free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Peristiwa

Grebeg Pancasila di Kota Blitar: Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi di Makam Bung Karno

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

01 - Jun - 2025, 12:12

Loading Placeholder
Warga tampak antusias berebut hasil bumi dari Gunungan Lima usai prosesi Kenduri Pancasila di halaman Perpustakaan Nasional Bung Karno, Kota Blitar, Minggu (1/6/2025). Tradisi ini diyakini membawa berkah dan menjadi simbol syukur serta semangat gotong royong dalam memperingati Hari Lahir Pancasila. (Foto: Bagian Umum Setda Kota Blitar)

JATIMTIMES — Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kota Blitar kembali menjadi saksi hidup perayaan Hari Lahir Pancasila yang kental akan nuansa budaya dan spiritualitas. Namun, ada satu momen yang selalu ditunggu-tunggu warga: rebutan Gunungan Lima di kompleks Makam Bung Karno. Sebuah ritual simbolik yang tak hanya memikat mata, tapi juga menggugah rasa syukur dan semangat gotong royong.

Pagi itu, Sabtu 1 Juni 2024, Alun-Alun Kota Blitar diselimuti suasana khidmat. Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila berlangsung tertib, diikuti pejabat, pelajar, dan warga dari berbagai penjuru kota. 

Baca Juga : Grebeg Pancasila di Kota Blitar: Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi di Makam Bung Karno

Usai upacara, lonceng budaya berdentang melalui Kirab Gunungan Lima—sebuah tradisi yang merepresentasikan lima sila Pancasila dalam bentuk tumpeng raksasa berisi hasil bumi.

Sekitar pukul 09.00 WIB, lima gunungan berisi sayur mayur, umbi-umbian, dan buah-buahan diarak menuju makam Bung Karno. Arak-arakan ini tak hanya menarik perhatian warga, tetapi juga memantik kebanggaan kultural.

Para peserta kirab, yang terdiri dari unsur pemerintah, pelajar, hingga komunitas budaya, mengenakan busana djadoel Puspadahana. Mereka berjalan beriringan, diiringi lantunan musik tradisional yang menciptakan suasana magis di sepanjang rute kirab.

Setibanya di kompleks makam Bung Karno, prosesi serah terima Gunungan Lima dipimpin langsung oleh Wali Kota Blitar H Syauqul Muhibbin atau yang akrab disapa Mas Ibin. Prosesi ini, menurut Mas Ibin, adalah bentuk penghormatan kepada Sang Proklamator sekaligus penggali Pancasila.

Dalam pandangannya, gunungan bukan sekadar tumpeng, melainkan simbol keberkahan dan refleksi nilai-nilai Pancasila yang membumi. “Setiap tahun, momentum ini menjadi pengingat bersama bahwa Pancasila bukan dokumen mati. Ia hidup di tengah masyarakat melalui praktik kebudayaan seperti ini,” ujar Mas Ibin di sela-sela prosesi serah terima.

Tak lama setelah prosesi usai, warga berduyun-duyun menuju halaman Perpustakaan Nasional Bung Karno. Di sana, Kenduri Pancasila digelar. Dalam suasana sederhana, para budayawan duduk lesehan berdampingan dengan para pejabat, tokoh masyarakat dan warga. Hidangan tradisional disajikan tanpa sekat, menandai bahwa gotong royong dan persaudaraan tetap menjadi fondasi kebangsaan yang tak tergoyahkan.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar Edy Wasono, Kenduri Pancasila adalah puncak dari perayaan Grebeg Pancasila. Ia menyebutkan bahwa rangkaian kegiatan tahun ini tetap mengacu pada format sebelumnya: Kirab Pancasila, renungan malam, upacara pagi, hingga kenduri dan rebutan gunungan.

“Ini bukan hanya seremoni, melainkan juga bagian dari pendidikan kebangsaan. Nilai-nilai dasar bangsa disampaikan bukan lewat ceramah, tetapi lewat aksi dan partisipasi,” ungkapnya.

Sekitar pukul 10.30 WIB, doa bersama dipanjatkan. Hening sejenak menyelimuti halaman perpustakaan. Lalu, momen yang paling ditunggu tiba. Dengan senyum mengembang dan semangat yang tak surut, warga berebut isi gunungan. Bukan karena lapar, melainkan karena keyakinan bahwa hasil bumi itu membawa berkah.

