JATIMTIMES - Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad Mayjen TNI Susilo berkomitmen memerangi sampah yang menumpuk dengan meluncurkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Program Pionir di Komplek Markas Divisi Infanteri 2 Kostrad yang berlokasi di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Peluncuran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Program Pionir ini juga sebagai respons cepat dari Divisi Infanteri 2 Kostrad dalam mengatasi permasalahan sampah. Di mana Presiden RI Prabowo Subianto melalui Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq telah menargetkan di tahun 2026 sudah tidak ada lagi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di seluruh Indonesia yang menggunakan sistem open dumping atau tempat pembuangan sampah secara terbuka.
Baca Juga : Eksplorasi Edukatif Lewat Outing Class, Siswa MIN 2 Kota Malang Rasakan Langsung 'Sekolah Tanpa Dinding'
Susilo yang kini juga dinobatkan sebagai Panglima Perang Sampah ini menyampaikan, bahwa TNI memiliki tugas untuk melakukan operasi militer. Menurut Susilo, penuntasan permasalahan sampah dengan meluncurkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Program Pionir ini merupakan salah satu pemenuhan tugas TNI dalam melakukan operasi militer non perang.
"Salah satu tugas TNI dalam operasi militer selain perang adalah membantu pemerintah, termasuk di bidang lingkungan hidup. Divif 2 Kostrad siap bersinergi dengan Pemkab Malang dalam mengatasi persoalan sampah," ungkap Susilo saat memberikan sambutan, Minggu (20/4/2025).
Jenderal jebolan Akademi Militer 1993 ini mengatakan, bahwa permasalahan sampah merupakan tanggung jawab seluruh pihak, termasuk di dalamnya jajaran TNI yang juga harus memberikan contoh kepada masyarakat.
Oleh karena itu, pihaknya menggandeng beberapa akademisi serta para praktisi untuk menciptakan sebuah alat pembakar sampah atau incenerator bernama Wisanggeni Gen 6 yang merupakan hasil produksi anak bangsa.
"Mesin incenerator Wisanggeni Gen 6 ini merupakan hasil karya anak bangsa. Jadi sebenarnya kita tidak perlu banyak studi ke luar negeri yang programnya hanya berjalan satu bulan saja setelah itu selesai. Dengan Wisanggeni Gen 6 ini, sampah dapat diolah dan bernilai ekonomis. Sehingga dapat mewujudkan zero waste," jelas Susilo.
Menurut Susilo, melalui sinergitas dengan seluruh stakeholder terkait, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Program Pionir Divisi Infanteri 2 Kostrad akhirnya pertama kali diluncurkan di Kabupaten Malang. Pihaknya juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan kepada jajaran Divisi Infanteri 2 Kostrad dalam mewujudkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Program Pionir.
"Sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Maka mari kita bersama-sama perangi sampah demi Indonesia yang bersih, indah dan sejahtera. Yakin dan percayalah ketika kita kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, maka semua permasalahan akan tuntas," kata Susilo yang pernah menjabat sebagai Dandim 0818/Malang-Batu saat Bupati Malang dijabat oleh Rendra Kresna.

Sementara itu, Komandan Detasemen Markas Divisi Infanteri 2 Kostrad Mayor Inf Rendra Dwi Jayanto menambahkan, Divisi Infanteri 2 Kostrad memiliki 12 RT dan setiap harinya menghasilkan 1,2 ton sampah. Sebelumnya sampah hanya menumpuk dan belum diolah secara terpadu.
"Berkat dukungan dari Bapak Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad Mayjen TNI Susilo, tempat pembuangan sampah yang berada di atas lahan 600 meter persegi ini menjadi tempat pengolahan sampah terpadu program pionir," ujar Rendra.
Rendra mengatakan, selain lahan 600 meter persegi yang digunakan untuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Program Pionir, Divisi Infanteri 2 Kostrad juga memanfaatkan lahan seluas 430 meter persegi untuk pengelolaan produk turunan hasil olahan pembakaran sampah.
Baca Juga : Mulai Turun Tangan, Polresta Malang Kota Selidiki Temuan Limbah Medis di TPA Supiturang
"Di sini terbentang lahan seluas 600 meter persegi yang telah dibangun tempat pengolahan sampah terpadu program pionir selama tiga bulan. Lalu ada 430 meter persegi dibangun tempat untuk turunan hasil dari pengolahan sampah. Mulai dari paving blok, kompos dan pupuk organik cair atau poc," beber Rendra.
Sementara itu, Founder Wisanggeni Herdadi Bustaman menyampaikan, alat pembakar sampah atau incenerator buatannya ini telah melalui berbagai percobaan yang di awali sejak tahun 2019. Di mana setiap kali percobaan, Herdadi atau Dadi -sapaan akrabnya- selalu dilakukan bongkar pasang alat untuk memastikan sampah dapat terbakar sempurna tanpa menimbulkan polutan yang berbahaya.
"Alat ini dibuat setelah kita melakukan berbagai percobaan dan riset mendalam. Akhirnya terciptalah Wisanggeni Gen 6 yang hari ini diluncurkan oleh Bapak Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad Mayjen TNI Susilo," ujar Dadi.
Untuk pemrosesan pembakaran sampah, secara standar operasional prosedur dibutuhkan waktu selama delapan jam untuk membakar sampah 10 ton per harinya. Hal ini membuat sampah organik dan anorganik dapat terbakar dengan sempurna.
"Jadi untuk sampah yang kita olah itu sampah organik dan anorganik. Kalau B3 itu tidak boleh, itu memerlukan pengolahan khusus. Sebelum dibakar, sampah akan dipilah dulu. Seperti sampah yang masih memiliki nilai ekonomis, akan dipisahkan. Sedangkan yang sudah tidak memiliki nilai ekonomis langsung kita masukkan ke incenerator," jelas Dadi.
Lebih lanjut, dengan diluncurkannya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Program Pionir di Markas Divisi Infanteri 2 Kostrad ini, diharapkan dapat membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dalam menuntaskan permasalahan sampah di Kabupaten Malang dan Indonesia pada umumnya.
Sebagai informasi, hadir dalam kegiatan peluncuran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Program Pionir yakni Bupati Malang HM. Sanusi, mantan Bupati Malang Rendra Kresna, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman, serta jajaran petinggi TNI di masing-masing satuan yang berada di bawah naungan Divisi Infanteri 2 Kostrad.