JATIMTIMES – Akses terhadap jejaring riset Eropa semakin terbuka bagi Universitas Islam Malang (Unisma) setelah kampus tersebut resmi menjalin kemitraan dengan Austrian Institute for Family Studies (OIF) dan University of Vienna, Austria. Kesepakatan yang diteken pada pertengahan Juni 2026 itu, membuka peluang kolaborasi dalam penelitian lintas disiplin, publikasi ilmiah internasional, hingga pengembangan skema mobilitas akademik.
Kerja sama tersebut menjadi langkah penting mengingat Austrian Institute for Family Studies merupakan lembaga riset yang berada di bawah naungan University of Vienna dan dikenal memiliki fokus kuat pada studi keluarga, kebijakan sosial, gender, serta pembangunan masyarakat. Bidang-bidang tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan berbagai tantangan sosial kontemporer yang juga menjadi perhatian akademisi di Indonesia.
Baca Juga : PKS DPRD Jatim Minta Aturan Kuota Kerja Disabilitas Tak Diakali Perusahaan
Dalam pertemuan di Wina, delegasi Unisma bertemu langsung dengan Prof. Dr. Wolfgang Mazal selaku Scientific Director Austrian Institute for Family Studies sekaligus profesor di University of Vienna. Turut hadir Dr. Eva-Maria Schmidt yang menjabat Deputy Scientific Director dan Senior Researcher pada institusi tersebut.
Selain menandatangani nota kesepahaman, kedua pihak membahas peluang kerja sama yang lebih konkret. Fokus pembicaraan mencakup pengembangan penelitian bersama, publikasi internasional, seminar akademik, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta penguatan kapasitas peneliti melalui berbagai program kolaboratif.
Rektor Unisma, Prof. Junaidi Mistar, menilai kemitraan dengan salah satu pusat akademik terkemuka di Eropa tersebut akan memperluas ruang kolaborasi bagi sivitas akademika Unisma.
"Kami melihat banyak peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama University of Vienna, terutama dalam bidang penelitian multidisiplin, publikasi internasional, pertukaran akademisi, dan penguatan kapasitas dosen serta mahasiswa. Kerja sama ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi kedua institusi," ujar Junaidi.
Diskusi lanjutan juga dilakukan bersama International Director University of Vienna, Dr. Barbara Good, serta Senior Partnership Manager, Janna Kazim. Dalam pertemuan itu, kedua institusi menjajaki kemungkinan pembentukan program-program akademik yang lebih luas dengan orientasi internasional.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah pengembangan proyek penelitian kolaboratif yang melibatkan dosen, peneliti, dan mahasiswa dari kedua perguruan tinggi. Tidak hanya itu, peluang untuk mengakses berbagai skema pendanaan riset internasional juga menjadi bagian dari agenda pembahasan guna memastikan keberlanjutan program kerja sama.
Keberadaan Ahmad Bastomi, dosen Fakultas Hukum Unisma yang saat ini menempuh studi doktoral di University of Vienna, turut menjadi gambaran bagaimana hubungan akademik antara kedua institusi telah mulai terbangun sebelum kesepakatan resmi ditandatangani.
Baca Juga : Grup Media Sosial Bertema LGBT Gunakan Nama Situbondo, Warga Minta Perhatian Serius Instansi Terkait
Bagi University of Vienna dan Austrian Institute for Family Studies, kolaborasi lintas negara dipandang semakin penting dalam menghasilkan penelitian yang mampu menjawab persoalan global. "Kemitraan internasional menjadi instrumen penting untuk menghadirkan riset yang berdampak dan relevan terhadap kebutuhan masyarakat," Prof. Wolfgang Mazal.
Melalui kerja sama ini, ruang lingkup kolaborasi tidak hanya terbatas pada pertukaran akademik, tetapi juga mencakup pengembangan kajian keluarga, pendidikan, kebijakan sosial, serta isu pembangunan berkelanjutan. Bidang-bidang tersebut menjadi titik temu kepentingan akademik antara Unisma dan lembaga-lembaga riset di Austria.
Prof Junaidi kembali melanjutkan, kesepakatan dengan Austrian Institute for Family Studies dan University of Vienna menambah daftar kemitraan internasional yang dibangun Unisma di kawasan Eropa. Di tengah meningkatnya tuntutan publikasi bereputasi dan kolaborasi riset global, akses terhadap jaringan akademik internasional menjadi modal penting bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan daya saing riset.
"Ini juga sekaligus memperluas kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat global," pungkasnya.