JATIMTIMES - Dalam pusaran kehidupan yang penuh gemerlap duniawi, manusia kerap kali terjebak pada kenikmatan yang secara kasat mata tampak mulia. Namun, Imam Al-Ghazali, ulama besar dalam khazanah pemikiran Islam mengingatkan bahwa tidak semua kenikmatan adalah anugerah yang menuntun kepada kebaikan. Sebaliknya, banyak kenikmatan yang bisa menyamar menjadi perangkap halus dari sifat-sifat iblis, jika tak disikapi dengan kebijaksanaan dan kesadaran hati.
Kenikmatan ini tidak selalu hadir dalam bentuk harta berlimpah atau kehidupan mewah. Terkadang ia berwujud lebih "terhormat": ilmu, ibadah, status sosial, hingga wajah rupawan. Al-Ghazali menekankan bahwa justru dalam kemuliaan itulah tersembunyi potensi kehancuran spiritual bila tidak dijaga.
Baca Juga : Khutbah Jumat 1 Agustus: Menepis Anggapan Safar Bulan Sial
Ilmu, misalnya. Dalam pandangan umum, ilmu adalah cahaya yang menerangi. Namun Al-Ghazali memberi peringatan tajam: ketika ilmu justru menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi dari sesama, lahirlah benih kesombongan. Kesombongan yang menjadikan seseorang memandang rendah orang lain, merasa paling benar, atau tidak mau menerima kebenaran yang datang dari mereka yang dianggap “rendahan”. Inilah penyakit hati yang menyerupai sikap iblis kala menolak bersujud kepada Adam karena merasa lebih mulia. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Demikian pula dengan amal ibadah. Tidak sedikit orang yang tekun menjalankan ibadah, namun dalam diam hatinya merasa lebih suci dari yang lain. Ibadah pun berubah menjadi ajang pamer kesalehan, bukan lagi penghambaan murni. Rasulullah SAW menyebut sikap seperti ini sebagai bentuk syirik kecil, riya. “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat pun bertanya, “Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)
Kedudukan sosial dan garis keturunan juga tidak luput dari sorotan Al-Ghazali. Keturunan mulia sering membuat seseorang merasa lebih berharga, bahkan menumbuhkan arogansi yang diwariskan. Padahal dalam Islam, kemuliaan bukan ditentukan dari silsilah, melainkan dari ketakwaan. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Kecantikan dan ketampanan pun menjadi godaan yang sering tidak disadari. Mereka yang merasa fisiknya lebih rupawan, bisa saja terjebak dalam sikap meremehkan sesama. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)
Nikmat makan juga tak luput dari pengamatan tajam Al-Ghazali. Makan berlebihan, meskipun tampak sepele, justru bisa melemahkan ruhani. Nabi Muhammad SAW mengajarkan keseimbangan: “Tidak ada bejana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya” (HR. Tirmidzi). Makan secukupnya adalah bentuk pengendalian diri dari sifat rakus dan berlebih-lebihan.
Begitu pula syahwat. Nafsu biologis yang seharusnya dijaga dalam bingkai tanggung jawab justru kerap menjadi pintu masuk iblis. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari). Ini adalah peringatan keras tentang pentingnya menjaga lisan dan kemaluan dari penyimpangan.
Baca Juga : 1 Agustus Memperingati Hari Apa? Ada Hari Kanker Paru-Paru Dunia hingga Childfree Day
Satu lagi kenikmatan berbahaya yang kerap tersembunyi: hasad, atau iri hati. Iri terhadap nikmat orang lain bisa mengikis habis kebaikan yang telah dikumpulkan. Nabi SAW menegaskan, “Hindarilah hasad, karena hasad itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
Ketujuh bentuk kenikmatan ini, ilmu, ibadah, status sosial, rupa, makanan, syahwat, dan perasaan iri adalah ujian terselubung. Dalam pandangan Al-Ghazali, seseorang yang bijak akan memeriksa ulang hatinya setiap kali menerima kenikmatan. Bukan hanya bertanya “Apa yang kudapat?” tetapi lebih dalam lagi: “Apakah nikmat ini mendekatkanku pada Allah, atau justru menanamkan sifat iblis dalam balutan kesalehan semu?”
Kesalehan sejati, sebagaimana ditekankan Al-Ghazali, tidak tampak dari apa yang terlihat mata. Ia lahir dari hati yang tulus, sikap rendah hati, serta kesadaran mendalam bahwa setiap manusia adalah makhluk lemah yang selalu butuh bimbingan Tuhan.