15 Tahun Tak Tersentuh, Candi Pemujaan Era Majapahit di Jombang Kembali Diekskavasi
Reporter
Adi Rosul
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
06 - Dec - 2022, 01:54
JATIMTIMES - Situs Pundong di Jombang kembali diekskavasi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim setelah 15 tahun tidak tersentuh perawatan. Bangunan purbakala yang digali tersebut berupa candi pemujaan era kerajaan Majapahit.
Situs Pundong ini berada di tengah-tengah pemukiman warga Dusun Watu Tangi, Desa Pundong, Kecamatan Diwek. Tepatnya berada di halaman belakang rumah Sunhaji (66).
Baca Juga : Lulus Kejar Paket A dan B, Wisuda 85 RT dan RW Dihadiri Bupati Jember
Bangunan purbakala tersebut sejatinya sudah pernah digali pada tahun 2007 lalu oleh BPCB Jatim saat itu. Penggalian arkeologis waktu itu, baru berhasil menampakan permukaan bangunan berbentuk bujur sangkar dengan luas 5x5 meter. Dimana di tengahnya terdapat sumuran candi berukuran 1,75 × 1,75 cm dengan kedalaman sumuran 180 cm.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Pundong Pahadi mengatakan, dari hasil tes PIT (pile integrity testing) tahun 2007 lalu, ditemukan adanya struktur candi dengan ketinggian mencapai 160 cm. Oleh karena itu, ekskavasi selama 14 hari sejak tanggal 28 November - 12 Desember 2022 ini akan fokus untuk menampakkan struktur utama Situs Pundong pada luas lahan 100 meter persegi.
"Ekskavasi kali ini sebenarnya yang kita fokuskan adalah menampakkan struktur utama Situs Pundong. Yaitu menampakkan semua sisi dari struktur candinya," ujarnya kepada wartawan di lokasi, Senin (05/12/2022).
Pahadi menjelaskan, awalnya ia mengejar struktur yang diduga terpendam di sisi selatan dan timur bangunan utama candi. Dengan harapan mendapatkan bangunan pendukung candi seperti pagar keliling ataupun perawara.
Namun dalam perjalanan ekskavasi tahap dua Situs Pundong ini, tim arkeolog mendapatkan hambatan. Yaitu derasnya air yang keluar dari tanah sehingga harus terus disedot dengan pompa air. Dan juga tebalnya pasir aluvial atau endapan material gunung berapi yang melapisi tanah di lahan tersebut. Pasir aluvial ini kerap kali melongsorkan lapisan tanah di sekitarnya saat tim melakukan penggalian.
"Tetapi dengan kondisi seperti ini akhirnya kita putuskan untuk menggali kembali struktur utamanya," tandasnya.
Di hari ketujuh ekskavasi ini, lanjut Pahadi, pihaknya baru berhasil menggali sedalam 1 meter di sisi selatan, timur dan sebagian sisi utara dari struktur candi di Situs Pundong. Hasilnya, tinggi candi baru bisa ditampakan setinggi 1 meter saja. Yaitu berupa kaki candi yang tersusun dari bata merah kuno.
Di setiap sisi dinding dari kaki candi terdapat panel yang berfungsi untuk meletakan relif candi. Namun, tidak ditemukan relief pada Situs Pundong ini. Selain itu, Pahadi juga belum berhasil menemukan struktur trap tangga untuk masuk ke dalam candi.
Baca Juga : Gelapkan Uang Perusahaan Rp 19,5 Juta, Karyawan Koperasi di Jombang Dibui
"Umumnya itu ditatahkan relief. Tetapi kita lihat panel relief itu masih kosong. Jadi kemungkinan memang belum seratus persen selesai. Anomali ini juga ada kita temukan di candi-candi di Jawa Timur. Seperti di Candi Singosari ini ada panel-panel kotak itu masih kosong. Karena pengerjaan ornamen hias itu dikerjakan mulai dari atas ke bawah," terangnya.
Candi di Situs Pundong ini semua struktur tersusun oleh batu merah kuno dengan dimensi bervariasi, yakni 32-36 × 20-24 x 6-8 cm. Melihat ukuran bata penyusunnya itu, Pahadi menduga bangunan purbakala itu dibuat pada masa kerajaan Majapahit. "Kalau lihat dari dimensi bata, arahnya ke Majapahit memang. Walaupun kita belum menemukan data pendukungnya, seperti arca atau batu angka tahun," ucapnya.
Sementara, Pahadi juga menduga candi di Situs Pundong ini difungsikan sebagai pemujaan agama tertentu di era kerajaan Majapahit. Meski tidak ditemukan Yoni dan juga arca sebagai lambang dewa yang dipuja, namun indikasi candi di Situs Pundong sebagai tempat pemujaan adalah adanya temuan peripih pada 2007 silam.
Peripih yang ditemukan berbentuk kotak berbahan batu andesit dengan ukuran 18,5 × 18,5 × 13,5 cm. Umumnya, peripih berisi perhiasan dan biji-bijian yang disimpan di dalam sumuran candi sebagai nilai penarik daya magis atau kesakralan candi. Namun, saat ditemukan pada 15 tahun lalu, isi peripih sudah hilang.
"Dimungkinkan memang adalah bangunan untuk pemujaan. Salah satu tanda bahwa candi itu diperuntukkan sebagai pemujaan atau pendarmaan adalah dibuatkan sumuran dan disimpan di situ peripih sebagai nilai kesakralan candi. Di Pundong ini kita belum menemukan arca yang dihubungkan dengan tokoh tertentu. Maka asumsi awal kita ini merupakan tempat suci untuk pemujaan," pungkasnya.(*)
