Siapa Gus Hans, Pendamping Risma yang Menjadi Pesaing Ketampanan Emil?

28 - Oct - 2024, 12:39

Foto bersama KH. Zahrul Azhar Asumta atau yang akrab disapa Gus Hans (kanan) dan Tri Rismaharini (kiri). (Foto: istimewa)


JATIMTIMES - Nama KH. Zahrul Azhar Asumta atau yang akrab disapa Gus Hans kini tengah menjadi sorotan setelah ditetapkan mendampingi Tri Rismaharini dalam Pilgub Jawa Timur 2024. Kehadirannya sebagai calon Wakil Gubernur mendampingi Risma tidak hanya mengundang rasa penasaran publik, tetapi juga menambah warna dalam kontestasi pilkada. 

Menurut Abdul Aziz, Juru Bicara Tim Pemenangan Risma-Gus Hans, figur Gus Hans bukan sekadar pelengkap. Selain pandai berbicara, ia memiliki kemampuan untuk menyampaikan program-program yang relevan dan aplikatif, dan dari segi penampilan, sosoknya yang kalem dan karismatik menjadi daya tarik tersendiri. 

Baca Juga : Dinas Kesehatan Kota Batu Kuatkan Integrasi Layanan Primer Puskesmas dan Posyandu

"Tak sedikit yang menyebutnya sebagai pesaing berat pendamping Khofifah, Emil Dardak," kata Aziz, menambahkan bahwa aura santai namun serius Gus Hans berhasil menarik perhatian penonton saat sesi debat. 

Gus Hans lahir di Jombang, 23 Maret 1976, sebagai putra pasangan Kiai As'ad Umar dan Azah As'ad. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) yang kental dengan nilai-nilai agama. Pendidikan dasarnya ditempuh di Jombang, sementara gelar S1 Hubungan Internasional didapatnya dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta dan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Di lingkungan NU, Gus Hans dikenal sebagai aktivis yang berdedikasi, hingga ia dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Jaringan Kiai-Santri Nusantara (JKSN) dan Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul 'Ulama (PW LKKNU) Jawa Timur. Pada Pilgub 2018, ia juga berperan besar dalam tim sukses Khofifah-Emil, mengantarkan pasangan tersebut meraih kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Sikap anti korupsinya terlihat jelas dalam program bantuan pesantren yang dikelola secara transparan. 

Selain aktif dalam organisasi, Gus Hans juga memimpin Pondok Pesantren Queen Al-Azhar Darul Ulum di Jombang. Di kalangan akademisi, ia menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerjasama di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU). Dalam dunia politik, Gus Hans juga tidak asing, ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Partai Golkar Jawa Timur sebelum memutuskan non-aktif menjelang Pilgub. 

Pada 2019, Gus Hans dipercaya menjadi Presiden Football for Peace Indonesia, organisasi di bawah PBB yang menggabungkan olahraga dengan misi perdamaian antaragama. Selain itu, ia aktif dalam Gerakan Nasional Anti Narkoba MUI dan Ketua Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Provinsi Jawa Timur. Tak jarang, Gus Hans tampil di layar kaca sebagai penceramah agama di berbagai televisi swasta. 

Menurut Ketua PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, pasangan Risma-Gus Hans adalah perwujudan kolaborasi ideal. "Ibu Risma mewakili kaum nasionalis, sementara Gus Hans merepresentasikan kalangan santri yang dikenal agamis," ujar Said, yang meyakini perpaduan ini akan memberikan keunggulan dalam Pilgub Jatim. 

Penampilan Gus Hans saat debat dianggap mengesankan. Dalam segmen debat calon wakil gubernur, Gus Hans tampak santai, sesekali berkelakar menyapa Emil dan Lukman. Sementara Emil terlihat serius, membela hasil kerjanya selama lima tahun, Gus Hans tampil lebih rileks dan menawarkan gagasan yang aplikatif. Emil bahkan mengakui kemampuan Gus Hans dalam memajukan wisata religi di Jawa Timur. 

Baca Juga : Paslon Pilwali Kediri Vinanda dan Gus Qowim Dapat Pesan Peningkatan Industri Pariwisata dari Jokowi

Risma, yang dikenal sebagai pemimpin tegas dan tulus, juga memiliki sejarah panjang dalam memberantas masalah sosial. Salah satu prestasi besarnya adalah menutup lokalisasi Dolly di Surabaya pada 2014, yang merupakan kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Kebijakan ini menjadikan Risma sebagai salah satu dari 50 pemimpin terbaik dunia versi Fortune pada 2015, dan wali kota terbaik ketiga dunia menurut World Mayor Project. 

Keputusan Risma untuk memilih Gus Hans sebagai pendampingnya diharapkan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan elektabilitas di Jawa Timur. Pasangan ini dikenal memiliki rekam jejak yang bersih dan komitmen yang kuat terhadap pemberantasan korupsi. “Dengan mengusung slogan ‘Jatim Bersih’, Risma-Gus Hans diharapkan dapat membawa perubahan yang lebih baik di provinsi ini,” ujar Abdul Aziz. 

Di berbagai kesempatan kampanye, Risma dan Gus Hans selalu menegaskan komitmen mereka terhadap pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi. Seorang kolega saat diskusi di Jawa Pos TV berkomentar skeptis, "Ibu Risma hanya memimpin satu kota, sedangkan Jawa Timur punya 38 kota dan kabupaten. Khofifahlah yang berpengalaman." Namun, Abdul Aziz menegaskan bahwa, meski hanya satu kota, Risma berhasil membuktikan kemampuannya dengan segudang prestasi di tingkat dunia.

"Yang ia katakan tidak salah, benar. Namun, walaupun satu Kota, dengan karakter kepemimpinan yang kokoh dan progresif memimpin Kota Surabaya, Ibu Risma masuk jajaran 50 pemimpin terbaik dunia dan Wali Kota terbaik ketiga di dunia. Dan, Surabaya itu, Ibu Kota Provinsi. Artinya, jantungnya Jawa Timur," pungkas Abdul Aziz. 


Topik

Politik, Pilgub Jatim, Tri Rismaharini, KH. Zahrul Azhar Asumta, Gus Hans,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette