JATIMTIMES - KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali, Rabu (2/7/2025) malam. Dugaan sementara menyebutkan adanya kebocoran di ruang mesin yang menyebabkan kapal kehilangan kendali dan terbalik.
Kerusakan mesin kapal memang bisa menjadi penyebab utama kecelakaan laut. Jika tanda-tanda awalnya tidak dikenali dan segera ditangani, gangguan pada mesin kapal berpotensi mengancam keselamatan pelayaran, termasuk risiko kapal tenggelam.
Baca Juga : Direktur RS Indonesia Marwan Al-Sultan Tewas Dibunuh Israel
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat bahwa salah satu penyebab terbanyak kecelakaan kapal di Indonesia adalah kegagalan sistem propulsi, termasuk kerusakan pada mesin utama kapal.
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan mengingatkan pentingnya pemeliharaan berkala sebagai bagian dari upaya mencegah kerusakan mesin mendadak di tengah laut. Terutama ketika cuaca buruk, kegagalan mesin bisa sangat berbahaya bagi keselamatan kapal dan penumpangnya.
Berikut ini adalah gejala-gejala awal kerusakan mesin kapal yang perlu diwaspadai oleh kru kapal maupun operator pelayaran:
1. Suhu Mesin Naik Tidak Wajar
Kenaikan suhu yang melebihi batas normal sering kali disebabkan masalah pada sistem pendingin, seperti radiator bocor atau pompa air tidak berfungsi. Jika tidak segera diatasi, mesin bisa mengalami overheat hingga rusak total.
2. Asap Keluar Berwarna Aneh
• Asap putih: menandakan adanya air atau cairan pendingin yang ikut terbakar.
• Asap hitam: biasanya akibat pembakaran bahan bakar tidak sempurna karena saringan udara kotor atau injektor bermasalah.
• Asap biru: mengindikasikan pelumas ikut terbakar karena kebocoran oli.
3. Mesin Bergetar atau Bersuara Kasar
Getaran berlebih atau suara mesin yang tidak normal bisa menunjukkan adanya kerusakan pada crankshaft, bearing, atau komponen lain yang longgar.
4. Tenaga Mesin Menurun
Jika tenaga dorong mesin melemah, kemungkinan ada masalah pada sistem bahan bakar, asupan udara, atau tekanan kompresi. Hal ini bisa menyebabkan kapal sulit bermanuver, terutama dalam situasi darurat.
5. Konsumsi Bahan Bakar Meningkat
Pembakaran yang tidak efisien akan menyebabkan boros bahan bakar. Dalam pelayaran jauh, ini bisa berdampak serius terhadap efisiensi operasional kapal.
6. Lampu Indikator Menyala
Pada kapal modern, lampu indikator menjadi alarm dini saat mesin mengalami gangguan. Jangan abaikan tanda ini, segera lakukan pemeriksaan menyeluruh.
Jika gejala awal kerusakan tidak segera ditangani, risikonya bisa sangat fatal. Mesin kapal yang rusak bisa menyebabkan hilangnya daya dorong, membuat kapal tidak bisa dikendalikan dan hanyut terbawa arus laut. Situasi ini sangat berbahaya, terutama jika terjadi saat cuaca buruk.
Baca Juga : Termotivasi Kondisi Ekonomi, Fariq Radvan Berhasil Dapat Emas Pertama di Porprov IX Jatim
Selain itu, korsleting listrik atau kebocoran bahan bakar di ruang mesin dapat memicu kebakaran. Karena itu, deteksi dini sangat penting dalam menjaga keselamatan pelayaran.
KNKT mencatat bahwa lebih dari 30% kecelakaan laut di Indonesia periode 2018-2022 disebabkan oleh gangguan mesin kapal, sebagian besar karena perawatan yang kurang maksimal.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, KMP Tunu Pratama Jaya berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, pada Rabu malam (2/7/2025) pukul 22.56 WIB. Namun tak lama setelah pelayaran dimulai, kru kapal melaporkan kondisi darurat.
"Dilaporkan dari Dermaga LCM Gilimanuk, KMP Tunu Pratama Jaya mengalami kebocoran di ruang mesin dan terbalik," ujar Ferry, perwakilan operator kapal, Kamis (3/7/2025).
Sekitar pukul 00.16 WITA, sinyal darurat diterima dari kapal. Hanya dalam waktu tiga menit kemudian, sistem kelistrikan kapal mengalami gangguan total (blackout), dan kapal pun tenggelam.
Lokasi terakhir kapal sebelum hilang dari pantauan tercatat di koordinat -08°09.371', 114°25.1569', dan sempat terbawa arus ke arah selatan.
Tim SAR gabungan langsung dikerahkan untuk melakukan evakuasi di sekitar lokasi kejadian. Hingga Kamis (3/7/2025) pukul 11.00 WIB, tercatat 35 orang ditemukan selamat, sementara empat korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Tim masih terus menyisir perairan Selat Bali untuk mencari penumpang lainnya yang belum ditemukan. Fokus pencarian dipusatkan di area lintasan Ketapang-Gilimanuk, lokasi tenggelamnya kapal.
Adapun KMP Tunu Pratama Jaya diketahui membawa total 65 orang, yang terdiri dari 53 penumpang, 12 kru kapal dan 22 unit kendaraan.