free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Melihat Desa Tenganan Bali Aga Masih Pertahankan Tradisi Kuno, Warga Dilarang Menikah dengan Orang Luar 

Penulis : Irsya Richa - Editor : Yunan Helmy

06 - Jul - 2026, 19:57

Loading Placeholder
Desa Wisata Tenganan Pegringsingan yang terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. (Foto : I Wayan Selamat Juniasa)

JATIMTIMES - Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali, Desa Tenganan di Kabupaten Karangasem masih mempertahankan tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Desa yang dikenal sebagai salah satu desa Bali Aga atau Bali Mula itu tetap menjalankan adat yang berbeda dengan sebagian besar masyarakat Bali saat ini.

Lewat sebuah video yang diunggahnya baru-baru ini, kreator konten asal Bali, Lady Quinn, menjelaskan bahwa Tenganan menjadi salah satu desa yang mempertahankan sistem sosial dan budaya yang diyakini berasal dari masa sebelum masuknya pengaruh Kerajaan Majapahit ke Pulau Bali pada abad ke-14.

Baca Juga : TransJatim Tak Lagi Sekadar Angkut Penumpang, Siap Layani Kirim Barang di Malang Raya

“Salah satu desa tertua di Bali ini justru punya tradisi dan adat yang berbeda dari Bali yang kita tahu sekarang,” kata Lady Quinn.

Salah satu aturan adat yang masih dijalankan adalah kewajiban warga untuk menikah dengan sesama masyarakat Desa Tenganan. Menurut Lady Quinn, aturan tersebut diterapkan untuk menjaga kelestarian tradisi serta garis keturunan masyarakat Bali Aga dari pengaruh luar.

“Mereka memutuskan untuk tidak memperbolehkan warganya menikah dengan orang yang berasal dari luar desa dengan tujuan melindungi tradisi Bali Aga dari pengaruh luar serta menjaga garis keturunan,” jelasnya.

Tak hanya itu. Masyarakat Tenganan juga mempertahankan tata cara berpakaian tradisional. Dalam berbagai upacara adat, warga diwajibkan mengenakan kain gringsing, kain tenun khas Tenganan yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat dan pewarna alami.

Lady Quinn menjelaskan proses pembuatan kain gringsing dilakukan secara tradisional. Bahkan masyarakat setempat meyakini kualitas warna terbaik hanya dapat diperoleh jika kain diproses menggunakan air hujan, termasuk saat pencuciannya.

“Mereka percaya warna terbaiknya hanya akan keluar jika kain ini dibuat menggunakan air hujan. Bahkan kain ini hanya boleh dicuci menggunakan air hujan,” tambah Lady Quinn.

Karena  pembuatannya yang rumit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun, harga kain gringsing pun tidak murah. Nilainya dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, bergantung pada ukuran, motif, hingga usia kain tersebut.

Selain mempertahankan busana adat, Desa Tenganan juga memiliki sistem kalender tradisional yang berbeda. Dalam sistem tersebut, satu bulan hanya terdiri dari 15 hari, berbeda dengan kalender Masehi maupun kalender Bali pada umumnya.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Senin Wage 6 Juli 2026: Hari Baik untuk Bekerja 

Lady Quinn juga menyebut masyarakat Tenganan tidak mengenal sistem kasta sebagai dasar dalam menentukan pemimpin desa. Sistem tersebut diyakini masih mencerminkan kehidupan masyarakat Bali sebelum pengaruh Majapahit berkembang luas.

“Mereka memilih untuk tidak menentukan pemimpin berdasarkan kasta seperti yang kemudian berkembang di masyarakat Bali setelah masuknya pengaruh Majapahit,” ujarnya.

Keunikan lain terlihat dari letak geografis desa-desa Bali Aga yang umumnya berada di wilayah terpencil. Menurut Lady Quinn, posisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang membuat tradisi leluhur tetap bertahan hingga sekarang.

Desa Tenganan berada di antara perbukitan. Sementara desa Bali Aga lainnya seperti Trunyan dan Sembiran juga berada di kawasan yang relatif sulit dijangkau pada masa lalu. Kondisi itu dinilai membantu masyarakat mempertahankan identitas budaya mereka selama berabad-abad.

Selain dikenal dengan kain gringsing, Desa Tenganan juga memiliki sejumlah tradisi khas seperti Perang Pandan atau Mekare-kare, arsitektur rumah adat yang masih terjaga, hingga berbagai ritual yang terus dilaksanakan setiap tahun. Kekayaan budaya tersebut menjadikan Desa Tenganan sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang masih mempertahankan jejak sejarah Bali Aga hingga saat ini.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---