JATIMTIMES — Upaya penguatan merek produk lokal kembali digulirkan dari ruang akademik. Dua dosen Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar mendampingi pelaku UMKM Desa Tuliskriyo dalam mengembangkan strategi pemasaran berbasis identitas merek, agar mampu menembus pasar oleh-oleh di Kota Blitar secara lebih luas.
Langkah ini diwujudkan dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat yang melibatkan Dr. Denok Wahyudi Setyo Rahayu, ST., MM., dan Aqnes Dwi Sakti Hamidah, S.M., M.M., bersama mahasiswa KKN dari Kelurahan Sananwetan. Kegiatan berlangsung Selasa, 22 Juli 2025, menyasar rumah produksi jajanan kering merek Nuransya milik Nurul Hidayati, yang berlokasi di Desa Tuliskriyo, Blitar.
Baca Juga : Raden Patah: Ulama, Raja, dan Pembaharu Hukum Islam Nusantara
Dalam kegiatan itu, tim Unisba melakukan pendampingan langsung untuk memperkuat pemahaman pelaku usaha terhadap pentingnya merek dalam membangun loyalitas konsumen dan daya saing pasar. “Merek bukan sekadar nama, tapi representasi nilai, kepercayaan, dan kualitas. Di tengah gempuran produk serupa, identitas yang kuat bisa jadi penentu keberhasilan pemasaran,” jelas Dr. Denok dalam pertemuan di lokasi produksi.
Produk Nuransya sendiri dikenal dengan jajanan khas seperti kripik, rengginang lorjuk, dan teri krispi Madura. Dengan harga terjangkau dan cita rasa yang khas, produk ini telah mendapat tempat di hati konsumen, salah satunya melalui penjualan di Toko Oleh-Oleh Oodabli, Sananwetan, Kota Blitar.
Meski sudah cukup dikenal, Nurul Hidayati mengakui bahwa selama ini kemasan dan penguatan merek belum menjadi prioritas utama. Ia menyampaikan bahwa ada permintaan kemasan dalam ukuran besar, terutama menjelang hari raya, namun sejauh ini pemasaran masih difokuskan pada kemasan kecil. “Kalau pesanan banyak, kadang saya kemas kiloan. Tapi yang saya edarkan biasanya ukuran kecil, supaya bisa langsung dijual di toko,” ujar Nurul.

Menanggapi hal tersebut, Aqnes Dwi Sakti Hamidah menekankan bahwa fleksibilitas kemasan perlu diimbangi dengan konsistensi identitas merek. Ia menyebut bahwa proses penguatan merek tidak berhenti pada desain label, tetapi juga menyangkut strategi komunikasi, saluran distribusi, dan narasi produk. “Jika merek mudah dikenali dan dipercaya, konsumen akan lebih cepat melakukan pembelian ulang. Ini kunci bagi pertumbuhan UMKM,” ungkapnya.
Kegiatan ini turut menjadi ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa KKN. Dengan mendampingi langsung proses branding dan pemasaran, mereka tidak hanya belajar teori kewirausahaan, tetapi juga mengenali tantangan riil yang dihadapi pelaku UMKM di lapangan. Kolaborasi semacam ini juga disambut baik oleh Kelurahan Sananwetan. Pemerintah kelurahan melihat keterlibatan perguruan tinggi sebagai elemen penting dalam penguatan ekonomi lokal berbasis komunitas.
Hasil dari pendampingan ini mulai terlihat. Produk Nuransya semakin mudah dikenali di etalase toko oleh-oleh, dan beberapa pengunjung toko Oodabli mengaku tertarik membeli produk tersebut karena labelnya yang mencolok dan informatif. “Rasanya enak, kemasannya juga rapi, jadi gampang dikenali kalau mau beli lagi,” ujar salah satu pembeli.
Baca Juga : Surabaya Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Voli Wanita U-21 FIVB 2025
Dalam jangka panjang, program ini diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM lokal, serta mendorong terciptanya ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan. Menurut Dr. Denok, ketika perguruan tinggi aktif menjangkau pelaku usaha kecil, maka ruang dialog antara ilmu pengetahuan dan realitas ekonomi masyarakat menjadi lebih terbuka.
“Unisba tidak ingin berhenti di ruang kelas. Pengabdian seperti ini adalah bentuk nyata kontribusi akademik dalam pembangunan ekonomi daerah,” tambahnya.
Melalui tangan dosen dan semangat mahasiswa, kampus hadir bukan sekadar sebagai menara gading, melainkan sebagai rumah gagasan yang menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat, terutama para pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.