Asal Usul Semarang Dapat Julukan Kota Banjir, Dulunya Pelabuhan Mataram Kuno
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Nurlayla Ratri
14 - Mar - 2024, 07:03
JATIMTIMES - Semarang, ibu kota Jawa Tengah yang nasibnya serupa dengan ibu kota negara yakni Jakarta. Seperti biasa, saat musim penghujan yang cukup tinggi di wilayah Indonesia, resiko banjir bagi Semarang bukan lagi dianggap aneh.
Berbagai lini massa ramai dengan unggahan rekaman foto maupun video yang memperlihatkan Kota Semarang diterjang banjir, pada Kamis (14/3).
Baca Juga : Perketat Aturan Jastip, Bea Cukai Batasi Barang Bawaan Penumpang dari Luar Negeri
Warga Kota Semarang pun sudah terbiasa dengan kondisi banjir. Bukan hanya hujan yang deras, bahkan saat cuaca cerah namun tiba-tiba terjadi banjir rob juga hal biasa terjadi di Semarang. Oleh karenanya Semarang dikenal sebagai kota banjir di Jawa Tengah.
Rupanya sejarah Kota Semarang yang identik dengan banjir sudah dikenal sejak berabad-abad silam. Pada zaman dahulu, rupanya Kota Semarang adalah sebuah lautan pesisir yang menjadi daratan.Tak heran, air laut pun yang sedari dulu ada kini mencari jalannya sendiri untuk kembali bermuara di Kota Semarang.
Bahkan musisi keroncong Waljinah pun mencantumkan lirik lagu tentang Semarang yang dikenal sebagai kota banjir. Hal ini bisa dilihat dari sebaris liriknya “Semarang kaline banjir”.
Penggalan Semarang itu pun dinilai oleh beberapa kalangan sebagai bentuk perhatian Waljinah terhadap persoalan banjir di Kota Semarang yang tidak pernah tuntas.
Seperti dikutip dari situs resmi Geologi.co.id, sejarah Kota Semarang Jawa Tengah berawal kurang lebih pada Abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota).
Pragota merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil.
Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Di mana bagian kota Semarang Bawah yang dikenal saat ini, dulunya adalah sebuah laut.
Pada akhir abad ke-15 M Pangeran Made Pandan, menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Seiring berjalannya waktu, daerah tersebut semakin subur. Kemudian dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga daerah tersebut diberi nama Semarang.
Baca Juga : Kisah Pilu Pangeran Martapura, Raja Mataram Tersingkat Hanya Berkuasa 24 Jam
Pada masa lampau ketinggian air sungai Semarang menjadi berkah. Pasalnya kapal-kapal yang masuk dari laut bisa berlayar aman jauh ke hulu.
Seiring dengan pertambahan warga kota dan perluasan area pemukiman, air berlebih justru menjadi momok bagi warga. Karena banjir bisa menghancurkan rumah warga.
Wilayah Semarang terdiri dari dataran rendah di sebelah utara dan daerah perbukitan di sebelah selatan yang mencapai 350 meter di atas permukaan laut. Lantas pada zaman Belanda disusun konsep pengendali banjir dengan membangun Banjir Kanal Barat (BKB) pada tahun 1879 dan Banjir Kanal Timur (BKT) tahun 1890an.
BKB dan BKT itulah yang menjadi penangkal banjir di Kota Semarang saat debit sungai sedang tinggi. Selain untuk mengatasi permasalahan banjir, kanalisasi yang dibangun pemerintah Hindia-Belanda dimanfaatkan juga bisa digunakan petani untuk mengairi lahan pertanian di Kota Semarang.
Berdasarkan beberapa penelitian penurunan permukaan tanah di kawasan pesisir Kota Semarang sudah mencapai lebih dari 10 sentimeter setiap tahun. Penurunan permukaan tanah di kawasan pesisir Kota Semarang diperparah karena adanya pengambilan air tanah yang eksploitatif.
Selain itu, penyebab lainnya yakni karena adanya pembebanan bangunan. Pasalnya kawasan pesisir Kota Semarang itu dinilai masih tanah muda, yang artinya mengalami pemampatan terus menerus. Jadi tanpa ada beban pun sebenarnya tanahnya akan menurun. Belum lagi kalau ada beban di atasnya.
