JATIMTIMES - Di awal sejarah Islam, ketika keberanian lebih mahal dari hidup itu sendiri, nama Khabab bin al-Arat muncul sebagai satu dari sedikit orang yang memilih berdiri di sisi Nabi Muhammad SAW. Kitab Al-Isti‘ab dan Al-Bidayah wa an-Nihayah mencatatnya sebagai bagian dari generasi pertama yang memeluk Islam, mereka yang beriman ketika risiko kematian mengintai setiap hari. Khabab bukan bangsawan, bukan pedagang kaya; ia hanya seorang budak pandai besi di Makkah. Namun keyakinannya justru lebih tegar daripada logam yang ditempanya.
Keimanannya yang masih muda itu langsung disambut gelombang penderitaan. Dalam riwayat yang dipaparkan Ath-Thabari, disebutkan bahwa Khabab tidak memiliki perlindungan sosial apa pun sebagai budak, sehingga kaum Quraisy bebas menganiayanya. Dan memang, kekejaman itu benar-benar dilakukan tanpa batas. Majikannya, Ummu Anmar, yang dikisahkan dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, menjadi salah satu pelaku penyiksaan terburuk, marah besar karena Khabab kerap mendatangi Rasulullah SAW untuk belajar Al-Qur’an.
Baca Juga : Ketika Nabi Musa Meminta Kemudahan Bertutur: Kisah di Balik Doa Taha 27–28
Panas besi, tusukan, dan siksaan tak manusiawi menjadi rutinitas yang menempel di tubuhnya. Dalam buku Biografi 60 Sahabat Nabi karya Khalid Muhammad, digambarkan bagaimana punggungnya menjadi saksi bisu atas iman yang tak pernah tunduk. Namun yang membuat sosok ini begitu memikat adalah kenyataan bahwa seluruh kekejaman itu tidak pernah membuatnya goyah; setiap luka justru menyalakan iman yang lebih terang.
Tahun-tahun berlalu hingga masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Dalam beberapa riwayat yang juga disebut Ibn Katsir, Umar pernah meminta Khabab menceritakan kisah penyiksaannya. Khabab tak membalas dengan cerita panjang; ia hanya membuka punggungnya. Umar tertegun. “Aku belum pernah melihat punggung seperti ini,” ujar Sang Khalifah, kalimat yang menggambarkan betapa brutalnya perjalanan seorang budak yang memilih tauhid sebagai pegangan hidup.
Meski demikian, Khabab tetap dihantui kerendahan hati. Dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim, dikisahkan bahwa ia pernah berkata, “Tampaknya Allah telah membalas penderitaan kita di dunia, dan aku khawatir tidak ada balasan yang tersisa di akhirat.” Ucapan ini bukan nada putus asa, melainkan ungkapan seorang hamba yang tidak ingin penderitaannya menjadi alasan untuk menuntut pahala.
Maulana Zakariyya dalam Fadha’il A‘mal juga menegaskan bahwa para sahabat seperti Khabab menjalani segala ujian hanya demi memperoleh ridha Allah SWT. Tidak ada motif dunia. Tidak ada kepentingan lain. Semuanya murni karena keyakinan yang mengalir sampai ke akar jiwa.
Baca Juga : Gudang Boneka-Plastik di Jombang Terbakar Hebat, 5 Mobil Damkar Dikerahkan
Khabab wafat di usia 37 tahun dan, sebagaimana dicatat dalam Al-Isti‘ab, menjadi sahabat pertama yang dimakamkan di Kuffah. Ketika Ali bin Abi Thalib RA melewati kuburnya, ia berdoa agar Allah melimpahkan rahmat bagi lelaki yang mengubah rasa sakit menjadi kemuliaan. Sebab dari bara forge tempat ia bekerja hingga bara penyiksaan yang ia alami, Khabab tetap menjadikan imannya sebagai logam paling keras yang pernah ditempa sejarah.