JATIMTIMES - Sampah merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh seluruh masyarakat di Indonesia. Sampah yang menumpuk di lahan kosong dan mencemari aliran sungai menjadi salah satu masalah lingkungan terbesar di Desa Pulokerto, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Sebagai desa pesisir yang bergantung pada hasil laut dan tambak, pencemaran ini dinilai mengancam ekosistem dan kesehatan warga. Untuk mengatasi persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan melaksanakan program Pulokerto Resik.
Kegiatan ini berfokus di Dusun Krajan dan Dusun Semendi sebagai lokasi awal pelaksanaan program, dengan pertimbangan kemudahan koordinasi dan potensi warga untuk menjadi penggerak awal dalam menjaga kebersihan lingkungan. Program dimulai dengan penyuluhan oleh DLH, yang menyampaikan bahaya pembuangan sampah ke sungai dan saluran air, yang dapat menghasilkan mikroplastik dan merusak kualitas perairan serta tangkapan laut masyarakat.
Dalam kegiatan itu, DLH juga menekankan bahwa pembakaran sampah tidak dianjurkan karena berdampak buruk bagi kesehatan, serta mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah rumah tangga dan mengelolanya melalui bank sampah. Setelah penyuluhan, mahasiswa dan warga melanjutkan dengan aksi kerja bakti membersihkan lingkungan, sekaligus memasang tong sampah daur ulang buatan mahasiswa di berbagai titik strategis. Tidak berhenti di situ, mahasiswa juga membentuk bank sampah di lima dusun: Krajan, Semendi, Kramat, Wetandalem, dan Paederan.
Baca Juga : Pencairan BSU Berakhir 31 Juli 2025? Cek Jadwal dan Cara Mencairkan Dananya
“Kami tidak hanya ingin bersih saat kegiatan, tapi mendorong adanya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di desa”, ujar Keyza Desta Yudhistira., Koordinator Desa tim KKN-T FPIK UB 2025. Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat dan pihak kampus FPIK UB. “Ini merupakan salah satu terobosan dari adik-adik Mahasiswa untuk menjalin kerjasama dengan DLH Kabupaten Pasuruan, sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan harapannya kedepannya dapat terus terlaksana”, ujar Muhammad Dailami, Selaku dosen pendamping lapang, FPIK UB.
Didukung digitalisasi Informasi dan Promosi Potensi Program Pulokerto Resik turut diperkuat dengan kegiatan berbasis teknologi, seperti Digital Bahari Lokal, di mana mahasiswa memberikan pelatihan kepada pemuda dan pelaku UMKM desa tentang pemanfaatan media sosial dan desain konten digital. Kegiatan ini bertujuan mendukung promosi potensi lokal sekaligus membangun kesadaran digital warga, termasuk dalam kampanye kebersihan lingkungan.
Selain itu, tim KKN-T juga menyusun peta potensi dan wilayah desa, yang memuat informasi terkait sumber daya alam, lokasi tambak, serta UMKM. Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam website desa, yang dikembangkan oleh mahasiswa sebagai bentuk dukungan terhadap transparansi informasi dan pengelolaan desa berbasis teknologi. Menuju Perubahan Perilaku Program Pulokerto Resik disambut positif oleh perangkat desa dan warga. Mahasiswa berharap bahwa edukasi, fasilitas, dan kebiasaan baru yang dibangun selama KKN dapat terus berlanjut setelah program selesai.
Pulokerto Resik menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat membuahkan hasil konkret dalam menyelesaikan persoalan lingkungan di desa pesisir.
Baca Juga : Arfa dan Arkaan Siswa MAN 2 Kota Malang: Jawara Fisika Dunia 2025
Penulis: Septya Nanda Kusuma Wardhani, Departemen Agrobisnis Perikanan, FPIK UB.