Trump Ancam Kekacauan di Timur Tengah, Desak Pembebasan Sandera Gaza
Reporter
Anisa Tri Saraswati
Editor
Dede Nana
03 - Dec - 2024, 10:57
JATIMTIMES - Presiden terpilih AS Donald Trump pada Senin (2/12) menyerukan pembebasan sandera yang ditahan di Jalur Gaza dan mengancam kelompok Islam Hamas. Trump menegaskan bahwa jika para sandera tidak dibebaskan sebelum tanggal 20 Januari 2025, saat ia dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat, akan ada ‘neraka yang harus dibayar’ di Timur Tengah.
“Jika para sandera tidak dibebaskan sebelum tanggal 20 Januari 2025, tanggal ketika saya dengan bangga memangku jabatan sebagai Presiden Amerika Serikat, akan ada SEMUA NERAKA YANG HARUS DIBAYAR di Timur Tengah, dan bagi mereka yang bertanggung jawab atas kekejaman terhadap kemanusiaan ini,” tulis Trump di platform yang ia dirikan bersama, Truth Social.
Baca Juga : Syarif Nurullah: Adik Sunan Gunung Jati yang Jadi Penguasa Mesir
Dalam pernyataannya di platform tersebut juga, Trump menekankan bahwa mereka yang bertanggung jawab akan menerima hukuman lebih berat daripada yang pernah diterima siapa pun dalam sejarah Amerika Serikat yang panjang.
"Bebaskan para sandera sekarang!" tambahnya dengan menggunakan huruf kapital.
Pernyataan Trump tidak merinci bentuk ancaman spesifik atau kemungkinan keterlibatan militer AS. Dia juga hanya berfokus pada sandera yang ditahan Hamas tanpa menyinggung dampak operasi militer Israel terhadap warga sipil Palestina di Gaza.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pemimpin Hamas saling dituduh menghalangi upaya perundingan perdamaian. Meski Hamas menawarkan pembebasan sandera dengan syarat perang dihentikan, Israel tetap bersikeras melanjutkan perang hingga Hamas benar-benar dapat dikalahkan.
Meski pernyataan Trump tentang eskalasi tidak jelas, hal ini menandai perubahan dalam kebijakan Timur Tengahnya. Dalam kampanyenya, ia menjanjikan perdamaian di Gaza namun tanpa detail spesifik, sementara prinsip ‘America First’-nya sebelumnya menghindari keterlibatan AS dalam konflik luar negeri.
Trump tetap mendukung Israel untuk ‘menyelesaikan pekerjaan’ di Gaza dan dekat dengan Netanyahu. Selama kepresidenannya (2017-2021), ia membuktikan dukungan kuatnya melalui pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem, pengakuan kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, pembuatan perjanjian normalisasi dengan negara-negara Arab, dan dukungan terhadap perluasan pemukiman Israel yang melanggar hukum internasional.
Untuk masa jabatan keduanya, Trump telah memilih pejabat yang sangat pro-Israel, termasuk calon Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang mendukung perang Israel, dan Mike Huckabee sebagai duta besar untuk Israel, yang mendukung pemukiman di Tepi Barat dan memilih menyebutnya sebagai ‘Yudea dan Samaria’.
Selama serangan mematikan mereka terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, militan yang dipimpin Hamas menangkap lebih dari 250 orang dan menewaskan 1.200 orang, menurut penghitungan Israel termasuk yang memiliki kewarganegaraan ganda Israel-Amerika. Dari 101 sandera asing dan Israel yang masih ditawan tanpa akses komunikasi di Gaza, sekitar setengahnya diyakini masih hidup.
Hamas melaporkan bahwa 33 sandera di Gaza telah tewas selama konflik yang berlangsung hampir 14 bulan ini. Kelompok tersebut menuntut diakhirinya perang dan penarikan total Israel dari Jalur Gaza sebagai syarat pembebasan para sandera yang tersisa.
Serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 44.400 warga Palestina menurut angka otoritas kesehatan Hamas yang tidak dapat diverifikasi secara independen, dan mengakibatkan sebagian besar penduduk Gaza mengungsi serta wilayah tersebut hancur.
Baca Juga : 100 Orang Tewas dalam Bentrokan di Pertandingan Sepak Bola Guinea
Pemerintahan Presiden Joe Biden telah berupaya selama berbulan-bulan untuk mencapai kesepakatan antara kedua pihak. AS bersama negara-negara penengah lainnya baru saja memulai dorongan baru untuk gencatan senjata.
Hamas melaporkan telah melakukan pembicaraan dengan pejabat keamanan Mesir untuk upaya gencatan senjata baru, sementara Netanyahu juga dijadwalkan menggelar pertemuan keamanan terkait hal tersebut.
Jake Sullivan, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, menyatakan pada CNN bahwa peluang tercapainya gencatan senjata dan kesepakatan sandera di Gaza telah meningkat, meski masih jauh dari realisasi.
“Hamas terisolasi. Hizbullah tidak lagi berperang bersama mereka, dan pendukung mereka di Iran dan tempat lain sibuk dengan konflik lain,” katanya.
“Jadi saya rasa kita mungkin punya peluang untuk membuat kemajuan, tetapi saya tidak akan memprediksi kapan tepatnya itu akan terjadi. … Kita sudah begitu dekat berkali-kali tetapi tidak pernah mencapai garis finis.” tambahnya.
Pejabat Gedung Putih telah berulang kali membuat pernyataan serupa tanpa berhasil mewujudkan gencatan senjata.
