Unisba Blitar Dorong Strategi Produktivitas Pangan di Tengah Pandemi
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Dede Nana
17 - May - 2020, 07:51
Dampak terbesar pandemi Covid-19 bagi kehidupan manusia pada akhirnya tak hanya mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat saja. Tapi juga meneror sektor pangan, dimulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi.
Dikatakan Kaprodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar, Yuhanin Zamrodah, pandemi Covid-19 yang belum berakhir berpengaruh terhadap ketersediaan pangan. Pengaruhnya cukup dirasakan utamanya di daerah defisit pangan yang terjadi permasalaan tidak lancarnya distribusi.
Baca Juga : Ini Sanksi Bagi Warga yang Melanggar Aturan Saat PSBB Diberlakukan di Kota Batu
“Diperkirakan sampai dengan akhir tahun ini produksi akan terus mengalami penurunan jika manajemen stok pangan kurang baik,” ungkap Yuhanin dalam paparanya di Diskusi Online ‘Peran Vital Pertanian di Masa Pandemi’ yang digelar Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Unisba Blitar, Minggu (17/5/2020).
Pandemi Covid-19 juga berpengaruh terhadap permintaan pangan. Banyaknya kegiatan ekonomi yang tersendat menyebabkan permintaan pangan menurun.
“Permintaan pangan akan menurun karena restoran, UMKM pangan, industri pangan, hotel dan pedagang banyak yang tutup. Sedangkan pengaruh pandemi Covid-19 terhadap produksi pangan keluarga akan terjadi peningkatan harga, berkurangnya kesempatan kerja non pertanian, peningkatan pengeluaran konsumsi pangan, akses terhadap harga dan pangan turun,” paparnya.
Untuk mengatasi permasalahan itu, lanjut dia, pemerintah perlu membuat beberapa langkah kebijakan. Dengan membuat strategi peningkatan ketersediaan pangan.
“Strategi ketersediaan pangan diantaranya dengan meningkatkan produksi pangan, membuat cadangan pangan, mendatangkan pasokan pangan dari luar. Serta yang tak kalah penting yakni dengan memberikan bantuan pangan terhadap masyarakat yang terdampak pandemi,” terangnya.
Kebijakan pemerintah juga harus berpihak kepada petani yang merupakan ujung tombak ketahanan pangan. Agar petani tidak merugi pemerintah harus mengeluarkan kebijakan. Diantaranya memastikan petani tetap berproduksi dengan menjamin ketersediaan saprodi, akses pasar, permodalan dan asuransi pertanian. Kemudian menjamin ketersediaan stabilitas harga dan serapan bahan pangan pokok dengan memastikan kecukupan stok pangan di seluruh wilayah.
"Dan ketiga memastikan kelancaran distrubusi dengan mengoptimalkan infrastruktur dan layanan logistik dari sentra produksi hingga ke konsumen,” ujar Yuhanin.
Baca Juga : Tips Dekorasi Kamar Tidur Anak dengan Kreasi Keramik dari Graha Bangunan
Lebih dalam di kesempatan ini Yuhanin mendorong agar pemerintah terus memberikan pendampingan kepada petani. Para petani harus diberikan motivasi dan keyakinan untuk terus bercocok tanam di tengah pandemi.
“Cara meyakinkan petani yaitu para penyuluh pertanian diterjunkan langsung ke lapangan. Karena keberpihakan terhadap petani kecil harus ditunjukkan dengan optimalisasi peran penyuluh," ujarnya lagi.
Kementan, lanjutnya, sudah memiliki wadah Kostrani yang dilengkapi teknologi informasi digital, sehingga pendampingan bisa dilakukan kapanpun.
