JATIMTIMES – Kerja sama Universitas Islam Malang (Unisma) dengan perusahaan teknologi pendidikan asal Amerika Serikat, Parallaxnet LLC, tidak sekadar menjadi agenda penandatanganan nota kesepahaman (MoU), Rabu, (26/8/2026) di Unisma. Kolaborasi ini membawa isu yang lebih besar, yakni upaya mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antara mahasiswa di kota besar dan daerah melalui pemanfaatan teknologi pembelajaran daring serta sertifikasi internasional.
Rektor Unisma, Prof. Drs. Junaidi Mistar, Ph.D., menilai ketimpangan akses terhadap pendidikan berkualitas masih menjadi persoalan global. Selama ini, mahasiswa dari keluarga dengan kemampuan ekonomi lebih baik memiliki peluang lebih besar untuk mengenyam pendidikan di kampus-kampus unggulan, sementara mahasiswa dari daerah atau keluarga kurang mampu kerap menghadapi keterbatasan akses.

“Beliau memiliki cita-cita besar untuk mengubah keadaan yang ada sekarang. Pendidikan seharusnya tidak ditentukan oleh faktor ekonomi. Mahasiswa yang belajar di mana pun semestinya memperoleh konten pembelajaran yang sama, kompetensi yang sama, dan kualitas yang setara,” ujar Prof. Junaidi dalam sambutannya.
Baca Juga : RS Hermina ke-54 Diresmikan di Kepanjen Malang, Perkuat Layanan Kesehatan dan Gawat Darurat
Menurutnya, teknologi digital membuka peluang baru untuk menciptakan pemerataan kualitas pendidikan. Melalui platform pembelajaran daring yang dikembangkan Parallaxnet, mahasiswa dari berbagai daerah dapat mengakses materi yang sama serta memperoleh sertifikasi yang diakui secara internasional.
“Dengan konten yang sama, maka keterampilan, kompetensi, dan kualitas lulusan juga akan sama. Belajar di Jakarta seharusnya dapat memberikan hasil yang setara dengan belajar di Pacitan atau daerah lain,” katanya.
Kerja sama yang masih berada pada tahap MoU ini akan dilanjutkan dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang mengatur implementasi teknis program. Salah satu fokusnya adalah penyediaan pembelajaran online lintas disiplin ilmu yang dapat diikuti mahasiswa Unisma.
Program tersebut dirancang untuk menjangkau seluruh fakultas, baik bidang sosial maupun sains dan teknologi. Fakultas Agama Islam, Hukum, FKIP, FIA, Teknik, Pertanian, Peternakan, MIPA, hingga Fakultas Kedokteran disebut berpotensi terlibat dalam program sertifikasi internasional tersebut.

“Mahasiswa nantinya dapat mengikuti pembelajaran secara online dan memperoleh sertifikat yang berlaku secara internasional. Ini menjadi nilai tambah bagi lulusan ketika memasuki dunia kerja global,” ujar Prof. Junaidi.
Lebih jauh, kerja sama ini juga berpotensi meluas ke jaringan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di Indonesia. Prof. Junaidi mengungkapkan, sekitar 30 PTNU di Jawa Timur dan beberapa PTNU dari luar Jawa Timur telah menyatakan minat untuk mengikuti inisiatif tersebut. Perguruan tinggi dari Sumatra hingga Maluku Utara disebut siap bergabung dalam pengembangan ekosistem pembelajaran digital bersama.
CEO Parallaxnet LLC, Mazhar Durrani, menegaskan bahwa gagasan utama yang dibawa perusahaannya adalah menciptakan kesetaraan dalam pendidikan global. Menurutnya, teknologi memungkinkan setiap mahasiswa, tanpa memandang latar belakang ekonomi atau geografis, memperoleh kualitas pembelajaran yang sama.
Baca Juga : Pertumbuhan Ekonomi di Jatim Capai 5,72 Persen, GIIAS Surabaya 2026 Diharapkan Melebihi Jakarta
“Saya melihat di banyak negara, jika seseorang berasal dari keluarga kaya, ia memiliki akses pada pendidikan terbaik. Namun jika berasal dari keluarga kurang mampu, peluangnya jauh lebih kecil. Teknologi hari ini memungkinkan kita mengubah kondisi itu,” kata Mazhar.
Mazhar, yang mengaku telah mengelola bisnis di 14 negara, menyebut sertifikasi internasional menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan daya saing lulusan. Sertifikat dari lembaga global dapat membuka akses lebih luas terhadap pekerjaan, pendidikan lanjutan, maupun peluang internasional lainnya.
“Anak dari keluarga kaya maupun anak dari pengemudi ojek semestinya memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan sertifikasi Amerika atau Eropa. Kontennya sama, sertifikasinya sama, sehingga mereka dapat bersaing secara setara,” ujarnya.
Saat ini, Parallaxnet telah bekerja sama dengan lebih dari 50 universitas melalui platform pembelajaran daring dan memiliki lebih dari 200 nota kesepahaman di Indonesia. Program yang dikembangkan juga melibatkan mitra internasional seperti Oxford Institute of Technology dan GLS Geneva.
Bagi Unisma, kolaborasi ini bukan hanya tentang digitalisasi pembelajaran, tetapi juga bagian dari upaya menjawab tantangan ketimpangan mutu pendidikan yang masih terjadi di Indonesia. Jika implementasi berjalan efektif, model ini dapat menjadi jalan baru bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan akses pendidikan dan sertifikasi global yang lebih merata, tanpa dibatasi lokasi geografis maupun kondisi ekonomi mahasiswa.