free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Ekonomi

Harga Daging Sapi Tembus Rp 148 Ribu, Penjualan Pedagang Pasar Bunul Anjlok Separuh

Penulis : Riski Wijaya - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

26 - Jul - 2026, 19:41

Loading Placeholder
ilustrasi.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Harga daging sapi di Kota Malang melonjak hingga menembus Rp 148 ribu per kilogram. Kenaikan ini mulai memukul pedagang setelah harga komoditas tersebut sebelumnya berada di kisaran Rp 125 ribu per kilogram.

Dampaknya mulai terasa di tingkat pedagang. Volume penjualan daging sapi di Pasar Bunul bahkan turun hingga separuh setelah harga mengalami kenaikan sejak 14 Juli 2026.

Baca Juga : Ketahanan Pangan Masih Bergantung Impor, Dokter Hewan Desak Regulasi Tak Berhenti di Atas Kertas

Pedagang daging sapi Pasar Bunul, Sarbin, mengatakan sebelum harga naik, penjualan dagingnya rata-rata mencapai satu kuintal per hari. Namun, kini jumlah tersebut hanya tersisa sekitar setengahnya.

"Dulu kalau dirata-rata habis satu kuintal, tapi sejak harga naik cuma bisa setengah kuintal," kata Sarbin di Kota Malang, Minggu.

Menurut dia, kenaikan harga membuat sebagian masyarakat mengurangi pembelian daging sapi. Kondisi itu membuat pedagang harus menyesuaikan jumlah daging yang dibeli dari tempat pemotongan.

Di tengah tekanan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai menggencarkan pemantauan harga daging sapi. Langkah itu dilakukan setelah harga komoditas tersebut melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp 140 ribu per kilogram.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengatakan pemantauan dilakukan melalui Pasar Bunul yang menjadi bagian dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

"Memang harga daging sapi naik dan sedang kami pantau terus. Data yang terkumpul kami kirimkan ke pemerintah pusat dan dari situ akan ada intervensinya, bisa ada," ujar Eko.

Pemkot Malang menduga kenaikan harga daging sapi berkaitan dengan meningkatnya harga sapi hidup sejak pertengahan Juni 2026. Kenaikan tersebut disebut turut dipengaruhi meningkatnya biaya pakan ternak.

Baca Juga : Ulah Oknum, Beban Suku: Sisi Lain Perantau Madura

Kondisi itu kemudian berdampak pada meningkatnya biaya modal yang harus dikeluarkan rumah potong hewan untuk membeli sapi hidup. Tekanan biaya tersebut akhirnya berimbas pada harga daging di tingkat konsumen.

Meski demikian, Diskopindag masih melakukan pendalaman untuk memastikan besaran kenaikan harga pakan ternak yang menjadi salah satu faktor pemicu kenaikan harga sapi hidup.

"Iya, pakan konsentrat yang impor itu. Kami juga menunggu, misalnya yang diintervensi bisa dengan menambah suplai sapi hidup di Kota Malang, lalu pedagang akan diajak berkoordinasi," kata Eko.

Pemkot Malang selanjutnya akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menentukan bentuk intervensi yang diperlukan. Salah satu opsi yang tengah dikaji ialah penambahan pasokan sapi hidup ke Kota Malang.

Eko berharap langkah tersebut dapat menekan kenaikan harga daging sapi sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Namun, di tingkat pedagang, dampak kenaikan harga sudah mulai terlihat dari merosotnya volume penjualan.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Riski Wijaya

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi

--- Iklan Sponsor ---