Kediri di Atas Peninggalan Puing-Puing Sejarah, Terkubur Lahar Gunung Kelud
Reporter
Eko Arif Setiono
Editor
A Yahya
10 - Oct - 2020, 03:33
Daerah Kediri, Jawa Timur mempunyai peran penting dalam perkembangan sejarah di Indonesia. Sejumlah temuan benda-benda bersejarah menjadi saksi bisu atas adanya peradaban di era zaman kuno saat itu, dan kini menyisakan sebuah cerita dan menjadi asal-usul atau silsilah. Tapi sayang, jejaknya banyak yang terkubur oleh lahar letusan Gunung Kelud.
Bila membicarakan tentang sejarah nasional, terutama di era kuno maupun era klasik, nama Kediri tak bisa dilepaskan begitu saja. Sebaliknya, wilayah yang berada di lereng Gunung Kelud ini punya peran yang sangat vital, terutama dalam menunjukkan adanya peradaban-peradaban besar di nusantara.
Baca Juga : Viral Sepekan di Tulungagung: Indahnya Kupu-kupu, Banjir di Gambiran, dan Teka-Teki Siswi SLTP Dihamili
Sebagai penguat, temuan-temuan bersejarah tersebut bertebaran. Baik itu di wilayah Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri. Bahkan, ada penelitian yang mengindikasikan adanya keterkaitan antara penemuan-penemuan itu.
Menariknya pula, berbagai temuan itu berasal dari periodesasi yang berbeda. Mulai Mataram Kuno, Kadiri, hingga Majapahit. Menjadi bukti bahwa wilayah ini selalu punya peran penting di berbagai era kerajaan besar.
Semua bukti itu bisa dijumpai di seluruh kecamatan. Sebagian situs-situs bisa ditemukan di permukaan. Sebagian yang lain harus digali karena tertimbun di kedalaman bumi. Dengan kata lain, di bawah tanah Kediri yang kita injak ini sangat mungkin ada bukti-bukti peradaban yang terpendam. Sebagai Ibaratnya seperti Pompei yang terkubur oleh letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi.
Menganalogikan antara peradaban terpendam di Kediri dengan tragedi hancurnya Pompei ada benarnya. Sebab, peradaban besar di masa kuno itu juga terkubur akibat letusan gunung. Yaitu letusan Gunung Kampud, yang pada masa kini disebut sebagai Gunung Kelud.
Sejauh ini, benda kuno yang ditemukan juga bermacam-macam. Mulai dari prasasti, arca dewa, struktur bata, candi, petirtaan, dan serpihan benda kuno yang diduga peralatan kuno.
Ditemukan pula tata kelola kehidupan masyarakat di zaman kuno. Seperti sistem pengairan yang menjadi penopang pertanian. Pada masa itu pertanian merupakan penopang utama tata kehidupan masyarakat. Semuanya melengkapi bukti sejarah kejayaan peradaban kala itu.
Terpendamnya bukti-bukti sejarah itu tak terlepas dari aktivitas vulkanik Gunung Kelud. Aliran laharnya bisa menyapu hingga Sungai Brantas. Membuat semua bangunan yang dilewati hancur. Hanya menyisakan beberapa bagian saja.
Fakta seperti itu diungkapkan oleh arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Nugroho Harjo Lukito. Menurut sang arkeolog, akibat letusan Gunung Kelud itu banyak bangunan masa kerajaan yang tertimbun.
“Ada yang (tertimbun) hanya separo (setengah). Ada juga yang tertimbun penuh. Dan itu yang belum banyak diketahui. Terutama di lereng sisi utara Gunung Kelud,” ungkapnya.
Nugroho menambahkan, peradaban di wilayah Kediri tak lepas dari keberadaan Gunung Kelud. Gunung itu menjadi satu dari tujuh gunung suci di Jawa. Sebagai gunung suci, gunung yang dulu disebut Kampud ini berperan penting dalam keyakinan masyarakat zaman Hindu-Budha saat itu.
“Mereka membuat banyak sekali candi di sekitar Gunung Kelud secara merata. Mulai dari selatan, timur utara, dan barat. Hampir semuanya dikelilingi bangunan suci,” ujarnya.
Pendirian tempat suci itu juga punya tujuan. Agar wilayah sekitar Kelud terhindar dari bencana. Kalaupun ada bencana, pengharapan lainnya adalah tetap diberi kemakmuran.
Cerita tentang Gunung Kelud, lanjut Nugroho, ada di dalam Kitab Negarakertagama. “Artinya bahwa Gunung Kelud atau Kampud itu dianggap sebagai salah satu dari 7 gunung suci di Pulau Jawa,” jelasnya.
Terkait peninggalan bersejarah itu, wujudnya saat ini bervariasi. Ada yang dalam kondisi baik dan berada di permukaan tanah. Ada juga yang terpendam di kedalaman tanah.
