JATIMTIMES - Ibu kota Venezuela, Caracas, mendadak mencekam pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat. Dentuman keras memecah kesunyian, disusul suara pesawat tempur yang terbang rendah di atas kota.
Dari sejumlah titik, kobaran api tampak menyala. Sementara asap hitam membubung tinggi ke langit. Suasana gelap berubah kemerahan, menandai dimulainya serangan militer besar-besaran yang mengguncang negeri di Amerika Selatan itu.
Baca Juga : Sosok Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi, Pimpinan Gontor yang Wafat di Usia 76 Tahun
Beberapa jam berselang, Presiden Amerika Serikat Donald Trump angkat bicara. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat melancarkan operasi militer skala besar di Venezuela. Ia mengklaim pasukan gabungan militer dan aparat penegak hukum AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dan menerbangkan keduanya keluar dari negara tersebut.
Trump membeberkan sejumlah alasan di balik operasi tersebut. Salah satu yang utama, menurut dia, adalah krisis migrasi. Trump menuding Venezuela sebagai sumber utama gelombang migran yang terus membanjiri perbatasan selatan AS dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak krisis ekonomi melanda Venezuela pada 2013, sekitar delapan juta warga negara itu dilaporkan meninggalkan tanah air mereka. Mayoritas bermigrasi ke negara-negara tetangga di Amerika Latin.
Trump bahkan mengklaim, tanpa menyertakan bukti, bahwa pemerintahan Maduro sengaja membebaskan para narapidana dan pasien rumah sakit jiwa untuk dikirim ke Amerika Serikat sebagai bagian dari skema migrasi massal.
Tudingan itu langsung dibantah oleh Pemerintah Venezuela. Pihaknya menyebut pernyataan Trump sebagai fitnah yang tidak berdasar dan sarat kepentingan politik.
Alasan lain yang disampaikan Trump berkaitan dengan isu narkotika. Ia menuding Venezuela menjadi jalur transit utama penyelundupan kokain ke Amerika Serikat, serta memiliki peran besar dalam krisis fentanil yang telah menewaskan ribuan warga AS.
Washington kemudian menetapkan dua kelompok kriminal asal Venezuela, yakni Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai organisasi teroris asing.
Trump bahkan secara terbuka menuding Nicolas Maduro sebagai pemimpin langsung Cartel de los Soles. Klaim tersebut kembali dibantah oleh Pemerintah Venezuela, yang menegaskan tidak ada keterlibatan presiden mereka dalam jaringan perdagangan narkoba internasional.
Baca Juga : Presiden Venezuela Diklaim Ditangkap AS, Cadangan Minyak Terbesar Dunia Jadi Taruhan Global
Trump memuji operasi militer yang disebutnya berjalan sesuai rencana. “Banyak perencanaan yang baik dan banyak pasukan dan orang-orang hebat,” ujar Trump, dikutip dari wawancara dengan The New York Times.
Menjelang serangan, Amerika Serikat memang tercatat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Karibia. Washington mengerahkan kapal induk USS Gerald R Ford dan menyita dua kapal tanker minyak milik Venezuela sebagai bagian dari tekanan ekonomi.
Trump juga mengklaim pasukannya menewaskan lebih dari 100 orang yang dituduh terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba.
Laporan lain menyebutkan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) turut menyerang fasilitas sandar kapal di wilayah Venezuela yang diduga digunakan kartel narkoba. Aksi ini disebut sebagai serangan terbuka pertama Amerika Serikat di daratan Venezuela dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi berseberangan, Pemerintah Venezuela menilai operasi militer tersebut sebagai bentuk intervensi asing yang bertujuan menggulingkan pemerintahan sah Nicolas Maduro. Venzuela menuding Washington ingin menguasai sumber daya minyak Venezuela yang melimpah.
Maduro sendiri membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia menyatakan tidak pernah terlibat dalam jaringan kartel narkoba. Bahkan, menurut Maduro, dirinya sempat menawarkan kerja sama kepada Washington terkait penanganan narkotika dan migrasi, hanya beberapa hari sebelum serangan militer itu dilancarkan.