Kedungwaru Culture Village Carnival, Karnaval Plus Unjuk Kesenian dan Asal Usul Desa
Reporter
Joko Pramono
Editor
Yunan Helmy
26 - Aug - 2019, 02:25
TULUNGAGUNGTIMES - Agustus merupakan bulan istimewa bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini, 74 tahun lalu pada tanggal 17, negara kepulauan ini mendeklarasikan kemerdekaannya. Sebagai rasa bersyukur, segenap warga merayakanya dengan berbagai karnaval hingga di tingkat desa.
Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, tak ketinggalan menyelenggarakan karnaval merayakan kemerdekaan Indonesia yang diikuti oleh 19 desa. Namun, bukan sekadar karnaval. Dengan mengambil tema “Kedungwaru Village Culture Carnival”, tiap desa harus menceritakan asal-usul desa dan potensi budaya yang ada di masing-masing desa.
“Jadi, selain penampilan seni dari desanya masing-masing, tiap desa harus menceritakan babat (asal-usul) desa masing-masing,” ujar Camat Kedungwaru Anang Pratistianto, Minggu (25/8/19), di sela-sela jalannya karnaval.
Menariknya, cerita asal-usul desa diceritakan saat desa menampilkan gelaran seni yang menjadi ciri khas desa tersebut. Desa Plandaan misalnya. Desa ini memiliki tiga kesenian di desanya, mulai seni jaranan pegon yang mulai jarang peminatnya, seni wayang orang yang mulai luntur tergerus zaman, dan reyog kendang.
Dari asal usul, Desa Plandaan berasal dari kata landak. Itu lantaran pada saat pertama dihuni pendahulu, ditemukan banyak sarang hewan landak.
Sementara itu, salah satu juri acara itu, Endin Didik Handoko, yang merupakan budayawan mengatakan ada beberapa kriteria dalam penilaian karnaval ini. Menurut dia, seluruh penilaian berorientasi pada budaya, seperti penataan penampilan, kreativitas, harmonisasi dalam menampilkan sajian seni, tampilan, estetika, kekompakan dan kedisiplinan selama menempuh rute.
“Jadi, karnaval ini selain untuk merayakan kemerdekaan RI, juga untuk menumbuhkan budaya di tiap desa untuk membangun ekosistem budaya,” ujar Endin.
Festival ini sebagai sarana menggali sejarah dan budaya desa. Tiap desa mempunyai sejarah dan adat-istiadat yang berbeda. Meskipun berada dalam satu kecamatan, ada adat dan ritus (tata cara) yang berbeda di tiap desa. Hal itu terlihat saat upacara bersih desa yang dilakukan pada waktu yang berbeda dan ritus yang berbeda.
