Cabor Mulai Resah, Nilai Disporapar Kota Malang Diduga Hanya Fokus Venue dan Opening Ceremony

03 - Mar - 2025, 09:43

Tim sepak bola putra Kota Malang yang berlatih di lapangan Madyopuro (foto: istimewa)


JATIMTIMES - Sejumlah cabang olahraga (cabor) yang akan turun pada ajang Porprov IX Jatim 2025 mulai resah. Hal ini berkaitan dengan target juara yang diusung sebagai tuan rumah ajang olahraga antar kota dua tahunan se Provinsi Jatim tersebut. 

Manager tim sepak bola putra Kota Malang, Hengky Bayu Firmansyah mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang berfikir keras untuk menunjukkan eksistensinya sebagai tim tuan rumah. Betapa tidak, sebagai olahraga yang banyak digemari orang, target menjadi juara telah terpatri sejak saat ini. 

Baca Juga : Terkait Pelaksanaan MBG di Lingkungan Madrasah, Begini Kata Kemenag Kota Malang

Akan tetapi, pria yang akrab disapa Bayu ini mengaku masih ragu dengan apa yang dilakukan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang sebagai dinas pengampu. Keraguan itu muncul akibat tidak profesionalnya dinas tersebut saat membawa nama Kota Malang pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) XIV di Bangkalan, Madura beberapa waktu lalu. Saat itu, tim sepak bola putra Kota Malang menjadi juara pada Popda XIV. 

Dibalik gelar juara yang diperoleh, Bayu melihat ada ketidakprofesionalan dari Disporapar Kota Malang dalam mengelola atlet. Meski bukan atlet profesional, hal itu menjadi ironi tersendiri bagi dunia olahraga. 

“Kami coba melupakan apa yang terjadi di Popda. Tapi hal itu apa tidak terulang di Porprov?,” tanya Bayu. 

Yang menjadi keresahan Bayu yakni ihwal anggaran pembinaan atlet untuk Porprov IX Jatim 2025. Karena ia melihat saat ini Disporapar Kota Malang masih fokus pada pembenahan venue dan persiapan pembukaan. 

“Nah, saya baca di pemberitaan itu kan biaya pembukaan saja mencapai kurang lebih Rp 2,5 miliar. Lalu bagaimana pembinaan atletnya? Apa hanya puslatkot atau seperti apa,” imbuh Bayu. 

Di internal sepak bola putra sendiri, setiap atlet mendapatkan transport sebesar Rp 30 ribu per latihan. Dan pelatih dibiayai Rp 60 ribu per latihan. 

Bayu pun sebenarnya tidak mempermasalahkan angka yang diberikan dari KONI Kota Malang. Hanya saja, ia melihat muara pada lingkaran ini tertuju pada Disporapar Kota Malang. 

“Anggaran untuk Porprov kalau tidak salah tidak terkena efisiensi, karena telah di dok sebelumnya. Sebenarnya sih gak ada masalah dengan (anggaran, red) itu, asalkan kita ada ekstra ada tambahan uang pembinaan dari KONI. Cuma permasalahannya KONI kan dapat anggaran kecil,” ungkap Bayu. 

“Kami takutnya kayak Popda kemarin, akhirnya kurang. Tapi kalau sekarang kita ngomong kurang, itu anggaran itu gede, walaupun memang ada untuk renovasi venue mas, stadion atau apa-apa saja. Tapi, apakah hanya fokus di renovasi itu, dan fokus pembukaan saja. Nah, harusnya kan juga fokus di prestasi, karena kita tuan rumah,” imbuh Bayu. 

Baca Juga : Rumah di Malang Ludes Terbakar Saat Ditinggal Berpergian, Kerugian Capai Puluhan Juta

Hingga saat ini, Bayu belum melihat adanya 'hilal' atau sinyal terkait pembinaan demi menuju prestasi juara. Karena beberapa cabor menurut Bayu, juga mengeluhkan tidak memiliki biaya untuk mendongkrak prestasi atlet. 

“Belum ada komunikasi, belum ada sinyal-sinyalnya, bingung kita. Sedangkan kita sudah masuk sekarang bulan Maret. April, Mei persiapan,” beber Bayu. 

Hal terkecil yang Bayu soroti ialah Stadion Gajayana. Sebagai tim tuan rumah, hingga saat ini tim sepak bola putra belum sama sekali mencicipi rumput pada salah satu stadion tertua di Indonesia itu. 

“Kan masih renovasi disitu. Tapi memang seharusnya kami sebagai tim tuan rumah juga melakukan adaptasi lapangan. Karena mau tidak mau kita sebagai tuan rumah juga harus tahu kondisi lapangan, tapi selesainya kalau tidak salah baru Mei,” kata Bayu. 

Namun dibalik itu semua, Bayu masih memahami bahwa atlet dididik untuk pembinaan. Namun, ia juga meminta kerjasama dari dinas terkait untuk memperhatikan pembinaan hingga kaderisasi atlet untuk kedepannya. 

“Jangan sampai fokus saat ini hanya pada persiapan pembukaan Porprov, tapi lupa dengan pembinaan atlet. Ayo diperhatikan bersama,” ungkap Bayu. 

“Tapi saya juga dilihat, untuk bonus memang besar. Kalau bonus besar kan harus menang dulu. Nah, bagaimana untuk menunjang kemenangan itu sebelumnya,” tukas Bayu. 


Topik

Olahraga, Porprov Jatim 2025, Disporapar Kota Malang, atlet, Kota Malang,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette