free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Ruang Sastra

Darah Malaka di Tanah Caruban: Syekh Datuk Kahfi, Syekh Siti Jenar, dan Jaringan Ilmu Sufi Jawa

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

13 - Jul - 2025, 14:01

Loading Placeholder
Lukisan realis cat minyak: Syekh Datuk Kahfi dan Syekh Siti Jenar, dua tokoh sufi penyebar Islam di tanah Jawa abad ke-15. (Foto: AI created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di antara riak gelombang Selat Malaka pada abad ke-15, tersimpan riwayat tentang ulama kelana, para sayid, dan darah Alawi yang menyeberangi dermaga demi dermaga, menanam benih Islam di sepanjang pesisir Nusantara. Silsilah ini tidak hanya menembus nisan para wali, tetapi juga menjejak pada satu nama yang di kemudian hari menjadi simbol dialektika spiritual di tanah Jawa: Syekh Siti Jenar, yang juga dikenal sebagai Syekh Lemah Abang, atau San Ali — nama kecilnya yang merujuk pada warna tanah sebagai filosofi asal-usul manusia.

Namun, di balik sosoknya yang fenomenal, terdapat simpul genealogi yang menautkan dirinya pada Syekh Datuk Kahfi, sepupu sekaligus guru spiritual yang membuka gerbang tarekat di Giri Amparan Jati, lereng Gunung Jati, Cirebon. Melalui jalur inilah, darah Malaka bertemu tanah Caruban, membentuk jaringan dakwah sufi yang tak hanya mewartakan syariat, tetapi juga menanam benih keberanian melawan tirani politik lokal.

Baca Juga : Kerajaan Surabaya: Jejak Keturunan Sunan Ampel, Rival Abadi Mataram

Artikel ini akan menelusuri dengan pisau historiografi kritis — bagaimana pertautan silsilah Alawi, pusaka rohani Malaka, dan konstelasi politik pesisir Jawa melahirkan simpul dakwah yang kelak berdenyut hingga jantung Demak, Pajajaran, bahkan Palembang.

Genealogi Alawi dan Krisis Malaka (1424 M)

Dalam catatan Nagarakretabhumi dan Purwaka Caruban Nagari, nama Syekh Siti Jenar kerap dikaitkan sebagai keturunan Syekh Datuk Shaleh, ulama bangsawan Melayu yang berafiliasi dekat dengan Sultan Muhammad Iskandar Syah (1414–1424). Koneksi ini bukan sekadar sebutan simbolis. Penelusuran silang terhadap rantai genealogi menunjukkan jalur nasab Syekh Datuk Shaleh bersambung ke marga Alawi — mengakar pada silsilah Sayidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW.

Jalur ini bermula dari Nabi Muhammad Saw., yang kemudian menurunkan Sayyidah Fatimah az-Zahra bersama Ali bin Abi Thalib, lalu dari keduanya lahir Imam Husain. Dari Imam Husain, garis ini turun kepada Imam Ali Zainal Abidin, yang kemudian menurunkan Muhammad al-Baqir, diteruskan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq. Dari Imam Ja’far ash-Shadiq, garis nasab diteruskan kepada Ali al-Uraidhi, yang kemudian menurunkan Muhammad al-Naqib. Muhammad al-Naqib menurunkan Isa al-Rumi, dilanjutkan dengan Ahmad al-Muhajir, yang menurunkan Ubaidillah. Dari Ubaidillah turun kepada Alawi, lalu menurunkan Muhammad, yang kemudian menurunkan putra yang juga bernama Alawi. Jalur ini berlanjut melalui Ali Khali’ Qosam, kemudian turun kepada Muhammad Shahib al-Mirbath, yang menurunkan Sayid Alawi, diteruskan oleh Sayid Abdul Malik al-Gujarati. Dari Sayid Abdul Malik turun kepada Sayid Amir Abdullah Khanuddin, yang kemudian menurunkan Sayid Abdul Qadir. Sayid Abdul Qadir menurunkan Syekh Datuk Isa Tuwu al-Malaka, diteruskan kepada Syekh Datuk Ahmad, hingga sampai kepada Syekh Datuk Kahfi, ulama pesisir Gunung Amparan Jati yang dikenal sebagai perintis dakwah di kawasan Cirebon.

Penelusuran silang berbagai silsilah juga menempatkan Syekh Siti Jenar — atau Syekh Datuk Abdul Jalil — dalam jalur keturunan yang sama. Ia disebut sebagai putra Syekh Datuk Shaleh, seorang ulama besar di Malaka yang berhubungan erat dengan Sultan Muhammad Iskandar Syah pada awal abad ke-15. Syekh Datuk Shaleh inilah yang masih bersaudara kandung dengan Syekh Datuk Ahmad, ayah Syekh Datuk Kahfi, sehingga memperkuat bukti bahwa jalur spiritual Syekh Siti Jenar pun bersambung ke marga Alawi, menembus akar darah Rasulullah Saw. Hubungan darah ini menegaskan bagaimana genealogi para penyebar Islam pesisir tidak hanya membentuk jaringan dakwah, tetapi juga menjadi fondasi spiritual sekaligus pusaka perlawanan sosial yang bertahan hingga kini.

Panggung politik Malaka pada awal abad ke-15 adalah cermin kemelut yang memaksa diaspora rohani ini mengalir ke tanah Jawa. Pada tahun 1424, Mudzaffar Syah (1424–1458) menggulingkan Iskandar Syah, membuka babak pembersihan orang-orang Melayu yang loyal. Dalam pusaran konflik ini, Syekh Datuk Shaleh diberi tiga pilihan: berhenti berdakwah, dibunuh, atau hijrah. Ia memilih opsi ketiga, meninggalkan Malaka menuju Palembang, lalu Cirebon — pintu gerbang pesisir utara Jawa yang kala itu masih berupa Pakuwuan Caruban.

Syekh Datuk Kahfi: Jembatan Malaka–Cirebon

Sebelum Syekh Datuk Shaleh tiba di Cirebon, jejak kekerabatan sudah terlebih dahulu ditanam oleh Syekh Datuk Kahfi, sepupunya — putra dari Syekh Datuk Ahmad, saudara kandung Syekh Datuk Shaleh. Dalam rantai genealogis ini, hubungan sepupu seayah memperkuat status Syekh Datuk Kahfi sebagai paman spiritual bagi Syekh Siti Jenar.

Menurut Purwaka Caruban Nagari, Syekh Datuk Kahfi adalah ulama Malaka berdarah Alawi, bagian dari simpul tarekat yang menaut jalur Hadramaut–Gujarat–Malaka–Cirebon. Bersama 22 muridnya, ia menyeberang ke Cirebon di tengah pusaran politik Malaka yang tak stabil. Pusat dakwahnya berdiri kokoh di Padepokan Giri Amparan Jati, di lereng Gunung Amparan Jati, berseberangan dengan Gunung Sembung — tempat kelak Sunan Gunung Jati dimakamkan.

Keberadaan Syekh Datuk Kahfi adalah simpul spiritual awal, mendidik generasi pertama seperti Pangeran Walangsungsang (Ki Samadullah Sri Mangana) dan Rara Santang, dua putra Prabu Siliwangi yang kemudian menjadi pionir Islamisasi Cirebon. Dari jalur inilah, ideologi tarekat dan rantai silsilah Ahlul Bait berkelindan dengan pusaka perlawanan rakyat pesisir.

San Ali: Dari Santri ke Sufi Penjelajah

San Ali — nama kecil Syekh Siti Jenar — lahir sekitar 1426 M di Pakuwuan Caruban. Lima tahun pertama hidupnya berada di bawah asuhan Ki Danusela, kuwu setempat yang kemudian digantikan Ki Samadullah. Namun, proses pendidikan rohaninya berpusat pada Padepokan Giri Amparan Jati, di mana ia dididik langsung oleh Syekh Datuk Kahfi, sepupunya sendiri yang jauh lebih tua.

Selama 15 tahun, San Ali mendalami Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ilmu Tafsir, Musthalah Hadis, Ushul Fiqh, hingga Manthiq. Tidak hanya belajar kitab, ia juga gemar menyusuri kampung-kampung pesisir, meresapi hidup rakyat jelata. Dari sinilah benih gagasannya tumbuh: Islam harus menjelma dalam realitas rakyat, bukan hanya dogma di podium istana.

Selepas menimba ilmu di Amparan Jati, pada 1446 M, Syekh Siti Jenar memulai fase pengembaraan. Pajajaran menjadi tujuan pertamanya, di mana ia berinteraksi dengan para resi Hindu-Buddha. Di sini, ia bersentuhan dengan Catur Viphala, kitab peninggalan Prabu Kertawijaya, dan memadunya dengan doktrin tasawuf Tauhid al-Wujud.

Pencariannya berlanjut ke Palembang. Ia mendatangi Aria Damar, adipati yang juga pengamal kebatinan sufi warisan Maulana Ibrahim Samarkandi. Di tepi sungai Ogan, Syekh Siti Jenar mematangkan konsepsi Kosmologi Emanasi atau Martabat Tujuh: gagasan tentang pancaran Nur Muhammad yang berlapis, memancar ke segenap makhluk.

Lemah Abang: Kampung Model Perlawanan

Setelah 17 tahun menjelajah Nusantara hingga timur tengah dan Kembali ke Cirebon, Syekh Siti Jenar menanam gagasannya di Lemah Abang. Bukan sekadar padepokan, Lemah Abang menjadi komunitas model: ladang dakwah, pusat ajaran filsafat Sangkan Paran, sekaligus basis sosial menentang dominasi kekuasaan raja-raja feodal. Bagi Jenar, manusia harus paham asal-usulnya (sangkan paraning dumadi) — tanah merah. Dari sana, ruh kembali menuju Zat yang Maha Esa.

Di sinilah ia bersinggungan dengan konfigurasi Wali Sanga. Narasi lokal mengisyaratkan ketegangan antara pendekatan ortodoksi Sunan Giri dan pendekatan tarekat Siti Jenar. Perselisihan tafsir inilah yang kemudian melahirkan mitos “Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Sanga”. Namun, tak ada bukti kuat ia benar-benar dieksekusi. Beberapa babad menunjukkan ia wafat di pengasingan, mendidik murid-murid terakhirnya hingga tutup usia pada 1517 M.

Padepokan Amparan Jati: Jembatan Generasi

Baca Juga : Kenangan Indah Bersama Mas Imam Aziz

Setelah era Syekh Datuk Kahfi, jaringan Padepokan Giri Amparan Jati diteruskan generasi ketiga: Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Ia datang ke Cirebon bersamaan dengan kepulangan Syekh Siti Jenar dari perantauan Timur Tengah pada 1463 M. Di sinilah dua simpul tarekat bersua: yang satu merumuskan dakwah melalui koalisi politik Demak–Pajajaran, yang lain bertahan dengan tarekat tauhid wujudiyah di pinggir kuasa istana.

Hingga kini, di lereng Gunung Jati, cungkup Syekh Datuk Kahfi berdiri teduh, dibelah jalan besar yang memisahkannya dari makam Sunan Gunung Jati. Bagi rakyat pesisir, dua komplek makam ini adalah penanda jalur spiritual yang berbeda. Silsilah yang diulang dalam tahlil dan haul bukan sekadar ritual, melainkan pusaka perlawanan — pengingat bahwa Islam di tanah Jawa tumbuh dari solidaritas rakyat pelabuhan, saudagar, nelayan, dan kaum miskin yang menolak tunduk pada hegemoni penguasa.

Dalam setiap detak ombak Muara Jati, gema San Ali — Syekh Siti Jenar — masih hidup: bahwa manusia, setinggi apa pun derajatnya, kelak akan kembali ke tanah merah.

Gunung Amparan Jati: Pesantren Awal, Benih Islam Nusantara

Di puncak Gunung Amparan Jati, terpacak sebuah cungkup makam yang dindingnya dihiasi keramik Cina. Di sinilah nama Syekh Datuk Kahfi menjejak sejarah Cirebon sebagai mata rantai dakwah awal yang jarang dikisahkan dengan teliti. Letaknya hanya dipisahkan jalan besar dari Gunung Sembung, tempat Sunan Gunung Jati bersemayam, tetapi peran spiritual Gunung Amparan Jati kerap luput dari narasi besar Wali Songo. Di sinilah, menurut naskah Nagarakretabhumi dan Carita Purwaka Caruban Nagari, benih perlawanan kultural lewat pesantren pertama di pesisir Jawa Barat mulai ditanam.

Syekh Datuk Kahfi, atau dikenal juga sebagai Syekh Datuk Kahfi al-Malaka, bukan figur lokal biasa. Silsilahnya merentang hingga Nabi Muhammad Saw, melalui jalur leluhurnya Syekh Datuk Isa Tuwu al-Malaka. Ayahnya, Syekh Datuk Ahmad, adalah saudara Syekh Datuk Saleh, ayah Syekh Abdul Jalil—yang kelak masyhur sebagai Syekh Siti Jenar, tokoh sufi kontroversial yang memantik diskursus tajam dalam Wali Songo. Dari jalur inilah terlihat bagaimana gagasan Islam transregional berpijak di tanah pesisir, menyalur dari Malaka, Baghdad, hingga perbukitan Cirebon.

Nagarakretabhumi Sarga IV mencatat, Syekh Datuk Kahfi muda menempuh perjalanan ilmu ke Baghdad. Di pusat peradaban Islam itulah ia memperdalam syariat, tasawuf, dan strategi dakwah lintas budaya. Ia menikahi Syarifah Halimah, salah seorang bibi Sultan Sulaiman, menegaskan posisinya dalam jejaring ulama diaspora yang tak hanya menimba ilmu, tetapi juga membangun aliansi kultural. Namun Baghdad hanya persinggahan awal. Dengan semangat merintis wilayah baru, Syekh Datuk Kahfi menempuh perjalanan ke Jawa, yang pada pertengahan abad ke-15 masih teguh di bawah panji Pajajaran, kerajaan Hindu-Sunda.

Gunung Amparan Jati menjadi pilihannya. Letaknya yang dekat dengan pelabuhan Muara Jati menjadikannya jalur masuk paling strategis. Jalur maritim di pesisir Cirebon sejak lama menjadi simpul dagang, pertemuan pelaut, saudagar, dan tabib lintas Melayu, Gujarat, Arab, hingga Tiongkok. Di titik pertemuan arus dagang itulah Syekh Datuk Kahfi mendirikan langgar kecil, cikal bakal pesantren sunyi di atas bukit. Pendekatannya persuasif, tidak frontal mengguncang tatanan Pajajaran, tetapi menanamkan akar Islam dengan metode madrasah: menerima murid, mendidik spiritualitas, dan menyiapkan kader dakwah.

Di antara muridnya, dua nama menjadi kunci: Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang. Keduanya putra Prabu Siliwangi dengan Nyai Subanglarang—putri Ki Gedeng Tapa, murid Syekh Hasanuddin Quro Karawang. Melalui mereka, alur Islam terhubung langsung ke jantung Pajajaran. Bukan tanpa risiko: Prabu Siliwangi di satu sisi meneguhkan Pajajaran sebagai kerajaan Hindu-Sunda, tetapi di sisi lain tak kuasa memutus ikatan darah dengan putra-putrinya yang merintis jalan Islam.

Tiga tahun Walangsungsang menuntut ilmu di Gunung Amparan Jati. Ia tidak hanya mempelajari tauhid, tetapi juga tata cara hidup mandiri: membuka hutan, mengelola lahan, merintis perkampungan. Ketika tiba masanya, Syekh Datuk Kahfi memerintahkannya membuka belantara Kebon Pesisir. Hutan itu ditebas, pondokan dibangun, tajug atau masjid kecil didirikan sebagai pusat ibadah. Hunian baru itu dinamai Caruban Larang, menandakan percampuran etnis, kepercayaan, dan arus penduduk pesisir yang datang silih berganti.

Peran spiritual diubah menjadi kepemimpinan sosial-politik. Walangsungsang dianugerahi gelar Ki Samadullah. Bersama Ki Danusela, pejabat Pajajaran yang diangkat menjadi kuwu Caruban Larang bergelar Ki Gedeng Alang-alang, tata kuasa pun terbentuk. Ketika Ki Danusela wafat, Ki Samadullah naik menggantikannya. Restu Prabu Siliwangi datang lewat utusan Tumenggung Jagabaya. Dengan penyerahan tanda keprabuan, Ki Samadullah resmi diangkat sebagai Sri Mangana, Raja Caruban Larang—simbol peralihan Pajajaran pesisir ke poros Islam.

Karya Syekh Datuk Kahfi tidak berhenti pada murid tunggal. Melalui pesantren Amparan Jati, ia membangun jaringan murid lintas generasi yang kelak menjadi simpul Wali Songo. Syekh Siti Jenar, keponakannya, menjelma sufi radikal yang membongkar ortodoksi dakwah. Masaeh Munat, dikenal sebagai Sunan Drajat, mewarisi pola dakwah sosial di pesisir timur Jawa. Raden Sahid, Sunan Kalijaga, memadukan tasawuf dengan seni-budaya lokal, membumikan Islam melalui wayang, gamelan, hingga pertunjukan rakyat.

Dalam perspektif historiografi kritis, Gunung Amparan Jati bukan sekadar bukit sunyi. Ia laboratorium sosial yang menyiapkan kader dakwah lintas etnis. Spiritualitasnya menetes ke jalur politik pesisir, membuka ruang bagi kompromi antara Hindu-Sunda dengan Islam pendatang. Namun kompromi ini tak pernah steril dari dendam sejarah. Perebutan hegemoni antara pusat Pajajaran dengan pesisir Caruban Larang kemudian menjadi bara panjang, meletus di medan tempur Demak, Cirebon, hingga cikal bakal Mataram.

Kini, cungkup keramik di puncak Gunung Amparan Jati berdiri sebagai saksi bisu. Di balik keramik-keramik Cina yang menempel, terpatri jejak seorang guru yang memadukan jaringan ilmu Baghdad dengan realitas Jawa, membabat hutan demi hunian, mendidik murid yang kelak menyalakan cahaya Islam Nusantara. Di sanalah pesantren pertama pesisir lahir—benih yang menumbuhkan kerajaan, membentuk jalur perlawanan, dan memahat jejak dakwah ke seantero tanah Jawa.

_____________________________________

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan hasil rangkuman dari berbagai sumber


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri

--- Iklan Sponsor ---