Tak Puas Hasil Audit Bayi Meninggal di Jombang, Dewan Minta Dinkes Sanksi RS PMC

Reporter

Adi Rosul

26 - Aug - 2020, 03:05

Anggota komisi D DPRD Jombang Mustofa. (Foto: Adi Rosul/ JombangTIMES)


Tidak ada sanksi di rekomendasi hasil audit maternal perinatal (AMP) soal kasus ibu melahirkan tanpa bantuan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Pelengkap Medical Center (RS PMC), hingga bayi meninggal dunia. Hal itu membuat kecewa anggota DPRD Jombang karena dinilai tidak memuaskan.

Hal tersebut disampaikan oleh anggota Komisi D DPRD Jombang Mustofa. Ia merasa tidak puas dengan hasil audit maternal perinatal (AMP) yang hanya berujung rekomendasi untuk perbaikan fasilitas pelayanan kesehatan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.

 

Baca Juga : Sebut Petugas Puskesmas Perlu Dirukyah dan Disekolahkan Lagi, Postingan Akun Ini Viral

"Kalau saya ya tidak puas. Harusnya ada pemaparan kronologis. Kalau Dinkes merekomendasikan poin-poin ke yankes (pelayanan kesehatan, red) dan nakes (tenaga kesehatan, red), maka berarti ini ada kejadian sebenarnya di sana. Harus ditelusuri kejadian itu," ujarnya saat dihubungi wartawan, Selasa (25/8).

 

Rekomendasi AMP keluar pada Senin (24/8). Isi dalam rekomendasi tidak sama sekali menyebutkan sanksi terhadap Rumah Sakit Pelengkap Medical Center (RS PMC). Rekomendasi ini muncul setelah Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang bersama organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menggelar AMP sepekan sebelumnya, di Ruang Soeroadiningrat II, Kantor Pemkab Jombang.

 

Pada AMP itu, salah satunya membahas soal kasus bayi meninggal yang dilahirkan oleh DR (27), di RS PMC pada Selasa (4/8) dini hari. Karena direkomendasi AMP tidak ada sanksi di dalamnya, Mustopa mendorong Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang drg Subandriya agar menjatuhkan sanksi untuk RS PMC.

 

Pasalnya, Mustofa menilai RS PMC layak diberi sanksi karena kasus yang membelit rumah sakit swasta itu bukan pertama kalinya. Sebelumnya, kata Mustofa, rumah sakit tersebut juga pernah tersandung kasus dokter gadungan dan malapraktik.

"Kalau hasilnya seperti itu yang jelas kan ada kesalahan, tapi cuman bahasanya diperhalus saja. Artinya begini, masak sih dinas kesehatan dalam hal ini Bu Subandriya (Kadinkes, red) diam saja. Historisnya RS Pelengkap ini kan berkali-kali melakukan kesalahan inprosedural. Belum cukup kah, peringatan ini sudah keras. Izin pelayanannya dihentikan dulu lah, biar ada efek jera. Sebulan saja, pasti dia kelabakan," kata Mustofa.
 

Ketua DPD PKS Jombang itu, juga akan membahas hasil rekomendasi AMP di Komisi D DPRD Jombang. Menurutnya, Dinkes Jombang memiliki kewajiban untuk menyampaikan hasil rekomendasi AMP ke DPRD Jombang.

 

"Nanti kita sampaikan ke teman-teman Komisi D, nanti biar direspon ketua. Harusnya kemarin waktu audiensi, Dinkes ngomong nunggu hasil audit. Nah ini hasil audit sudah keluar, harus disampaikan ke DPRD. Jadi ada pembuka dan ada penutupan, biar ada penanggungjawaban ke rakyat," ucapnya.

 

Baca Juga : Nyaris Sebulan Stagnan, Pasien Covid-19 yang Meninggal di Malang Meningkat Jadi 46 Orang

Sekadar diketahui, DR (27), warga Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Jombang, memilih RS Pelengkap Medical Center (RS PMC) Jombang untuk persalinan anak ke duanya. Ia merasa ditelantarkan pihak rumah sakit karena tidak ada penanganan tim medis saat proses persalinan.

Istri BK (29) itu, masuk ke rumah sakit pada Selasa (4/8) pukul 01.30 WIB. Saat pertama masuk, DR diminta mejalani rapid test dan hasilnya reaktif. Karen itu, ia dipindahkan ke ruang Darusallam RS PMC. Hingga pada pukul 04.30 WIB, DR melahirkan anak ke duanya tanpa dibantu bidan atau dokter jaga saat itu.

 

Ibu DR yang mendampingi di ruang perawatan, mencoba memberitahu perawat dan petugas media lainnya. Namun, petugas medis di rumah sakit tak menggubrisnya.

 

Petugas medis baru datang setelah 30 menit bayi lahir. Hingga akhirnya, bayi yang baru dilahirkan DR itu dinyatakan meninggal dunia. Hal itu, lantas membuat kecewa DR dan keluarga karena merasa tidak ditangani atau ditelantarkan oleh pihak rumah sakit.

 

"Yang saya kecewakan itu waktu di ruang Darusallam, ketika saya kesakitan perawat terus bilang nanti jam 9 (ditangani, red). Hingga akhirnya keluar bayinya itu pun tidak langsung dilihat, baru setengah jam setelah bayi lahir baru dilihat. Kalau menurut saya, waktu bayi lahir itu tidak nangis, kalau itu langsung ditangani, langsung dikasih oksigen, dikasih penghangat ya ndak sampau kayak gitu (meninggal, red)," kata DR saat ditemui di kediamannya.(*)

 


Topik

Kesehatan, ,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette