JATIMTIMES - Gemuruh musik yang selama dua hari mengisi kawasan Batu Night Spectacular (BNS) Kota Batu akhirnya mereda. Partilibur Caravan 2026 telah rampung digelar pada Sabtu-Minggu (1-2/8/2026) lalu meninggalkan satu catatan penting tentang bagaimana sebuah festival musik mencoba mencari bentuk baru di tengah geliat industri event di Jawa Timur.
Bukan sekadar menghadirkan panggung dan deretan musisi, Partilibur Caravan 2026 membawa penonton masuk ke ruang yang tidak lazim untuk sebuah festival musik. Konsep caravan bernuansa sirkus dipadukan dengan karakter theme park BNS, membuat arena wahana dan berbagai sudut kawasan menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan.
Baca Juga : Pencuri Motor Petani Saat Panen Diciduk Polisi
Konsep inilah yang menjadi salah satu isu menarik setelah festival berakhir. Partilibur tidak memilih jalan yang selama ini lazim ditempuh festival musik, yakni berlomba menghadirkan panggung semakin besar, penampil semakin populer, dan jumlah penonton semakin banyak.
Festival Director Partilibur, Gahtan Thoriq, justru menempatkan keunikan ruang sebagai identitas utama festival yang lahir dari Lumajang tersebut.
"Setiap tahun konser biasanya dituntut untuk lebih besar, menghadirkan band yang lebih besar, dan sebagainya. Di Partilibur, kami tidak ingin mengikuti pola itu. Kami ingin memiliki ciri khas sendiri, yaitu menghadirkan festival di tempat-tempat yang unik, di ruang-ruang yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya," jelasnya.
"Kami ingin orang datang bukan hanya karena line-up, tetapi juga karena penasaran dengan apa yang akan dikerjakan oleh Partilibur setiap tahunnya," tambahnya.
Selama dua hari, sebanyak 105 penampil meramaikan Partilibur Caravan 2026. Sekitar 40 persen di antaranya merupakan musisi lokal Jawa Timur. Komposisi tersebut menunjukkan upaya penyelenggara menjadikan festival bukan hanya sebagai panggung hiburan, tetapi juga ruang pertemuan bagi ekosistem musik daerah.
Partilibur menyebut para penampil dipilih melalui proses kurasi, baik dari submission maupun musisi yang berasal dari Jawa Timur dan luar Jawa Timur. Beberapa di antaranya merupakan band yang belum pernah tampil atau sudah lama tidak hadir di panggung Jawa Timur.
Bagi Gahtan, keberadaan musisi lokal tidak bisa dilepaskan dari identitas Partilibur sebagai gerakan kolektif yang tumbuh dari Jawa Timur. "Partilibur merupakan gerakan kolektif dari teman-teman di Jawa Timur. Banyak tim produksi yang terlibat berasal dari Jawa Timur dan kami juga memberi ruang bagi band-band lokal untuk tampil," katanya.
Namun, usai festival perdana di Kota Batu ini, pertanyaan berikutnya justru mengarah pada masa depan Partilibur. Apakah Batu akan menjadi rumah baru festival tersebut atau hanya menjadi salah satu persinggahan dalam perjalanan panjang Partilibur?
Penyelenggara belum memberikan kepastian. Yang jelas, Partilibur tetap membuka peluang menjelajah kota-kota lain di Jawa Timur. Bahkan, Gahtan secara terbuka mengajak masyarakat ikut menentukan kota dan lokasi penyelenggaraan berikutnya.
"Sekarang kami buka sayembara, kira-kira kota mana dan tempat mana yang menurut kalian cocok untuk Partilibur selanjutnya. Sekalian, sponsor siapa yang mau membantu Partilibur di 2027. Karena tahun depan kami ingin membawa sesuatu yang lebih spektakuler lagi," ujar Gahtan.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa perjalanan Partilibur masih akan berlanjut dengan konsep yang kemungkinan kembali berubah. Setelah Lumajang dan kini Batu, festival ini membuka kemungkinan untuk membawa identitasnya ke ruang-ruang baru.
Perpindahan ke Batu sendiri sejak awal ditegaskan bukan sebagai bentuk meninggalkan Lumajang. Kota tempat Partilibur tumbuh tetap menjadi bagian dari perjalanan festival tersebut. "Kami memang tumbuh dari Lumajang, dan di sana ruang untuk mengekspresikan festival masih sangat terbatas. Setelah Partilibur edisi keempat, kami memutuskan untuk hadir di Batu. Namun, bukan berarti kami meninggalkan Lumajang. Kami tetap akan menghadirkan berbagai aktivasi dan konsep-konsep berskala kecil agar hubungan dengan Lumajang tetap terjaga," ujarnya.
Di sisi lain, keberhasilan penyelenggaraan Partilibur Caravan 2026 juga memunculkan pembicaraan mengenai peluang Kota Batu menjadi salah satu episentrum baru festival di Jawa Timur.
Gahtan melihat Batu memiliki modal yang kuat. Kota wisata ini telah memiliki beragam destinasi, tetapi menurutnya masih terbuka ruang yang lebar untuk memperbanyak festival.
"Malang menjadi salah satu kota dengan festival terbanyak dalam enam bulan terakhir. Sementara Batu memiliki banyak destinasi wisata, tetapi belum banyak festival yang digelar di sini," tuturnya.
Baca Juga : Pencuri Motor Petani Saat Panen Diciduk Polisi
Bagi penyelenggara, perpaduan wisata dan festival menjadi kekuatan tersendiri. Pengunjung dapat menikmati musik sekaligus merasakan atmosfer wahana malam yang menjadi karakter BNS.
"Harapannya Partilibur bisa menjadi pemantik bagi promotor lain untuk menghadirkan berbagai festival di Kota Batu, tidak hanya festival musik, tetapi juga festival kuliner maupun kegiatan kreatif lainnya," ujarnya.
Geliat tersebut juga mendapat respons positif dari Pemerintah Kota Batu. Wali Kota Batu Nurochman menilai kolaborasi Partilibur dengan BNS menjadi pengalaman baru bagi kota wisata tersebut.
"Melihat antusiasme masyarakat malam ini, saya optimis Kota Batu mampu menjadi tuan rumah berbagai festival musik berskala besar. Semoga semangat ini terus tumbuh dan membuka lebih banyak ruang bagi pelaku seni, UMKM, serta sektor pariwisata untuk berkembang bersama," kata Wali Kota Nurochman.
Bagi pemerintah daerah, keberadaan festival tidak berhenti pada urusan hiburan. Ada mata rantai ekonomi yang diharapkan ikut bergerak, mulai dari pelaku UMKM, pekerja kreatif, sektor akomodasi, kuliner hingga pariwisata.
Karena itu, Partilibur Caravan 2026 bisa menjadi salah satu pijakan untuk melihat seberapa jauh festival musik mampu memberi warna baru bagi industri pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Batu.
Di tengah persaingan festival yang semakin ramai, Partilibur memilih jalan berbeda. Festival ini tidak sekadar menjual nama penampil, tetapi menjadikan lokasi dan pengalaman sebagai bagian dari pertunjukan.
"Kami ingin ekosistem musik di Jawa Timur semakin terkoneksi dengan teman-teman dari Jakarta dan daerah lainnya. Harapannya, koneksi ini dapat membuka peluang kolaborasi sekaligus memperkuat perkembangan ekosistem musik lokal," tutup Gahtan.
Partilibur sendiri lahir di Kabupaten Lumajang pada 16 Januari 2022. Digagas Gahtan Thoriq dengan tagline Suara Dari Timur, festival tersebut tumbuh dari gerakan anak muda lokal.
Dalam empat tahun perjalanannya, Partilibur telah menggelar tujuh konser, tiga festival besar dan tiga festival budaya. Lebih dari 160 performer, 100 UMKM dan 36.000 penonton tercatat pernah terlibat dalam perjalanan festival tersebut.
Kini, setelah dua hari menempati BNS, Partilibur meninggalkan Batu dengan satu pekerjaan rumah sekaligus peluang besar. Membuktikan bahwa festival musik tidak harus selalu tentang panggung yang lebih besar, tetapi bisa tentang tempat yang berbeda, pengalaman yang lebih dekat dan ekosistem kreatif yang terus tumbuh.