Bahkan, ada yang terpendam lebih dari lima meter. Seperti temuan Candi Kepung. Peninggalan berupa petirtaan kuno ini terpendam di kedalaman 7 meter. Setelah di-ekskavasi pada 1980-an, candi yang ada di Dusun Jatimulyo, Desa Kepung yang dekat dengan aliran Kali Serinjing itu ditimbun lagi. Beberapa arca dan benda lainnya diamankan di Museum Trowulan.
Candi atau Petirtaan Kepung ini salah satu penemuan istimewa. Strukturnya terpendam akibat letusan Gunung Kelud. Dari pengamatan terhadap stratigrafi yang menutup situs Jatimulyo yang dilakukan oleh Tony Djubiantono pada 1984, sedimen yang menutup situs ini terdiri dari empat lapisan. Yang merupakan satuan batuan vulkanik.
Demikian pula beberapa temuan lain. Rata-rata terpendam dengan dugaan akibat material vulkanik Gunung Kelud. Seperti kompleks Candi Tondowongso di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, kemudian Situs Adan-adan dan Candi Dorok di Desa Manggis, Kecamatan Puncu.
Yang terbaru, penemuan struktur yang diduga gerbang ke kawasan tempat peribadatan di aliran lahar Kelud di Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu. Termasuk temuan di Watu Tulis, Desa Brumbung, Kecamatan Kepung yang disinyalir terpendam akibat aktivitas gunung berapi yang terakhir meletus pada 2014 tersebut.
Sementara bukti peradaban tertua di wilayah Kediri adalah penemuan Prasasti Harinjing dari Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung. Prasasti itu dikeluarkan oleh Rakai Layang Dyah Tulodhong, Raja Mataram Kuno pada 804 Masehi.
“Dan Harinjing ini adalah prasasti pertama di Indonesia yang ditemukan dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno,” ujar Kasi Museum dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Eko Priyatno.
Prasasti dengan bahasa Jawa Kuno menjadi sesuatu yang baru masa itu. Sebelumnya pada masa yang sama, rata-rata penulisan prasasti saat itu menggunakan aksara Jawa kuno dengan bahasa sansekerta.
“Jadi (bahasa) Jawa Kuno muncul muncul ya dari Prasasti Harinjing ini,” ungkapnya.
Baca Juga : Motif Tirto Telogo, Corak Khas Batik Tulis di Kampung Berusia 1085 Tahun di Malang
Sejauh ini Eko menyebut bahwa cagar budaya di Kabupaten Kediri yang usianya paling tua ada di wilayah timur. Seperti Kecamatan Puncu, Kepung, dan Kandangan. “Di kawasan ini penemuan objek cagar budaya, kalau kami lihat rata-rata memang lebih tua secara periodisasinya,” jelas Eko.
Termasuk cagar budaya yang ada di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, yakni Candi Sapto. Bahan yang digunakan juga hampir sama dengan cagar budaya di kawasan timur Kabupaten Kediri. “Dulu memang satu kesatuan wilayah, hanya saja saat ini terpisah secara administrasi,” tandasnya. Termasuk Prasasti Hantang yang pernah ditemukan di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang juga termasuk prasasti tua yang dibuat di era Raja Jayabaya.
Lebih lanjut, ia pun menyebut, ada beberapa situs yang nantinya akan digunakan sebagai wahana wisata. Seperti pada situs Adan-adan dan Tondowongso.
"Keduanya rencananya akan kita buka sebagai edukasi terutama terhadap para pelajar. Dua situs ini sebenarnya memberikan pembelajaran bagi kita. Dimana pada zaman tersebut sudah terjalin komunikasi dan kehidupan yang baik antara umat beragama Hindu-Budha".
"Karena diketahui, situs Adan-adan merupakan bangunan Hindu, sedangkan Tondowongso merupakan bangunan Budha," terangnya.
Berikut beberapa contoh situs temuan di Kediri :
Arca Totok Kerot
Situs Arca Tothok Kerot merupakan situs Arca Dwarapala. Nama Tothok Kerot diambil dari legenda masyarakat setempat yang meyakini adanya legenda putri lodaya yang melatarbelakangi keberadaan arca dwarapala ini.
Arca Totok Kerot merupakan prasasti zaman Raja Sri Aji di Lodaya, Kerajaan Pamenang. Konon kabarnya, dulu ada seorang putri cantik dari Blitar. Sang putri, waktu itu datang ke Pamenang untuk melamar Joyoboyo, yang sangat tersohor kedigdayaannya. Malang bagi sang putri, karena Joyoboyo menolak lamaran itu.
Akhirnya, terjadilah pertempuran hebat di antara keduanya. Karena kalah sakti, putri cantik itu mendapat kutukan dari Joyoboyo, dan berubahlah ia menjadi raksasa wanita berbentuk Dwarapala. Patung raksasa itulah yang hingga kini dikenal sebagai arca Totok Kerot.
