JATIMTIMES - Polemik pembangunan jalan tembus di Kelurahan Mojolangu mulai memasuki babak baru. Tembok pembatas yang selama ini memisahkan wilayah RW 12 Perumahan Griyashanta dengan RW 9 kini telah dibongkar hingga kedua kawasan tersambung.
Pantauan di lokasi pada Selasa (14/7/2026), dinding pembatas tersebut sudah rata dengan tanah. Ruas jalan yang berada di sisi belakang RW 12 juga telah selesai dibangun sehingga akses antarkawasan kini mulai dapat dimanfaatkan masyarakat.
Baca Juga : Setelah Satu Dekade, PKB Surabaya Kembali Merapat ke Kantor PCNU
Keberadaan jalan baru itu langsung dimanfaatkan warga. Sejumlah masyarakat terlihat mulai melintas menggunakan akses tersebut untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Siswa-siswi SMP Negeri 18 Kota Malang yang berada di kawasan RW 12 menjadi salah satu pengguna terbanyak. Selain itu, jalan sepanjang sekitar 500 meter dengan lebar 12 meter yang telah diaspal juga mulai ramai dilalui warga.
Proses menuju terbukanya akses tersebut tidak berlangsung mulus. Sebelumnya, tembok pembatas memang sempat dibongkar, namun warga yang menolak pembangunan jalan kembali memasang penghalang dari bambu.
Pembongkaran kembali dilakukan pada Senin (13/7/2026). Saat itu, alat berat sempat mendapat penolakan dari sejumlah warga yang tetap bersikeras mempertahankan penghalang tersebut. Sehari kemudian, seluruh sisa konstruksi berhasil dibersihkan. Dengan rampungnya pembongkaran, akses antara RW 12 dan RW 9 kini telah benar-benar tersambung.
Meski akses jalan mulai dimanfaatkan masyarakat, Ketua RW 12 Griyashanta, Jusuf Thojib, berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak berhenti sampai di pembukaan jalan. Menurutnya, masih ada sejumlah persoalan yang membutuhkan penyelesaian.
"Tolonglah, Pak Wali Kota dan para penegak hukum, bantulah warga Griyashanta supaya persoalan ini bisa selesai dengan baik," ujar Jusuf, Senin (13/7/2026).
Baca Juga : Pasar Turen Terbakar, Api Diduga dari Tempat Sampah
Ia menilai polemik pembangunan jalan tembus telah memicu konflik internal di lingkungan Perumahan Griyashanta. Perbedaan sikap antara warga yang mendukung dan menolak proyek tersebut sempat membuat hubungan antarwarga memanas.
"Jangan biarkan kami sampai bentrok seperti ini. Seolah-olah kami tidak punya negara yang mengelola persoalan ini," tuturnya.
Sementara itu, pantauan di lapangan menunjukkan portal masih terpasang di ujung jalan dari arah Simpang Candi Panggung. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi antusiasme masyarakat memanfaatkan ruas jalan baru.
Menjelang sore, kawasan itu dipenuhi aktivitas warga. Ada yang bermain layang-layang, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, hingga sekadar berjalan santai menikmati akses baru yang kini menghubungkan dua kawasan tersebut.