free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Hiburan, Seni dan Budaya

Menolak Eksploitasi Kemiskinan: Film Children of Heaven Versi Indonesia, Merawat Ketulusan di Tengah Keterbatasan

Penulis : Basworowati Prasetyo Nugraheni - Editor : Dede Nana

30 - May - 2026, 07:39

Loading Placeholder
Film Children Of Heaven

JATIMTIMES  — Children of Heaven bukanlah nama yang asing. Ini adalah mahakarya legendaris asal Iran rilisan tahun 1997 karya sutradara Majid Majidi. Sebuah film drama keluarga bersahaja yang pertama kali diputar di Festival Film Fajr Teheran, sukses meraih berbagai penghargaan internasional hingga mencatatkan sejarah menembus nominasi Best Foreign Language Film pada Academy Awards 1998.

Meski perilisannya sudah lewat hampir tiga dekade, esensi perjuangan sepasang saudara dalam melewati impitan hidup tersebut tetap terasa menyentuh hati dan kontekstual. Memasuki pertengahan tahun 2026 ini. 

Baca Juga : 10 Kampus Swasta Terbaik di Indonesia 2026 Versi Webometrics, Bisa Jadi Pilihan Kuliah

Dalam versi adaptasi ini, latar cerita digeser ke pinggiran Kota Semarang. Kisahnya berpusat pada Ali (diperankan oleh Jared Ali) yang berusia 13 tahun, dan adik perempuannya, Zahra (Humaira Jahra) yang berusia 9 tahun. Mereka hidup dalam kondisi serba terbatas bersama kedua orang tua mereka, Karim dan Fatimah.

Konflik bermula ketika satu-satunya sepatu sekolah milik Zahra hilang setelah Ali tanpa sengaja meninggalkannya di sebuah toko kelontong saat berbelanja. Bagi Ali dan Zahra, kehilangan ini adalah sebuah "kiamat kecil". 

Sepatu bukan sekadar alas kaki, melainkan tiket untuk bisa mengakses pendidikan. Tanpa sepatu itu, Zahra jelas tidak bisa menginjakkan kaki di sekolah. Tidak ada dramatisasi kemiskinan yang eksploitatif ataupun narasi politis yang berlebihan.

Kita cuma diajak menjadi saksi bisu dari keseharian sebuah keluarga yang sedang berada di titik nadir kehidupannya, terlilit utang di mana-mana, dibayangi ketakutan akan diusir dari rumah kontrakan karena menunggak, ditambah lagi kondisi sang ibu yang sakit-sakitan.

Karena takut memperberat beban pikiran orang tua mereka, Ali dan Zahra akhirnya sepakat untuk merahasiakan tentang sepatu itu dan memilih untuk bergantian menggunakan sepatu lama milik Ali. Zahra memakainya ke sekolah di pagi hari, sementara Ali menggunakannya di sore hari.

Hampir setengah durasi film dihabiskan untuk menyaksikan pacuan waktu yang terus-menerus membuat dada penonton terasa sesak. Saya mendapati diri saya ikut tegang melihat Zahra berpacu dengan menit yang terus berputar agar tidak terlambat dan bisa segera menyerahkan sepatu itu kepada Ali yang sudah menunggu untuk masuk kelas siang.

Tidak ada tangisan manja, tidak ada kemarahan terhadap keadaan. Mereka hanya tahu bahwa mereka harus saling menjaga dan bertahan hidup bersama dengan hati yang luar biasa lapang.

Ketulusan hati itu kian menebal pada satu momen yang sangat emosional, dimana Zahra sempat melihat seorang anak bernama Yeni  memakai sepatu yang sangat mirip dengan miliknya yang hilang. Namun, setelah mengetahui bahwa kondisi ekonomi keluarga Yeni bahkan jauh lebih sulit dibanding keluarganya sendiri, Zahra memilih untuk mengikhlaskannya dan urung meminta sepatu itu kembali.

Realitas yang disajikan di layar bioskop ini ternyata masih sangat relevan dengan detik ini, di tahun 2026. Kemiskinan tidak pernah benar-benar pergi dari negeri ini, ia cuma berganti baju dan rupa mengikuti perkembangan zaman.

Baca Juga : Spoiler One Piece 1184: Masa Lalu Brook Terbongkar, Misteri Kerajaan Esperia Mulai Terkuak

Jika pada cerita aslinya di akhir era 90-an Ali dan Zahra pusing karena sepasang sepatu fisik, di era modern sekarang kita masih sering menyaksikan para orang tua yang terengah-engah, terpaksa mencari pinjaman atau berutang ke sana kemari hanya demi membelikan kuota internet atau perangkat digital agar anaknya tidak ketinggalan pelajaran sekolah. Esensi keterbatasan itu tetap sama.

Cerita perlahan mulai bergerak naik dan mencapai puncaknya tatkala ada pengumuman mengenai lomba lari maraton tingkat kota Semarang. Dan Ali memutuskan untuk mengikuti lomba itu. 

Target Ali dalam lomba itu terdengar aneh bagi orang luar, tapi merupakan sebuah manifesto cinta yang luar biasa. Ia harus mengakhiri perlombaan tepat di posisi ketiga. Tidak boleh lebih mendahului, pun tidak boleh tertinggal di belakang. Karena hanya podium ketiga yang menyediakan hadiah berupa alas kaki baru yang sangat dinantikan oleh Zahra.

Di atas lintasan itu, kita tidak sedang melihat seorang atlet berburu medali, melainkan melihat ketulusan seorang kakak yang sedang mempertaruhkan seluruh sisa tenaganya demi menebus kesalahan kepada sang adik.

Children of Heaven versi 2026 ini bukanlah sekadar tontonan hiburan akhir pekan yang numpang lewat di bioskop.Film ini seperti berhasil menjadi  pelukan hangat sekaligus tamparan lembut bagi kemanusiaan kita yang sering kali bebal.

Ia mengingatkan kita untuk kembali menengok ke dalam ruang paling sunyi di hati kita, memeriksa sejauh mana kita telah berjalan, dan sekeras apa kita telah bersyukur atas apa yang kita miliki hari ini.

 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Basworowati Prasetyo Nugraheni

Editor

Dede Nana

Hiburan, Seni dan Budaya

Artikel terkait di Hiburan, Seni dan Budaya

--- Iklan Sponsor ---