Seorang warga bernama Siti Rukayah, 56 tahun, mengaku selalu hadir dalam momen rebutan gunungan setiap 1 Juni. Baginya, membawa pulang satu buah terong atau jagung dari gunungan adalah rezeki tersendiri. “Bukan nilainya, tapi maknanya. Ini berkah Bung Karno dan berkah Pancasila,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah keramaian, tak sedikit anak-anak tertawa riang menggenggam hasil panen yang berhasil mereka raih. Sebuah pemandangan yang menyentuh: tradisi tak hanya diwariskan, tapi juga diteruskan dengan rasa suka cita.

Bagi Pemerintah Kota Blitar, perayaan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan instrumen pembangunan karakter bangsa. Mas Ibin menegaskan bahwa Kota Blitar punya tanggung jawab historis dan moral dalam menjaga warisan Bung Karno. Ia berharap Blitar menjadi rujukan nasional dalam merawat nilai-nilai Pancasila.

Baca Juga : Upacara Harlah Pancasila, Wali Kota Blitar Mas Ibin: Pancasila Harus Jadi Kompas Masa Depan

“Kota ini bukan hanya tempat peristirahatan terakhir Bung Karno. Kota ini adalah nadi sejarah di mana Hari Lahir Pancasila dikobarkan pertama kali. Maka tugas kita menjaga denyutnya agar tetap hidup di hati rakyat,” ucapnya.

Grebeg Pancasila bukan hanya tentang budaya, tapi juga tentang bagaimana sejarah, spiritualitas, dan pembangunan karakter berpadu dalam satu napas. Di tengah tantangan zaman yang makin kompleks, Blitar memberi pelajaran penting: bahwa kekuatan bangsa ini bukan terletak pada upacara besar, melainkan pada tradisi yang hidup bersama rakyat.

Dan di sinilah, di bawah bayang Gunungan Lima, nilai-nilai itu terus tumbuh dan berakar.

Upacara Harlah Pancasila di Kota Blitar, Mas Ibin: Pancasila adalah Kompas Masa Depan

Suasana Minggu pagi, 1 Juni 2025, di Alun-Alun Kota Blitar terasa berbeda. Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila berlangsung dalam nuansa budaya, dipimpin langsung oleh Wali Kota Blitar, H Syauqul Muhibbin (Mas Ibin). Peserta upacara mengenakan busana Djadoel Puspadahana dan membawa tumpeng gunungan sebagai simbol kesejahteraan dan gotong royong.

Dalam amanatnya, Mas Ibin membacakan sambutan Kepala BPIP Yudian Wahyudi, yang menekankan bahwa Pancasila bukan sekadar dokumen historis, melainkan pedoman hidup berbangsa. Ia mengingatkan bahwa tantangan ideologis di era digital menuntut masyarakat untuk menguatkan kembali nilai-nilai dasar bangsa.

“Pancasila bukan warisan masa lalu, melainkan kompas masa depan,” ujar Mas Ibin. Ia juga mendorong generasi muda untuk menghidupkan semangat kebhinekaan dan keadilan sosial. Pemerintah pusat, melalui Asta Cita, telah menempatkan penguatan ideologi Pancasila sebagai prioritas menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam konteks lokal, Mas Ibin menyatakan bahwa nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam pelayanan publik yang transparan, pendidikan karakter, serta dukungan terhadap UMKM dan koperasi. Ia menegaskan bahwa ASN harus menjadi contoh dalam menjalankan nilai-nilai tersebut.

Upacara tahun ini tak hanya menjadi seremoni, melainkan pernyataan bahwa Blitar ingin menjadi ruang tumbuhnya semangat kebangsaan. Kehadiran budaya lokal dan partisipasi lintas usia menjadi bukti bahwa Pancasila tetap hidup dan relevan. “Hari ini kita memperingati Pancasila dengan budaya, tapi esok dan seterusnya, kita harus menjadikannya sebagai laku hidup,” pungkas Mas Ibin.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa

--- Iklan Sponsor ---