JATIMTIMES - Video yang memperlihatkan debu pekat beterbangan di kawasan Lowokwaru, Kota Malang, viral di media sosial. Debu tersebut diduga berasal dari aktivitas pembangunan RSI Unisma.
Keluhan itu disampaikan akun Instagram @sudarno_pengaduan melalui unggahan yang menyebut laporan warga diterima pada Senin (24/8/2026). Dalam unggahan tersebut, tampak debu beterbangan cukup tebal hingga pekat dan diduga menganggu jarak pandang.
Baca Juga : Genjot Ketahanan Pangan, Hany DPRD Jatim Inisiasi Bantuan Alsintan untuk Petani Tuban
"Kami dari @pengaduan_publik hari ini memperoleh Laporan dari warga pada senin 24 agustus 2026 terkait debu yang berterbangan di duga akibat proses pembangunan dari RSI Unisma @rsiunisma," tulis akun tersebut.
Dalam unggahan itu disebutkan debu dari aktivitas pembangunan berdampak terhadap masyarakat sekitar, termasuk pelaku UMKM yang berjualan makanan.
"Ketiadaan pengamanan dalam penanganan dampak pembangunan ini tentunya sangat merugikan bagi UMKM yang berjualan makanan dan juga mengakibatkan kotornya sekitar lingkungan pembangunan," lanjutnya.
Pengunggah juga meminta pihak terkait turun tangan untuk memastikan aktivitas pembangunan tidak menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat.
"Saya berharap Satpol PP Gsatpolpp.malangkota dan @humaslowokwaru melakukan penertiban atas tindakan pembangunan yang dampaknya menganggu masyarakat," tulisnya.
Bahaya Debu bagi Kesehatan
Paparan debu dalam jumlah tinggi dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi orang yang berada di sekitar sumber debu dalam waktu lama. Partikel debu yang terhirup dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan serta memicu batuk dan sesak pada sebagian orang.
Partikel yang berukuran sangat kecil juga dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan. Karena itu, pengendalian debu menjadi bagian penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja maupun perlindungan masyarakat di sekitar proyek konstruksi.
Debu yang beterbangan juga dapat mengurangi jarak pandang pengguna jalan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, terutama jika debu muncul dalam jumlah pekat dan tiba-tiba.
Sejumlah langkah seperti penyiraman area berdebu, pengamanan material, penutup pada kendaraan pengangkut material, pembersihan jalan di sekitar proyek, serta penggunaan penghalang debu dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran debu ke lingkungan sekitar.
RSI Unisma Sebelumnya Disorot soal Gaji Karyawan
Keluhan mengenai debu pembangunan ini muncul ketika RSI Unisma sebelumnya juga menjadi sorotan publik terkait persoalan tunggakan gaji karyawan.
Kini, warga mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab memastikan aktivitas pembangunan rumah sakit tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat dan pelaku usaha di sekitarnya.
"Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab memastikan aktivitas pembangunan tidak merugikan masyarakat dan pelaku usaha di sekitarnya?" tulis akun tersebut.
Warga juga mempertanyakan penerapan pengendalian debu selama proses pembangunan berlangsung.
"Apakah sudah ada pengendalian debu dan pengamanan lingkungan selama proses pembangunan berlangsung?" lanjutnya.
Unggahan tersebut kemudian mendapat beragam komentar dari warganet. Sejumlah pengguna media sosial menyoroti tebalnya debu hingga meminta adanya penyiraman di lokasi proyek.
"Mbangun opo maneh? Gk isok mbayar gaji karyawan kok mbagun2 ae," tulis @eazypiz****.
"Sop harusnya disiram itu," komentar @zahirku***.
"Waduh parah debu sampai kayak gitu berasa badai, dan bahaya juga buat pengguna jalan, kontraktornya gimana sih," tulis @mahfudoffi****.
"K3 ne proyek pie iki," komentar @celvindwisap****.
"kemarin lewat juga begini debunya buset ke muka," tulis @indraaa****.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan dari manajemen RSI Unisma mengenai keluhan warga tersebut. Media ini masih berupaya mengonfirmasi pihak RSI Unisma terkait ramainya isu ini.