JATIMTIMES - Pelestarian satwa di lembaga konservasi masih menyisakan pekerjaan rumah, utamanya yang dikelola pemerintah. Beberapa lembaga konservasi pelat merah dinilai kurang maksimal dalam upaya dan komitmen pelestarian. Sejumlah kebun binatang juga didapati mengalami kelebihan populasi hingga terjadinya kematian satwa.
Hal tersebut menjadi sorotan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI). Kondisi sejumlah lembaga konservasi (LK) dianggap cukup memprihatinkan, terutama yang dinaungi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Baca Juga : Batasi Minimarket Dekat Pasar, PKB Kota Malang Sarankan Evaluasi hingga Moratorium Izin Baru
"Masih ada LK yang belum mampu tapi memelihara satwa yang butuh perhatian lebih, terutama pelat merah. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki," ungkap Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan saat ditemui di Kota Batu, belum lama ini.
Kerja sama dengan lembaga swasta yang sudah baik dalam hal pengelolaan konservasi menjadi usulan yang bisa dipertimbangkan. Mengingat, sejumlah lembaga konservasi sudah mendapatkan pengakuan dunia dan menjalin sinergi untuk konservasi satwa liar.
"Yang disayangkan kalau lembaga kita bisa dipuji di luar negeri, tapi di sisi lain masih ada yang belum mampu, bahkan over-populasi," tambahnya.
Hal senada disampaikan Ketua Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) Rahmat Shah. Ia juga mengharuskan sinergi dan kerja sama antar LK swasta dan milik pemerintah bisa terjalin.
Upaya itu dinilai ideal dalam mendukung kesejahteraan satwa tanpa membebani anggaran negara. "Satwa yang terlindungi bisa hidup sejahtera, berkembang biak dengan baik, dan pemerintah pun tidak perlu mengeluarkan dana lebih," harap Rahmat.
Baca Juga : Penerapan Delapan Syarikah: Kemenag Kabupaten Malang Imbau Jemaah Haji Tetap Tenang
Dirinya juga menyoroti pentingnya pengelolaan populasi satwa di lembaga konservasi. Rahmat menyoroti fenomena over-populasi satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Jawa Timur, yang menurutnya justru berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup satwa.
Dikatakannya, keberadaan kebun binatang bukan sekadar untuk pameran satwa, tetapi sebagai lembaga pendidikan dan pelestarian. Ia mendesak agar pihak LK menghindari penumpukan satwa dan menciptakan sistem konservasi yang lebih efektif dan efisien.
"Kalau sampai over-populasi dalam satu tempat, bisa terjadi inbreeding atau perkawinan sedarah yang merusak genetik. Selain itu, biaya pakan akan membengkak dan bisa menimbulkan konflik antar-satwa hingga saling membunuh," katanya.