Sidang Paripurna Hari Jadi Jombang, Pidato Bupati Sarat Filosofi

Reporter

Adi Rosul

Editor

Yunan Helmy

21 - Oct - 2022, 03:29

Bupati Jombang Mundjidah Wahab saat menyampaikan pidato di sidang psripurna DPRD Jombang. (Foto : Dokumentasi Pemkab Jombang)


JATIMTIMES - Bupati Jombang Mundjidah Wahab meyampaikan pidato Hari Jadi Ke-112 Kabupaten Jombang dalam sidang paripurna DPRD Jombang. Pidato yang disampaikan bupati perempuan pertama di Jombang ini sarat filosofi. Untuk itu, ia meminta semua pihak meneladani peristiwa bersejarah berdirinya Kabupaten Jombang.

Pidato resmi Bupati Jombang kali ini serasa istimewa. Pasalnya, baru kali ini pidato peringatan Hari Jadi Jombang disampaikan di sidang paripurna DPRD Jombang pada Kamis (20/10/2022).

Baca Juga : Geliatkan Perekonomian Pasar Rakyat, Ini Strategi Kepala Diskopindag Kota Malang yang Baru

Mengawali pidatonya, Mundjidah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pimpinan DPRD dan semua anggota legislatif atas penyelenggaraan sidang paripurna tersebut. Menurut dia, sidang paripurna seperti ini baru pertama diselenggarakan untuk memberikan makna dan arti penting bagi hari jadi sebuah daerah oleh masyarakat dan rakyatnya.

Juga, apresiasi setinggi-tingginya disampaikan bupati kepada aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, alim ulama dan cendekiawan serta seluruh elemen masyarakat Kabupaten Jombang yang telah mendorong terbangunnya suasana kondusif di Kota Santri ini. 

"Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kiranya  kami sampaikan bahwa momentum peringatan hari jadi ini telah menjadi starting point bagi legislatif dalam membuat sejarah dan warna baru penyelenggaraan hari jadi yang tidak hanya semarak dengan even seremonial saja, tetapi juga menjadi bagian dari sidang paripurna tahunan yang nantinya bisa sebagai sebuah agenda rutin Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang," kata Mundjidah mengawali sambutannya.

Dijelaskan Mundjidah, penetapan Hari Jadi Jombang telah disepakati bersama jatuh pada setiap tanggal 21 Oktober yang didasarkan atas bukti dokumen yang kuat dan jelas, yaitu dokumen dari Pemerintah Hindia Belanda Nomor 553 yang menjelaskan tentang penghapusan Kabupaten Sidayu dan pemecahan Kabupaten Mojokerto menjadi Kabupaten Mojokerto dan Jombang dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 25 tanggal 21 Oktober 1910.

"Bagi eksekutif, peringatan Hari Jadi Ke-112 Jombang ini akan menjadi sangat istimewa. Karena sejak ditetapkannya Hari Jadi Jombang pada 3 tahun lalu melalui Peraturan Bupati Jombang Nomor 63 tahun 2019, pada tahun ini baru bisa diperingati bersama. Itu lantaran 2 tahun terakhir tengah mengalami pandemi covid-19," ucapnya.

Memperingati hari lahirnya Jombang, kata Mundjidah, secara filosofis bermakna retrospektif. Yaitu reflektif, introspektif dan prospektif. Reflektif artinya dengan peringatan itu bisa jadi pelajaran sebagai sebuah mata rantai sejarah. Dan sebuah masa lalu adalah fondasi yang sangat bernilai sebagai referensi untuk menapaki masa kini dan masa depan.

Introspektif artinya peringatan ini dijadikan sebagai sarana mawas diri atau introspeksi diri. Dengan demikian, setiap etape perjalanan kehidupan ini selalu bermakna karena mampu memberikan jawaban atas persoalan kekinian serta responsif dengan tantangan ke depan.

Sedangkan prospektif artinya  perayaan ini bisa menjadikan desain atau merancang sebuah formula masa depan berlandaskan realita dan dinamika kekinian tanpa melupakan nilai-nilai dan peristiwa bersejarah di masa lalu.

Baca Juga : Peringatan Dini 3 Harian Jatim, Waspadai Banjir Level Siaga dan Waspada

 

"Pada kesempatan ini kami ingin sampaikan, banyak nilai yang dapat kita ambil dan kita petik dari sejarah lepasnya Kabupaten Jombang dari Kabupaten Mojokerto pada tahun 1910. Nilai-nilai ini bisa kita wariskan kepada para generasi muda sebagai calon-calon pemimpin di masa yang akan datang," tandasnya.

Nilai-nilai tersebut antara lain Kemandirian. Lepasnya Kabupaten Jombang dari Kabupaten Mojokerto menandakan sebagai tonggak awal didalam mengurus lemerintahan secara mandiri. Menentukan kebijakan pemerintahan yang tidak dipengaruhi oleh kekuatan luar melainkan mengatur secara mandiri pengelolaan sumber daya yang ada secara optimal untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.

Tekad untuk maju, dengan adanya kemandirian dalam pengelolaan pemerintahan dan dalam rangka menjawab tantangan dan persoalan masa depan maka kita dituntut mempunyai tekad yang kuat untuk maju dan semangat untuk terus melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Keyakinan yang kuat, dengan semangat tekad yang kuat melakukan perubahan-perubahan tentunya kita harus dibekali dengan keyakinan yang kuat bahwa kita bisa sejajar dengan kabupaten lain bahkan bisa lebih unggul.

"Ketiga nilai inilah yang wajib kita punyai khususnya para generasi muda agar cita-cita para founding father Kabupaten Jombang bisa diwujudkan. Peringatan Hari Jadi Pemkab Jombang, ibarat kita memegang busur dan anak panah. Untuk mencapai cita-cita yang dituju dimasa depan dengan keinginan capaian yang sejauh-jauhnya, maka kita harus tarik anak panah itu jauh ke belakang," imbuhnya. (*)


Topik

Advertorial, ,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette