JATIMTIMES - Realisasi investasi di Kota Batu merangkak naik memasuki triwulan ketiga 2025. Rentang Januari hingga pertengahan Juli, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mencatat nilai penanaman modal mencapai Rp 1,628 Triliun. Angka tersebut melampaui target tahun ini yakni Rp 1,12 Triliun.
Hal tersebut disampaikan Kepala DPMPTSP Kota Batu Dyah Lies Tina P. Ia menyebut, daya tarik investasi di Kota Batu masih tinggi.
Baca Juga : Upaya Bank CIMB Niaga Lebih Dekat Masyarakat: Layanan Digital Lengkap dan Praktek Bisnis Berkelanjutan
"Kota Batu masih menjadi daya tarik investasi. Kalau dilihat penanaman modal dalam negeri yang besar di sektor pariwisata," ujar Dyah saat ditemui, belum lama ini.
Menurut data DPMPTSP, total realisasi investasi hingga 10 Juli 2025 mencapai Rp 1,628 Triliun. Yang mana, dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 1,481 Triliun.
Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) realisasinya mencapai Rp 146,99 Miliar. "Data tersebut mengacu berdasarkan hasil verifikasi dari Kementrian Investasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal (LKPM)," tambahnya.
Dyah merincikan penanaman modal dalam negeri tertinggi berasal dari pariwisata dengan capaian Rp 820 Miliar, disusul Konstruksi Rp 295 Miliar, dan Rp 157 Miliar sektor kesehatan. Terendah sektor pendidikan dengan angka Rp 233 juta.
Sedangkan dari penanaman modal asing, tercatat tertinggi adalah sektor kesehatan dengan Rp 78 Miliar, disusul perdagangan dengan Rp 37 Miliar, dan jasa Rp 25,5 Miliar. Terendah konstruksi dengan Rp 2,06 Miliar.
Dengan demikian, ia menyimpulkan realisasi investasi pada Triwulan II Tahun 2025 mengalami peningkatan sebesar 91.14 persen di bandingkan dengan realisasi investasi Triwulan II Tahun 2024. Di mana tahun lalu di rentang byang sama baru mencapai Rp 851,99 Miliar.
Baca Juga : Dampak Penutupan Jalur Gumitir, Pertamina Kerahkan 79 Tangki BBM ke Bondowoso
Dyah menyebut, daya tarik investasi yang tengah tumbuh saat ini adalah sektor pertanian, dalam hal ini ekspor produk lokal Kota Batu. Ditambah adanya Koperasi Coosae yang ditujukan untuk wadah bisnis pertanian Kota Batu nantinya untuk naik ke pasar internasional.
"Akhir-akhir ini yang baru masalah pertanian, lebih mengangkat pertanian lokal untuk ekspor. Ada kenaikan walaupun gak signifikan," tutur dia.
Dyah berujar, pihaknya tetap mengupayakan agar investasi tetap tumbuh dengan berbagai cara. Termasuk kepastian izin sesuai ketentuan yang berlaku yang dipercepat.
"Kita support terus dengan ngasih kemudahan-kemudahan. Saat ini masih didominasi dalam negeri, tapi tetap ada dari PMA," tutupnya.