JATIMTIMES - Dalam suasana yang penuh dengan antusias, tim pengabdian dari Universitas Negeri Malang (UM) secara resmi memuai kolaborasi dengan jajaran Dinas Pertanian kabupaten Trenggalek. Langkah awal ini diwujudkan melalui sebuah forum sosialisasi dan koordinasi yang terfokus pada pengenalan program “Sekolah TANDUR” yakni sebuah inisiatif digital yang dirancang untuk diimplementasikan kepada para petani di Desa Parakan. Program transformatif ini disambut dengan dukungan penuh oleh Kepala Dinas Pertanian, Dr. Imam Nurhadi, SP. M.Agr. Beliau menyatakan bahwa program ini hadir pada saat yang tepat mengingat kondisi pertanian padi di Trenggalek pada saat ini sangat intensif yang dimana saat ini Indeks Pertanaman (IP) telah menyentuh angka 2,8. Suatu pencapaian yang menunjukkan bahwa lahan sawah mampu menghasilkan dua kali siklus panen penuh, ditambah satu kali siklus tanam tambahan yang mana panennya akan berlanjut di tahun berikutnya sehingga menunutut adanya manajemen sumber daya dengan kualitas yang akurat.
Melihat tingkat intensitas tanam yang demikian, muncul berbagai tantangan yang memerlukan solusi inovatif. Tanpa manajemen data yang terstruktur ketepatan dalam preiksi hasil panen menjadi sulit, pelacakan serangan hama penyakit berlangsung lambat dan yang terpenting sering terjadi ketidaksesuaian antara kebutuhan yang sebenarnya dibutuhkan oleh para petani dengan alokasi bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Oleh karena itu, Program Sekolah TANDUR dirancang secara spesifik untuk menjadi jawaban aras tantangan-tangan tersebut. Melalui program ini,petani tidak hanya dilatih agar kemampuannya meningkat tetapi juga mengubah cara berpikir mereka yang tadinya hanya menunggu dan menerima informasi namun sekarang menjadi pengirim data langsung dari sawah atau kebun mereka. Hal ini akan membantu pemerintah untuk lebih mudah memahami keadaan di lapangan sehingga dapat membuat kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Inti dari program ini adalah sebuah platform digital berbasis website yang dapat diakses dengan mudah. Dr. Purwanto, M.Si selaku tim pengabdian dari Universitas Negeri Malang memaparkan secara detail mengenai struktur dan fungsi dari platform tersebut. Beliau menjelaskan bahwa setiap petani, penyuluh dan koordinator akan diberikan akun akses personal dengan tingkat kewenangan yang berbeda untuk menciptakan sebuah alur kerja informasi yang memiliki tahapan secara jelas yang dimana setiap prosesnya tercatat dengan sistematis. “Petani akan men-input data mulai dari waktu tanam (sebar benih), varietas yang digunakan, waktu pemberian pupuk, kondisi irigasi dan yang lainnya. Nantinya data ini akan diverifikasi oleh penyuluh dan dapat dianalisis secara realtime oleh dinas. Hal ini adalah langkah untuk memastikan setiap Keputusan yang diambil nantinya sudah didasarkan pada data lapangan yang valid,” ujar beliau.
Menyadari bahwa adopsi teknologi di kalangan petani memerlukan pendekatan yang lebih dari sekedar penyediaan platform sehingga tim pengabdian dari Universitas Negeri Malang akan melengkapinya dengan modul pelatihan dalam format cetak serta serangkaian video tutorial yang dapat dijadikan sebagai panduan. Selain itu, implementasi program di lapangan juga akan didampingi secara intensif oleh mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dari Departemen Geografi Universitas Negeri Malang sebgai agen perubahan yang akan membangun kepercayaan dan menunjukkan secara langsung bagaimana teknologi ini dapat memberikan manfaat nyata dalam efisiensi kerja dan peningkatan hasil pertanian para petani.
Gambar 2. Sesi Dikusi Bersama Para Petani dan Penyuluh
Pertemuan untuk sosialisasi dan koordinasi bersama para petani, penyuluh dan pihak dari dinas pertanian Kabupaten Trenggalek memunculkan berbagai topik diskusi dengan tim pengabdian dari Universitas Negeri Malang. Bapak David sebagai salah seorang penyuluh bersama seorang petani lainnya menyampaikan pertanyaan penting terkait perbedaan pelaksanaan dari program TANDUR 1 dan TANDUR 2 yang akan dilaksanakan ini. Setelah itu, Bapak Bapak Purwanto selaku ketua tim pengabdian menjelaskan bahwa Tandur 2.0, yang saat ini tengah disosialisasikan, merupakan hasil pengembangan dari versi sebelumnya (Tandur 1.0) yang telah berhasil digunakan sebagai proyek percontohan pemetaan geospasial lahan. Versi terbaru ini telah dilengkapi dengan fitur pelaporan dan analisis data yang lebih canggih. “Tujuan utama dari inovasi ini adalah memberdayakan petani agar dapat menjadi subjek yang memiliki kendali atas data mereka sendiri. Dengan data yang valid, petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat dan mampu terlibat secara aktif dalam perencanaan pertanian, bukan sekadar menjadi pelaksana kebijakan,” tegasnya.
Gambar 3. Survey ke Beberapa Lahan Milik Petani
Setelah melakukan sesi diskusi bersama para petani dan penyuluh, selanjutnya tim bergerak untuk melakukan survey untuk menindaklanjuti hasil koordinasi ke beberapa lahan petani yang sebelumnya terlibat dalam forum diskusi. Kegiatan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung keadaan lahan para petani dan mengumpulkan data awal yang nantinya akan digunakan sebagai dasar evaluasi dampak dari program. Selama kunjungan tersut, terjadi dialog yang mendalam antara tim dengan para petani yang menyampaikan beberapa keluhan dan tantangan yang mereka hadapi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Sekolah TANDUR dibangun dengan prinsip bottom-up, yakni mengembangkan solusi teknologi yang bersumber dari kondisi nyata dan kebutuhan para petani.
Peluncuran program sekolah TANDUR ini diharapkan dapat menjadi pemicu terbentuknya ekosistem pertanian yang cerdas, efisien dan adaptif di wilayah Trenggalek khususnya bagi para petani yang berada di Desa Parakan. Dalam jangka panjang yang dituju tidak hanya sebatas peningkatan ketepatan dalam penyaluran berbagai bantuan melainkan untuk pengembangan basis data pertanian yang menyeluruh. Data ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung perencanaan ketahanan pangan daerah, mengurangi resiko gagal panen akibat perubahan iklim serta untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani secara menyeluruh. Kolaborasi bersama Universitas Negeri Malang dan Dinas Pertanian Kabupaten Trenggalek akan menjadi fondasi penting untuk memastikan bahwa inovasi ini tidak akan berhenti sebagai program sesaat namun berlanjut sebagai penggerak utama menuju petani milenial dan pertanian yang bersifat modern dan berbasis data.
Penulis : Purwanto & Corrie Teresia Purba, Mahasiswa Departemen Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.
Sumber Pendanaan : DPPM Kemendiktisaintek.