JATIMTIMES - Kasus wabah campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Hingga 21 Agustus 2025, tercatat ada 2.035 kasus suspek campak, mayoritas dialami balita, dengan 17 di antaranya meninggal dunia.
Diketahui campak merupakan penyakit infeksi akibat virus campak atau morbillivirus. Bentuk virus ini, sekilas, mirip dengan virus Corona. Hal itu diungkapkan oleh dokter spesialis anak konsultan, Prof Dr dr Hartono Gunardi.
Baca Juga : Kasus Cacing di Tubuh Balita Hebohkan Warga, Dinkes Kota Malang Pastikan Belum Ada Temuan Serupa
Menurut Prof Hartono, virus campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. "Jika ada satu anak terkena campak maka bisa menularkan ke 12-18 anak lainnya," jelas dr. Hartono, dikutip Sabtu (23/8/2025).
Ia menegaskan, penularan campak jauh lebih tinggi dibandingkan dengan batuk seratus hari (pertusis), rubella, maupun polio. Virus ini menular melalui udara (airborne), terutama ketika penderita batuk atau bersin dengan kecepatan partikel mencapai 75 mil per jam.
"Sangat cepat sekali, jadi sangat menularkan ke banyak penduduk," kata Prof Hartono dalam acara temu media Pekan Imunisasi Dunia 2024.
Meski kerap menyerang anak-anak, orang dewasa juga berpotensi terkena campak.
Gejala Awal Campak
Gejala awal infeksi campak biasanya berupa demam, batuk, pilek, dan radang mata. Setelah 2-4 hari, penderita biasanya mulai mengalami ruam kemerahan di kulit.
Sebagian besar penderita bisa sembuh tanpa pengobatan khusus. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, campak dapat menimbulkan komplikasi serius.
Komplikasi Akibat Campak
Prof Hartono menyebutkan beberapa komplikasi yang bisa muncul akibat campak, di antaranya:
• Pneumonia
• Diare berat
• Ensefalitis atau radang otak
• Kebutaan
• Infeksi telinga yang dapat mengganggu pendengaran
"Ada pneumonia dan diare, keduanya itu penyebab kematian pada bayi," jelasnya.
Meski berbahaya, campak sejatinya bisa dicegah dengan imunisasi.
"Apa yang perlu dilakukan? Yang perlu dilakukan adalah pemberian imunisasi," ujar Prof Hartono.
Imunisasi membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi. Vaksinasi MMR (campak, gondongan, rubella) dianjurkan diberikan pada anak usia 9–12 bulan dan booster pada usia 5–6 tahun. Selain vaksinasi, kontak langsung dengan penderita campak sebaiknya dihindari.
Baca Juga : 68 Pejabat Struktural Unikama Dilantik, 30 Persen Pejabat Baru
Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat, hingga 21 Agustus 2025, ada 2.035 suspek campak dengan 17 kematian di Sumenep. Penyebaran terjadi di 26 kecamatan dan ditetapkan sebagai KLB.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihaknya telah mengirim ribuan vaksin ke Sumenep untuk meredam penyebaran wabah.
"KLB Campak yang terjadi di Sumenep menjadi perhatian kita bersama. Kami sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumenep dan Dinas Kesehatan Jatim serta dengan Kemenkes," ujarnya, dikutip Antara, Sabtu (23/8/2025).
"Dari koordinasi itu alhamdulillah kita sudah kirimkan vaksin MR untuk campak sebanyak 9.825 botol ke Sumenep sebagai Outbreak Response Immunization atau ORI," imbuh Khofifah.
Selain vaksinasi, Pemprov Jatim juga mengadakan on the job training (OJT) kajian epidemiologi KLB PD3I untuk puskesmas di Sumenep. Langkah ini diharapkan memperkuat upaya penanggulangan wabah.
Tak hanya itu, digelar pula koordinasi lintas wilayah Madura Raya dan Surabaya Raya. Pertemuan tersebut menghasilkan dokumen kesepakatan penanggulangan KLB Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).
"Jadi penting juga melibatkan Surabaya Raya untuk mencegah campak ini agar tidak menyebar ke daerah lain. Dan bersamaan dengan pengamanan ini kita juga langsung bergerak cepat memasifkan imunisasi terutama anak-anak," pungkas Khofifah.