JATIMTIMES – Tingginya angka kekerasan dan bullying (perundungan) terhadap anak, terutama di lingkungan sekitar seperti sekolah dan rumah, menjadi faktor penyebab anak mengalami gejala gangguan kejiwaan. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi dan sinergitas antara orang tua dan juga guru.
Hal ini disampaikan oleh Gyta Eka Puspita (Ning Gyta), bunda PAUD yang juga ketua TP PKK Kabupaten Jember, saat menghadiri acara workshop dengan tema “Intervensi Gangguan Kejiwaan Mental pada Anak” yang diselenggarakan oleh Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia) Cabang Jember pada Rabu (8/7/2025).
Baca Juga : Dispangtan Kota Malang Minta Instansi Tak Sajikan Makanan Berbasis Beras saat Rapat
“Untuk menjadikan anak-anak berhasil dalam menimba ilmu, dibutuhkan kerja sama kolaborasi antara orang tua dan juga guru. Sebab, mendidik anak itu seperti membangun sebuah segitiga sama sisi. Di bawah anak itu ada peran guru, orang tua, dan juga lingkungan. Kalau ketiga faktor ini memberi dampak positif, maka anak akan berhasil,” ujar Ning Gyta.
Dalam workshop yang menghadirkan narasumber Dinar Brainly selaku founder dan konsultan Brainly Psycological ini, Ning Gyta menjelaskan bahwa untuk orang tua, ada bapak dan ibu, sehingga pendidikan anak menjadi tanggung jawab keduanya, bukan hanya oleh ibu.
Pihaknya juga mengapresiasi adanya guru PAUD laki-laki di Jember. Hal ini bisa memberi warna pada dunia pendidikan karena ada kalanya seorang anak perempuan akan merasa nyaman karena ada seorang figur bapak di lingkungan sekolahnya. Begitu juga dengan murid laki-laki, yang akan merasa kehadiran sosok ayahnya yang merupakan panutannya.
Sri Widiarti, selaku ketua Himpaudi Jember, dalam kesempatan tersebut menyampaikan, bahwa workshop ini, digelar setelah cabang-cabang Himpaudi di tingkat kecamatan, mendengar dan menerima masukan dan keluhan, baik dari guru maupun wali murid. Sehingga pihaknya merasa perlu digelarnya workshop dan parenting untuk guru.
“Ya kami sebagai pengurus Himpaudi Jember yang baru, beberapa waktu lalu keliling ke cabang-cabang di seluruh kecamatan dan mendapatkan masukan, bahwa banyak dari wali murid yang mengeluhkan kondisi anak-anaknya. Mereka curhat kepada guru, bahkan urusan pribadi pun kadang disampaikan. Dan setelah dilakukan penelaahan, ternyata juga berdampak pada tumbuh kembang anak, sehingga kami merasa perlu menggelar kegiatan semacam ini,” ujar Iik, panggilan Sri Widiarti.
Iik berharap, usai mengikuti workshop dan parenting ini, seluruh guru PAUD di Jember, bisa menjadi konselor bagi murid dan wali murid.
Sementara, Dinar Brainly, dalam kesempatan tersebut, memaparkan bahwa banyak kasus terjadi pada anak, baik di lingkungan sekolah maupun rumahnya. Sehingga hal ini sedikit banyak akan memengaruhi tumbuh kembang pendidikan dan karakter anak. Bahkan tidak jarang, persoalan ini berdampak pada kejiwaan anak yang bisa berakibat fatal dan menjerumus pada tindakan kriminalitas.
Baca Juga : Pemkab Situbondo Dukung Inklusi Pendidikan: Anak Difabel Diupayakan Bersekolah di Sekolah Umum
"Adanya kasus yang sering terjadi seperti bullying, gangguan perkembangan, depresi, pernikahan usia dini, tindakan-tindakan kriminal dan menyimpang yang dilakukan oleh anak hampir setiap hari kita dengar. Sejauh ini masyarakat banyak yang fokus terhadap masalah dan penindakan. Hal ini tentu akar masalahnya mengarah kepada gangguan mental yang dialami masing-masing individu dari dalam rumahnya,” ujar Dinar.
Dinar menambahkan, minimnya tenaga konselor di setiap daerah menjadi kendala ketika ada anak yang mengalami gangguan mental dan membutuhkan intervensi tidak dapat di deteksi dan ditangani sejak usia dini.
Melalui acara workshop dan pelatihan ini, Brainly memberikan edukasi dan pelatihan khusus terhadap guru yang bersentuhan langsung secara intens dengan siswa dan wali murid terkait cara mendeteksi dan memberikan intervensi jika terjadi gangguan mental di sekolah usia dini.
“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan guru PAUD mendapat pengetahuan dan kemampuan agar dapat berperan aktif sebagai konselor di lingkungan sekolah untuk siswa dan orang tuanya, minimal penanganan psikologis pertama bagi anak dan keluarga yang mengalami gangguan mental. Mengingat, pada faktanya gangguan mental kerap dialami seseorang sejak usia dini bahkan tanpa disadari dari dalam rumahnya,” pungkasnya.