Pupuk Subsidi Sulit, Polsek Arjasa Situbondo Panggil Gapoktan dan Pemilik Kios

19 - Jan - 2024, 12:00

Ilustrasi pengecekan Pupuk Subsidi oleh KP3 Kabupaten Situbondo. (Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES)


JATIMTIMES - Pengurangan jatah pupuk bersubsidi hingga 50 persen di semua daerah berdampak pada sulitnya petani mendapatkan pupuk bersubsidi. Hal itu juga terjadi di Kabupaten Situbondo.

Selain sulit mendapatkan pupuk bersubsidi, sejumlah petani di Kecamatan Arjasa mengaku harus membeli pupuk bersubsidi dengan harga lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET). Musi, bukan nama sebenarnya, salah satu petani di kecamatan tersebut malah mengaku membeli pupuk bersubsidi dengan harga Rp 150 ribu  padahal batas HET Rp 112 ribu per 50 kg.

Baca Juga : Bikin Lansia Celaka di Jaksel, Ganjar Setuju Bersihkan Atribut Kampanye

 

"Kami petani tidak pernah tahu kapan jadwal pupuk datang dan berapa jumlah yang datang. Kami tahunya kalau sudah dihubungi. Itu pun kalau yang datang 1 ton  paling yang keluar hanya separuhnya. Harganya ya pun lumayan saya beli 150 ribu per 50 kg," ujar dia, Kamis (18/1/2024).

Selain itu  Musi curiga pupuk subsidi di wilayahnya dijual untuk orang luar wilayah dengan harga diatas HET walaupun tidak terdaftar di Sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok atau e-RDKK. 
"Masa saya pernah mau ngambil  katanya jatah pupuknya sudah tidak ada. Padahal saya belum ngambil jatah saya. Coba kasih saya batas waktu pengambilan sampai kapan dari barang datang kan enak, kok bisa habis jatah saya," pungkasnya.

Berdasarkan hal tersebut, AKP Kusmiyani selaku kapolsek Arjasa langsung memanggil sejumlah gapoktan (gabungan kelompok tani)  dan pemilik kios yang menjual pupuk bersubsidi guna melakukan konfirmasi dan meminta keterangan terkait keluhan petani tersebut.

"Karena banyak petani yang mengeluh pupuk subsidi langkah, tadi sudah kami panggil dan hadir di polsek, gapoktan dan kios. Kami mintai keterangan terkait kenapa petani di wilayah kami kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi," ujar  AKP Kusmiyani.

Selain itu, AKP Kusmiyani mengungkapkan tidak ada kios yang menjual pupuk subsidi di atas HET Rp 112 ribu. Juga berdasarkan pengakuan beberapa gapoktan dan kios, banyak petani yang ingin membeli pupuk bersubsidi namun tidak atau belum terdaftar di e-RDKK.

Baca Juga : Ingatkan Anggota PGRI Tak Terlibat Politik Praktis, Bupati Situbondo: Jaga Profesionalisme dan Etika Guru

 

"Kami mengimbau semua kios yang ada di eilayah Kecamatan Arjasa jangan menjual pupuk bersubsidi untuk warga luar dan jangan menjual pupuk kepada petani yang tidak terdaftar di e-RDKK," ucapnya.

Tidak hanya itu. Mantan kapolsek Panarukan itu juga mengatakan jika ada petani yang terdaftar di e-RDKK namun ternyata sawahnya sudah disewakan ke orang lain sehingga pupuk tidak diambil, maka penyewa sawah tersebut tidak berhak menerima pupuk jatah yang menyewakan.

"Kalau pupuk tidak diambil di kios sesuai aturannya harus dikembalikan kepada distributor dan jangan dijual kepada orang lain karena bisa dipidanakan apalagi sampai menjual di atas HET yang sudah ditentukan," pungkasnya.


Topik

Peristiwa, ,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette