Perjuangan Tenaga Medis di Puskesmas Licin, dokter Bobby: Fasilitas Terbatas, Wajib Berinovasi Sendiri
Reporter
Nurhadi Joyo
Editor
Dede Nana
26 - Aug - 2020, 02:24
Menghadapi pandemi wabah Covid-19 di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang berada di wilayah destinasi tujuan wisata andalan Banyuwangi Wanawisata Gunung Ijen, diperlukan kreatifitas dalam melengkapi fasilitas dan sarana prasarana kesehatannya yang sangat terbatas.
Para dokter, perawat dan tenaga medis lainnya dituntut untuk tetap menjaga diri di tengah serangan virus Covid-19.
Baca Juga : Superman Is Dead Rayakan 25 Tahun Berkarya, Galang Dukungan Pembebasan Jerinx
Hal ini yang membuat paramedis di puskesmas Licin ini melakukan inovasi dan terobosan dalam memberikan layanan kesehatan yang prima, namun juga memastikan diri dan keluarganya terlindung dari kemungkinan terjangkit virus yang belum ada obatnya.
Salah satu inovasi dalam keterbatasan adalah memanfaatkan jas hujan sekali pakai menjadi alat pelindung diri (APD).
”Kami memodifikasi jas hujan sekali pakai menjadi Alat Pelindung Diri (APD). Menggunakan masker kesehatan secara berulang-ulang karena memang langka saat itu padahal seharusnya sekali pakai. Petugas mencuci masker dengan cara ozonisasi dengan detergen maupun bahan lain untuk menjaga kebersihan dan sterilisasi pada saat dikenakan dalam memberikan layanan kesehatan bagi warga masyarakat,” ucap dokter Setya Medika Buwana yang akrab disapa dr Bobby, yang bertugas di Puskesmas Licin Banyuwangi.
Tak hanya itu, masih menurut dokter Bobby, sebagai tenaga medis yang dinas di wilayah perbatasan Kabupaten Banyuwangi-Bondowoso dan dikenal memiliki destinasi unggulan Wanawisata Gunung Ijen. Sejak awal merebaknya wabah Covid-19 melakukan antisipasi dengan membangun cek poin bagi para pendatang di Rest Area Jambu. Serta mewajibkan para tamu atau warga pendatang laporan kepada Kepala Desa (Kades) maupun Ketua RT dan RW setempat.
Disinggung terkait kendala lainnya yang dihadapi, ayah dua putra itu menambahkan, maaih banyak masyarakat yang belum mengetahui wabah Covid-19 dengan baik dan benar. Selain itu, ada sebagian yang belum jujur apabila ada saudara yang datang atau yang bersangkutan dari luar daerah dan tidak melaporkan kepada aparat pemerintah atau Puskesmas setempat karena takut dan khawatir harus menjalani karantina mandiri.
“Padahal untuk menentukan wajib menjalani karantina mandiri ada prosedur tersendiri dari pihak yang berwenang. Apalagi dia tidak memiliki gejala atau tanda-tanda sakit,” ujarnya.
Lebih lanjut dokter yang dikenal mubaligh itu menuturkan, sebagai wilayah yang mempunyai destinasi wisata unggulan, Kecamatan Licin, diharapkan mengadakan testing, tracing bahkan PCR bagi para pendatang untuk memastikan mereka tidak memiliki potensi membawa bibit penyakit saat berkunjung.
"Sehingga ekonomi masyarakat bisa tumbuh karena wisata di satu sisi dan masyarakat setempat terhindar dari penularan Covid-19. Karena semua pendatang wajib menunjukan surat keterangan sehat dari instansi berwenang,” imbuhnya.
Baca Juga : Tak Hanya di Tulungagung, Ini 3 Kasus Perceraian Akibat Pasangan Terlalu Banyak Bercinta
Dalam menghadapi ujian pandemi wabah Covid-19, sebagai garda terdepan penanganan kesehatan, dokter berkacamata minus tersebut bersama nakes yang lain berupaya mengambil hikmah dan lebih mendekat diri kepada Allah SWT.
“Dengan adanya musibah mereka lebih rajin menjaga kesehatan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun, rajin olahraga dan rajin berjemur di bawah sinar matahari,” ujar Bobby.
Untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran Covid-19, dr Bobby mengingatkan, semua pihak untuk mematuhi protokol kesehatan secara disiplin dengan menerapkan budaya 3 M plus. Yakni, mengenakan masker, mencuci tangan memakai sabun atau memakai handsanitizer, menjaga jarak minimal 2 meter serta rutin melakukan olahraga untuk meningkatkan imunitas tubuh.
“Dan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, istirahat yang cukup serta doa dan tawakal kepada Allah Yang Maha Segalanya,” tandas Bobby.