Arca ini dulunya terpendam dalam tanah. Karena oleh penduduk, di tempat tersebut dikabarkan ada benda besar, maka pada 1981 lokasi itu digali. Hingga akhirnya, arca itu muncul separuh. Entah pada tahun berapa dilakukan penggalian ulang yang jelas saat tahun 2005, patung tersebut telah muncul secara utuh di atas permukaan tanah.
Arti kata Dwarapala berasal dari gabungan dua suku kata yaitu Dwara (Dvara) yang berarti pintu dan Pala (Pala) berarti penjaga, sehingga Dwarapala diartikan menjadi penjaga pintu. Margaret dan James Stutley (1977: 83-84) menyatakan bahwa Dwara artinya pintu atau gerbang, yang dalam dalam mitologi Hindu memiliki makna simbolik tinggi, karena merupakan pintu masuk ke tempat yang penting seperti candi, istana atau rumah. Dalam konteks ritual, semua pintu merupakan petunjuk ke sesuatu yang baik.
Aeca Tothok Kerot ini berada di dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu. Menghadap ke barat, dan digambarkan sebagai sosok raksasa menyeramkan berambut panjang terurai, posisi badan jongkok dengan kaki kiri dilipat. Atribut yang digunakan arca ini antara lain : upawita, kelat bahu, gelang kaki, dan giwang masing-masing dominan menggunakan ragam hias tengkorak. Meskipun tidak ada catatan yang dapat menjelaskan tentang asal-usul arca ini, namun dari langgam pengarcaan dan ragam hias yang dipahatkan dapat digunakan sebagai indikasi jika arca Tothok Kerot ini berasal dari masa Kadiri (1042-1222 Masehi).
Situs Adan Adan
Situs Adan-adan (ada yang menyebut Situs Candi Gempur) merupakan salah satu lokasi situs arkeologi berupa temuan benda bersejarah seperti batuan fondasi candi, makara, sistem pertirtaan (pengairan) berupa (diduga) embung, pecahan keramik dan beberapa patung (arca) peninggalan era Kerajaan Kadiri dan Singosari yang terletak di Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Temuan situs ini berada di sekitar pemukiman penduduk yang juga berdekatan dengan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Serinjing yang menjadi daerah aliran lahar dingin Gunung Kelud. Kuat dugaan, situs ini tertimbun lapisan abu vulkanik setebal 11 lapisan dari Gunung Kelud sebelum ditemukan.
Selain itu, pembangunan candi ini sempat terganggu oleh beberapa bencana seperti letusan Gunung Kelud dan banjir besar dari (dugaan sementara) aliran Kali Serinjing. Tim yang bertanggung jawab atas temuan situs ini adalah Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas).
Tim menemukan struktur bangunan candi dari bahan batu dan bata dengan sudut berukuran 8 X 8 meter. Menurut penelitian tim tersebut, situs ini dibangun pada Abad ke-11 meskipun wilayah Kediri dan sekitarnya memang sudah menjadi pusat kebudayaan sejak era Mpu Sindok pada Abad ke-9. Bahkan, ada sumber yang menyebut situs ini memiliki usia sama dengan era Kerajaan Mataram Kuno. Merujuk pada temuan tahun 2016 dan 2017, akan ada rencana ekskavasi besar-besaran pada tahun 2019 Meskipun demikian, ketika ditemukan benda arkeologi pada situs tersebut telah dilakukan penimbunan tanah oleh Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Harapan dari tim peneliti adalah juga ditemukannya vihara di dekat lokasi situs karena ada temuan berupa sistem pertirtaan. Selain di Desa Adan-adan, temuan serupa juga ditemukan di Desa Wonorejo, Semanding, Kecamatan Pagu, Kediri . Temuan batuan di Desa Wonorejo sendiri dianggap tidak lazim karena bentuk batuan yang ditemukan berupa oktagonal (segi delapan)
Sebenarnya, pernah ada penggalian serupa yang dilakukan oleh BP3 Trowulan pada dekade 1990-an yang merujuk pada temuan Makara di kawasan ini pada tahun 1970-an. Akan tetapi, ketika dilakukan penggalian pada saat itu, terjadi banyak peristiwa aneh seperti dasar batuan yang amblas dari sebelumnya 3 meter menjadi 5 meter hingga warga lokal yang gila karena buang air kecil di lokasi sekitar situs.
Selain itu, warga lokal berupaya menjaga kemurnian dan kesucian dari situs ini ketika pertama kali ditemukan sebelum diputuskan untuk dibuka secara umum pada tahun 2016. Selain itu, menurut Novi Bahrul Munib (arkeolog dari Kediri), bendera Merah Putih milik Kerajaan Majapahit diduga berasal dari situs ini karena Bendera Merah Putih milik Kerajaan Majapahit mirip dengan milik Pasukan Jayakatwang dari Kediri.
