JATIMTIMES - Arema FC terus berharap agar oknum pelempar batu ke bus Persik Kediri dapat segera ditangkap oleh polisi. Karena selama 14 hari lamanya, belum ada satupun tersangka yang diamankan oleh polisi.
Sebagai informasi, peristiwa pelemparan batu ke bus Persik Kediri terjadi usai tim Arema FC kalah dari tim tamu Macan Putih (julukan Persik) pada Minggu (11/5/2025) lalu di Stadion Kanjuruhan.
Baca Juga : Polisi Selidiki Dugaan Aksi Penipuan Modus Gendam di Pasar Bululawang
Saat itu, tim Persik Kediri menaiki bus dan akan kembali ke hotel. Namun setelah keluar dari kawasan Stadion Kanjuruhan, ada oknum yang melempar batu hingga mengenai pelatih Persik Kediri dan mengakibatkan luka.
General Manager (GM) Arema FC, Yusrinal Fitriandi mengatakan saat ini pihaknya tidak bisa berharap selain kepada polisi. Dalam hal ini menunggu progres dari polisi terkait penanganan kasus pelemparan batu ke bus Persik Kediri.
“Kita terus mendorong pihak kepolisian untuk menangkap pelakunya. Karena ini sudah hampir 2 minggu, tapi siapa pelakunya belum ketemu,” kata Yusrinal.
Pria yang akrab disapa Inal itu menjelaskan bahwa pihaknya menerima informasi dari polisi sebatas 15 saksi yang telah dimintai keterangan. Untuk perkembangan kasusnya, Inal mengaku masih belum mengetahui.
Yusrinal mengungkapkan kalau sejauh ini, pihak kepolisian baru memberikan update bahwa sudah 15 saksi yang diperiksa. Selanjutnya, belum ada perkembangan lagi terkait kasus ini.
Inal mengaku ia pun sangat penasaran dengan oknum pelaku pelemparan bus Persik Kediri itu. Ia ingin mengetahui motif dibalik aksi yang dilakukan hingga merugikan tim Arema FC sendiri sebagai tuan rumah penyelenggara pertandingan dan juga Persik Kediri.
Baca Juga : Januari-Mei 2025, Sudah Ada 31 Kasus DBD di Kota Batu
Disisi lain, Inal mengaku timnya baru saja kembali ke kandangnya setelah beberapa tahun menjadi musafir atau berkandang di luar Malang. Dan ketika telah kembali ke Malang, justru dirusak oleh oknum dan hingga saat ini belum ditemukan sosoknya.
“Saya yakin Aremania dan masyarakat juga penasaran dengan pelakunya, dan apa sebenarnya motifnya. Kita menunggu pihak kepolisian segera mengungkap kasus ini,” harap Inal.
Ketika itu, Inal mengaku kesabarannya sudah setipis tisu. Sebab, pihaknya sebagai manajemen Arema FC seolah menjadi pihak yang paling disudutkan. Padahal, Inal menjelaskan bahwa pelemparan batu itu terjadi pada ring empat atau di luar Stadion Kanjuruhan dan seharusnya menjadi lokasi yang diamankan oleh pihak kepolisian.
“Manajemen selalu jadi bahan cercaan, seolah pelaku utamanya pelemparan bus, entah itu oknum atau seseorang atau kelompok yang merasa bahwa perilakunya tidak salah. Sekali lagi kejadiannya terjadi di area zona 4 diluar kawasan stadion dan jauh dari kewenangan Panpel,” pungkasnya.