Heboh Tren Kabur Aja Dulu, Tere Liye Bandingkan Hidup di Luar vs Dalam Negeri

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

18 - Feb - 2025, 09:00

Perbandingan hidup di luar negeri dan dalam negeri versi Tere Liye, penulis novel. (Foto: Facebook)


JATIMTIMES - Belakangan ini, jagat maya tengah diramaikan dengan tagar #KaburAjaDulu yang viral di berbagai platform, mulai dari X (Twitter), TikTok, hingga Instagram. Tagar ini mencerminkan keresahan generasi muda Indonesia terhadap situasi dalam negeri. Terutama dalam hal peluang kerja, biaya hidup yang semakin mahal, serta kondisi ekonomi yang tidak menentu. 

Fenomena ini kemudian menarik perhatian Tere Liye, seorang penulis sekaligus akuntan, yang memberikan pandangannya mengenai perbandingan biaya hidup antara bekerja di luar negeri (LN) dan dalam negeri (DN). Dengan data dan perhitungan yang jelas, ia menyatakan bahwa angka tidak bisa berbohong. 

Dalam unggahannya di Facebook, Tere Liye merinci secara gamblang perbedaan pendapatan serta biaya hidup antara bekerja di luar negeri dan dalam negeri. 

"Kalian masih ribut-ribut soal bagusan kerja di LN atau di dalam negeri? Aduh," ujar penulis novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar itu. 

Ia kemudian membandingkan gaji pekerja kasar di luar negeri dengan di dalam negeri. 

"Di LN dapat 20 juta (Jepang/Korea), itu bagus untuk pekerja kasar. Di dalam negeri, gaji 4 juta juga bagus. Di Jawa Tengah, Yogya, UMP itu cuma 2 jutaan. Bahkan di Jabodetabek yang UMP 5 juta, banyak yang real gajinya di bawah itu, ada yang cuma 1,5 juta. Jadi mari ambil angka sama-sama tinggi," jelasnya. 

Selain gaji, biaya hidup juga menjadi faktor penting yang dibandingkan. Misalnya dengan rincian sebagai berikut: 
Makan: Satu porsi makan di luar negeri diperkirakan sekitar Rp70.000, sedangkan di dalam negeri hanya Rp15.000. Jika dikalikan untuk konsumsi tiga kali sehari selama sebulan, maka total biaya makan di luar negeri mencapai Rp6.300.000, sementara di dalam negeri hanya Rp1.350.000.
Tempat Tinggal: Biaya sewa kost atau kontrak rumah di luar negeri mencapai Rp4.500.000, jauh lebih tinggi dibandingkan dalam negeri yang hanya Rp800.000.
Transportasi: Ongkos transportasi di luar negeri berkisar Rp1.500.000, sedangkan di dalam negeri sekitar Rp400.000.
Biaya Lain-lain: Pengeluaran tambahan di luar negeri mencapai Rp2.500.000, sementara di dalam negeri hanya Rp500.000. 

Dengan total biaya hidup tersebut, pekerja di luar negeri rata-rata menghabiskan Rp14.800.000 per bulan, sementara pekerja di dalam negeri hanya Rp3.050.000. 

Namun, bagaimana dengan tabungan? Menurut Tere Liye, jika dihitung dari gaji dikurangi total biaya hidup, pekerja di luar negeri masih bisa menabung sekitar Rp5.200.000 per bulan, sedangkan pekerja di dalam negeri hanya menyisakan Rp950.000. 

Mengapa Tabungan di Luar Negeri Lebih Besar

Menurut Tere Liye, meskipun biaya hidup di luar negeri lebih tinggi, peluang menabung tetap lebih besar karena gaji yang jauh lebih tinggi dibanding di dalam negeri. "Mau kalian jungkir balik otak-atik angkanya, kerja di LN akan selalu potensial saving lebih tinggi secara nominal," tegasnya. 

Ia juga memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerja kasar di luar negeri bisa menikmati hidup lebih baik dibanding pekerja dengan posisi serupa di Indonesia. 

"Itulah kenapa pekerja restoran fast food di Australia, buruh kasta rendah di sana, bisa liburan ke Bali, Lombok. Sementara pekerja restoran fast food di Indonesia, nggak kuat liburan ke Australia. Paham?" katanya. 

Lalu, bagaimana dengan pajak? Banyak yang beranggapan bahwa pajak di luar negeri sangat tinggi hingga mencapai 50-60%. Namun, Tere Liye menegaskan bahwa ini adalah kesalahpahaman. 

"Memang. Tapi informasimu kurang banyak. Di LN itu juga ada PTKP, dan nilainya lebih tinggi dibanding PTKP Indonesia. Di sana juga ada tarif progresif, yang angkanya juga kadang lebih menarik bagi pekerja kasar. Kamu sih fokus ke layer 50-60%, kayak Menteri yang nakut-nakutin di LN pajak tinggi," ujarnya. 

Selain itu, ia juga menyoroti manfaat dari pajak yang dibayarkan di luar negeri. "Dan lebih asyik lagi, pajak di LN itu jadi sesuatu. Transportasi publik murah, akses kesehatan bagus, pendidikan bagus, dll. Paham?" tegasnya. 

Menurut Tere Liye, jika ada pilihan ideal, tentu lebih nyaman bekerja di dalam negeri dengan gaji ala luar negeri serta sistem pemerintahan yang lebih baik. 

"Tapi, itu benar, kalau bisa milih ya Allah, tetap lebih enak kerja di dalam negeri, asal gajinya versi LN, dan pejabat pemerintahannya juga dari LN. Enaaak banget. Bisa ditukar nggak itu pejabat-pejabat lokalnya, yang hobi banget plop plop totot?" tutup Tere Liye. 

Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah tren #KaburAjaDulu memang jadi pilihan yang masuk akal, atau justru tantangan yang lebih besar?


Topik

Peristiwa, Tere Liye, kaburajadulu, tagar kaburajadulu,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette