keterlibatan sang ratu dalam ekspedisi ini. Namun, melihat pola ekspansi militer Jepara selama masa pemerintahannya, tidak mustahil bahwa serangan ke Banten tetap mendapat restunya, mengingat pentingnya Banten dalam politik maritim Nusantara saat itu.
Jepara dan Maluku: Hubungan yang Rumit
Jika di bagian barat Nusantara Jepara menunjukkan ambisinya melalui serangan ke Banten, bagaimana dengan keterlibatannya di bagian timur, terutama Maluku?
Sumber sejarah mencatat bahwa hubungan Jepara dengan Maluku tidaklah sesederhana sekadar ekspedisi militer. Kronik Rijali, yang pernah dimiliki Valentijn, menyebut adanya hubungan politik antara Jepara dan Amboina. Namun, keberadaan kronologi yang tidak teratur dalam sumber ini membuat sulit untuk menentukan secara pasti kapan dan dalam konteks apa hubungan ini terjadi.
Salah satu tokoh penting dalam hubungan ini adalah Perdana Jamilu, seorang pemimpin Hitu yang disebut sebagai "Kapten Hitu." Pada sekitar tahun 1510, Perdana Jamilu mengirimkan utusan ke Jepara untuk menjalin aliansi dengan seorang pemimpin yang bergelar "Pangirang" atau Pangeran Jepara. Dari Jepara, ia memperoleh dukungan militer berupa kapal perang dan pasukan. Hubungan ini berlanjut hingga masa Pangeran Nyaykabawang, tetapi setelah kematiannya, hubungan Jepara dengan Hitu mulai merenggang.
Jepara juga terlibat dalam pengiriman armada ke Maluku di masa berikutnya. Valentijn mencatat bahwa seorang "Pangirang Jepara" kembali memberikan bantuan kepada Perdana Jamilu, kali ini dengan mengirimkan tujuh kapal perang. Meskipun Perdana Jamilu meninggal dalam perjalanan antara Jawa dan Bali, armada Jepara tetap berperan dalam konflik di Maluku. Salah satu pencapaiannya adalah penyitaan sebuah kapal Portugis di dekat Banda serta penyerbuan terhadap Hative, sebuah daerah yang masih dianggap kafir.
Baca Juga : Puasa Tetap Langsing dengan BB Ideal? Ini Sejumlah Tips Diet Sehat Saat Ramadan
Namun, ada perbedaan signifikan dalam keterlibatan Jepara di Maluku dibandingkan dengan ekspedisinya ke Banten. Jika di Banten Jepara mencoba mengambil alih kekuasaan secara langsung, di Maluku Jepara lebih berperan sebagai sekutu militer bagi para pemimpin lokal yang berperang melawan Portugis.
Ekspedisi Jepara: Cerminan Politik Maritim Nusantara
Dari ekspedisi ke Banten hingga ke Maluku, terlihat bahwa Jepara menerapkan strategi yang berbeda sesuai dengan konteks geopolitik masing-masing wilayah.
Di Banten, Jepara berusaha menegaskan dominasi politiknya dengan mencoba mengambil alih kekuasaan secara langsung. Namun, di Maluku, Jepara berperan sebagai penyedia dukungan militer bagi kerajaan-kerajaan Islam yang sedang bertarung melawan Portugis.
Namun, tidak ada bukti yang secara eksplisit menyatakan bahwa Ratu Jepara sendiri mengirimkan ekspedisi ke Maluku untuk menaklukkan Portugis. Sejarah menunjukkan bahwa keterlibatan Jepara di bagian timur Nusantara lebih bersifat diplomatis dan berbasis pada aliansi strategis daripada ekspansi militer secara langsung.
Warisan Jepara dalam Sejarah Nusantara
Meski ekspedisi Jepara ke Banten pada 1580 berakhir dengan kegagalan, dan keterlibatannya di Maluku lebih sebagai sekutu alih-alih penakluk, tidak bisa disangkal bahwa Jepara memainkan peran penting dalam sejarah maritim Nusantara.
Jepara bukan hanya pelabuhan dagang, tetapi juga kekuatan militer yang tangguh. Jepara membuktikan bahwa kerajaan-kerajaan pesisir di Jawa memiliki kapasitas untuk melakukan ekspansi dan memengaruhi dinamika politik di wilayah yang lebih luas.
Jejak Jepara dalam ekspedisi militer ini juga mencerminkan bagaimana kekuatan-kekuatan lokal di Nusantara terus beradaptasi terhadap perubahan politik, baik dalam menghadapi ancaman kolonial maupun dalam mempertahankan pengaruhnya di antara kerajaan-kerajaan pribumi lainnya.
Pada akhirnya, Jepara tetap dikenang sebagai kekuatan maritim yang tangguh di abad ke-16, yang bukan hanya mewarisi kejayaan Demak, tetapi juga meletakkan dasar bagi peran strategis pesisir utara Jawa dalam percaturan politik Nusantara.
