Tim Pemburu Tawon Vespa "Swasta" di Tulungagung, Kerja Malam tanpa Minta Imbalan
Reporter
Anang Basso
Editor
Dede Nana
22 - Apr - 2024, 11:32
JATIMTIMES - Pasukan atau tim pemburu lebah ini bekerja di malam hari. Pemburu lebah swasta dibentuk dengan kesadaran membantu masyarakat mengevakuasi sarang lebah jenis vespa yang sering membahayakan.
Tidak tanggung-tanggung, tim pemburu lebah ini dipimpin oleh Rudhianto, yang saat ini sebagai Kepala Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung.
Baca Juga : SBY Berebut Rekom PKB Tulungagung
Tim yang terdiri dari sepuluhan orang ini, beranggotakan dari berbagai profesi yang diantaranya pengusaha dan juga kepala sekolah.
"Awalnya mengevakuasi sarang lebah di tetangga, kemudian ngobrol dan secara spontan ada ide membuat tim pemburu lebah ini," kata Edi Masruron (45) yang kesehariannya sebagai kepala sekolah, Senin (22/4/2024).
Setelah terbentuk tim dua tahun lalu, Edi tak menyangka banyaknya permintaan warga masyarakat yang membutuhkan jasanya untuk mengevakuasi sarang lebah.
"Tiap malam bisa dua atau tiga lokasi, awalnya di desa sendiri. Lama-lama permintaan datang dari desa tetangga bahkan di jecamatan lain yang lokasinya jauh," ujarnya.
Karena dianggap sebagai hobby dan niat membantu masyarakat, tim pemburu lebah ini tidak pernah meminta atau menerima imbalan.
"Kita tidak menerima atau meminta imbalan apapun. Niat kita murni menolong," imbuhnya.
Dalam melakukan aksi melawan koloni lebah yang berbahaya ini, setidaknya ada tiga cara yang dilakukan saat evakuasi lebah.
"Perlakuannya tidak sama, tergantung tempat dan jenis lebah dan sarangnya," bebernya.
Menurut Edi, tawon vespa jenisnya beberapa macam. Jika sarangnya menempel dan ukurannya makin besar, jumlah penghuninya dapat mencapai ribuan dan sengatannya berbahaya.
Baca Juga : Pembukaan Pelatihan Kerja Disnaker Situbondo 2024, 16 Difabel Lolos Seleksi
"Di sini dikenal dengan tawon vespa saja. Sengatannya menyakitkan dan sarangnya kuat karena menempel berlapis-lapis," ungkapnya.
Tawon lain yang oleh masyarakat disebut dengan istilah tawon ndas, ukuran sarangnya tidak akan sebesar vespa. Sarang tawon ndas menggantung mirip tangkai buah dan jika di evaluasi lebih mudah.
"Sebelum evakuasi, biasanya kita kenali struktur dan tekstur sarangnya dulu," tambahnya.
Tawon ndas, evakuasinya cukup menggunakan kantong atau karung. Rumah atau sarang dimasukkan ke karung lalu dengan pelan-pelan ditarik hingga sarang dan penghuninya masuk semua lalu ditutup rapat.
Namun jika jenisnya vespa, rumah tawon ada yang harus dibakar atau ditutup pintu sarangnya, lalu disemprot dengan cairan gas berisi pertalite atau pertamak. Setelah didalam tawon mati, baru sarang dibungkus karung lalu rumahnya dihancurkan untuk dibersihkan.
"Karena biasanya sarang tawon ini dikonsumsi, maka yang menggunakan semprotan ini berpengaruh pada rasa saat dimasak. Jadi yang enak yang dievakuasi tanpa minyak, tolo (rumah dan anak tawon) rasanya gurih dan enak jika dimasak," jelasnya.
Keberadaan pemburu lebah atau tawon ini, bertujuan membantu tugas Damkar yang juga sering melakukan kegiatan yang sama. Biasanya, aduan ke Damkar karena menunggu giliran cukup lama, masyarakat menggunakan jasa tim ini agar evakuasinya dilakukan lebih cepat.
