free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Peristiwa

Gempa Palu M 6,7 Jadi Alarm Baru, Daryono: Ancaman Tak Hanya dari Sesar Palu-Koro

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

17 - Jun - 2026, 07:05

Loading Placeholder
Bangunan rusak akibat gempa di Palu, Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB. (Foto: X)

JATIMTIMES - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 6,7 yang mengguncang wilayah tenggara Palu, Sulawesi Tengah, menjadi pengingat bahwa ancaman gempa di wilayah tersebut tidak hanya berasal dari Sesar Palu-Koro. 

Edukator kebencanaan sekaligus anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), Dr Daryono, menilai peristiwa ini membuka mata banyak pihak tentang kompleksitas sesar aktif di Sulawesi Tengah yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Baca Juga : Marak Aksi Demo, Polisi Sambangi SMA dan SMK di Kota Malang Cegah Pelajar Terprovokasi

Diketahui, gempa terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan gempa dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu dan tidak berpotensi tsunami. Hingga Rabu (17/6/2026) dini hari, tercatat sebanyak 354 gempa susulan terjadi dengan kekuatan terbesar mencapai M 5,2.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Daryono mengulas lebih jauh mengenai bahaya gempa kerak dangkal yang dipicu sesar aktif di Sulawesi Tengah.

"Gempa berkekuatan M6,7 yg mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 kembali menyingkap kerentanan geologis yg mendalam di wilayah ini. Sebagai gempa kerak dangkal yg dipicu oleh aktivitas sesar aktif, peristiwa ini mjd pengingat bahwa ancaman seismik di Sulawesi tdk hny bersumber dari jalur sesar utama Palu-Koro, melainkan jg dari percabangan sesar kompleks di sekitarnya," tulis Daryono.

Daryono menjelaskan, kawasan Palolo dan Sausu secara tektonik merupakan zona tarikan atau pull-apart yang terbentuk akibat dinamika pergerakan Sesar Palu-Koro.

Menurutnya, kondisi geologi tersebut berperan besar dalam memperkuat dampak gempa yang dirasakan masyarakat.

"Secara tektonik, kawasan Palolo dan Sausu merupakan zona tarikan atau pull-apart yg terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan pd jalur sesar geser utama menciptakan peregangan kerak bumi yg melahirkan sesar-sesar turun, yang kemudian membentuk cekungan atau basin yg kini terisi oleh endapan sedimen," jelasnya.

Daryono menilai keberadaan sedimen lunak di wilayah cekungan menjadi salah satu faktor yang membuat guncangan terasa lebih merusak.

"Inilah yg menjadi kunci mengapa guncangan gempa ini menjadi sangat destruktif. Endapan sedimen yg lunak di wilayah cekungan cenderung mengamplifikasi atau memperkuat gelombang seismik, menyebabkan bangunan di atasnya menerima guncangan jauh lebih kuat dibandingkan area dengan batuan dasar yg keras," sambungnya.

Menurut Daryono, fakta tersebut menunjukkan bahwa kerentanan fisik di wilayah rawan gempa masih sangat tinggi.

"Kerusakan infrastruktur yg massif -mulai dari ratusan rumah di Kabupaten Sigi yg menanggung dampak terberat, hingga terputusnya ruas jalan vital Palu-Sigi-Poso -menjadi bukti nyata bhw kerentanan fisik kita masih sangat tinggi," tulisnya.

Ia menilai banyak bangunan yang belum memenuhi standar konstruksi tahan gempa.

Baca Juga : Mahasiswa di Malang hingga Surabaya Siap Turun ke Jalan Besok, Ini Tuntutannya 

"Mayoritas bangunan yg terdampak adalah struktur non-rekayasa yg bim memenuhi standar ketahanan gempa. Amblasnya jalur logistik utama juga menggarisbawahi urgensi pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan perlunya jalur evakuasi alternatif yg tidak bergantung pada satu akses saja," lanjut Daryono.

Lebih jauh, Daryono menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap mitigasi bencana gempa di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa pemerintah dan masyarakat tidak bisa hanya berfokus pada sesar-sesar besar yang telah dikenal sebelumnya.

"Pelajaran dari gempa ini sangat jelas, yakni perlunya pergeseran paradigma mitigasi. Kita tidak bisa lagi hanya fokus pada jalur sesar utama yang telah dikenal, namun harus segera mengakselerasi pemetaan mikrozonasi seismik hingga ke tingkat yang lebih detail," tegasnya.

Daryono mendorong pemerintah daerah menjadikan data kerawanan gempa sebagai acuan utama dalam penyusunan tata ruang dan pembangunan.

"Pemerintah daerah perlu menjadikan data kerawanan ini sebagai acuan utama dalam penataan ruang, termasuk membatasi pembangunan di atas zona sesar aktif," ujarnya.

Ia menambahkan, kesiapsiagaan harus menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa.

"Mengingat kompleksitas ini, kesiapsiagaan bukan lagi sebuah opsi, melainkan sebuah kebutuhan mutlak bagi kelangsungan hidup di zona seismik aktif seperti Sulawesi Tengah," tandasnya.

Sebagaimana diberitakan, berdasarkan data sementara BNPB dan BPBD, satu warga Kabupaten Sigi dilaporkan meninggal dunia. Dua warga Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki mengalami luka berat akibat tertimpa bangunan, sementara enam orang lainnya mengalami luka ringan.

Selain korban jiwa, sedikitnya 67 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat. Fasilitas umum seperti Kantor Bupati Sigi, Kantor Disnakertrans Sigi, Auditorium Universitas Tadulako, hingga sejumlah hotel di Palu turut terdampak. Jalur penghubung Palu-Sigi-Poso juga dilaporkan sempat amblas akibat gempa Palu.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa

--- Iklan Sponsor ---