JATIMTIMES – Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Situbondo, Andrian Oktadiansyah, menggelar kegiatan reses di wilayah Kecamatan Asembagus, Selasa (28/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi ajang penyerapan aspirasi masyarakat yang dihadiri berbagai elemen warga hingga tokoh masyarakat.
Dalam reses tersebut, Andrian tidak sendiri, ia bersama Bima Rafsanjani, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Kehadiran wakil rakyat dari tingkat kabupaten dan provinsi itu dimanfaatkan warga untuk menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini mereka rasakan di lingkungan tempat tinggalnya.
Baca Juga : BPJS Ketenagakerjaan Kediri-PWI Kediri Raya Bersinergi Hadirkan Perlindungan bagi Insan Pers
Salah satu keluhan yang paling banyak disampaikan warga adalah persoalan limbah abu atau debu sisa pembakaran ampas tebu dari Pabrik Gula (PG) Asembagus atau sering disebut warga sekitar sebagai Lato-Lato. Menurut warga, persoalan tersebut sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum menemukan solusi yang benar-benar efektif.
Warga mengaku lato-lato kerap beterbangan hingga masuk ke permukiman, terutama saat kondisi angin cukup kencang. Lato-lato tersebut tidak hanya mengotori rumah dan perabotan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat.
Beberapa warga menyampaikan bahwa lato-lato yang beterbangan sering menempel pada pakaian yang dijemur, kendaraan, hingga sumber air di sekitar rumah. Kondisi itu dinilai sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kenyamanan lingkungan.
Selain persoalan kebersihan, warga juga mengeluhkan dampak kesehatan yang diduga berkaitan dengan paparan lato-lato. Sejumlah warga mengaku lebih sering mengalami batuk, sesak napas, iritasi tenggorokan, pilek berkepanjangan, hingga mata perih ketika intensitas debu meningkat.
Kelompok yang paling rentan terdampak, menurut warga, adalah anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis. Mereka berharap ada pemeriksaan kesehatan dan langkah pencegahan yang lebih serius untuk melindungi warga sekitar pabrik.
Menanggapi keluhan tersebut, Andrian Oktadiansyah menyatakan bahwa aspirasi masyarakat akan menjadi perhatian serius Fraksi Gerindra DPRD Situbondo. Ia menegaskan bahwa persoalan limbah industri tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan yang jelas.
"Saya menerima langsung keluhan masyarakat terkait abu dan debu sisa pembakaran ampas tebu PG Asembagus. Lato-lato ini bukan persoalan sepele karena menyangkut kenyamanan dan kesehatan warga," kata Andrian saat ditemui usai kegiatan reses.
Menurut Andrian, keberadaan pabrik memang memiliki kontribusi terhadap perekonomian daerah dan penyerapan tenaga kerja. Namun, kegiatan industri juga harus memperhatikan dampak lingkungan dan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar area operasional.
"Industri harus berjalan, tetapi hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat juga wajib dipenuhi. Keluhan ini akan kami tindak lanjuti dengan berkoordinasi bersama pihak terkait," ujarnya.
Baca Juga : Sambut Tambahan TKD, Lilik DPRD Jatim Desak Prioritaskan Pembangunan SMA/SMK Negeri
Ia menambahkan, keluhan warga terkait lato-lato tersebut perlu dikaji secara menyeluruh dengan melibatkan pihak perusahaan, pemerintah daerah, dinas kesehatan, serta instansi yang membidangi lingkungan hidup. Dengan demikian, penanganan yang dilakukan dapat tepat sasaran dan berkelanjutan.
Kegiatan reses berlangsung dalam suasana dialogis. Selain persoalan limbah abu PG Asembagus, warga juga menyampaikan beberapa aspirasi lain yang berkaitan dengan infrastruktur lingkungan dan pelayanan masyarakat. Namun, isu debu pembakaran ampas tebu menjadi pembahasan yang paling dominan dalam pertemuan tersebut.
Andrian akan memastikan bahwa apa yang disampaikan oleh warga saat reses tidak berhenti sebatas pencatatan aspirasi, melainkan akan ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pihak terkait.
"Kami akan mengawal persoalan ini sampai ada langkah nyata untuk mengurangi dampak abu dan debu yang dirasakan masyarakat Asembagus. Warga tidak boleh terus-menerus hidup dalam keresahan akibat persoalan lingkungan yang belum terselesaikan," tegas Ardian.
Selain itu, Adrian juga menyinggung persoalan Proyek Pengembangan dan modernisasi Pabrik Gula Assembagoes di PTPN XI periode 2016–2022 yang menelan anggaran hingga ratusan miliar rupiah. Namun nyatanya hal tersebut tidak mampu mengatasi persoalan limbah tersebut malah menjadi persoalan dugaan kasus korupsi.
Dengan adanya reses tersebut, masyarakat berharap suara mereka benar-benar diteruskan kepada pihak yang berwenang sehingga persoalan limbah abu dan debu sisa pembakaran ampas tebu PG Asembagus dapat segera memperoleh solusi yang nyata dan memberikan kepastian bagi warga yang tinggal di sekitar area pabrik.