JATIMTIMES - Gejolak pasar keuangan Indonesia tengah jadi sorotan. Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada Jumat (24/4/2026) menyentuh titik terendah sepanjang masa, diikuti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan tekanan besar pada saham-saham perbankan.
Kondisi ini lantas memicu kekhawatiran pelaku pasar, terutama di tengah derasnya arus modal asing yang keluar dari Indonesia dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga : Menkeu Purbaya Usul Tarik Pajak Kapal di Selat Malaka, Tiru Iran Potensi Cuan
Konten kreator sekaligus pengamat keuangan Raymond Iriantho menyebut fenomena ini sebagai kombinasi tekanan global dan persoalan domestik yang belum tuntas. Ia menilai situasi saat ini tidak bisa hanya dilihat dari faktor eksternal semata.
“Rupiah terendah sepanjang masa, IHSG anjlok, saham-saham bank pada merah. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Indonesia?” ujar Raymond, melalui akun Instagram pribadinya, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, gejolak ini bukan sekadar dampak konflik global seperti ketegangan di Timur Tengah. Menurutnya, ada persoalan mendasar di dalam negeri yang ikut memperparah kondisi.
“Well, ini bukan cuma soal perang di Timur Tengah lagi. Gua yakin kalian juga tahu masalahnya ada di dalam negeri kita sendiri,” lanjutnya.
Raymond mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah terjadi lebih dalam dibandingkan mata uang negara Asia lainnya. Hal ini menjadi indikator adanya persoalan domestik yang belum terselesaikan.
“Faktanya, rupiah itu jatuhnya lebih dalam dari negara Asia lain. Kalian bisa cek. Ini artinya, ada PR (pekerjaan rumah) domestik yang belum beres, defisit anggaran yang melebar, dan kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal kita yang mulai goyah,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pasar keuangan Indonesia dinilai lebih rentan dibandingkan negara tetangga. Padahal secara fundamental, nilai rupiah disebut masih memiliki potensi penguatan.
Raymond mengutip analisis Bloomberg Intelligence yang menyebut rupiah sebenarnya berada di bawah nilai wajarnya.
“Padahal di tanggal 10 April, Bloomberg Intelligence bilang kalau rupiah kita itu sebenarnya under value 8,4%. Nilai wajarnya harusnya di Rp15.668 per dolar. Artinya, secara fundamental, rupiah kita seharusnya jauh lebih kuat dari ini,” katanya.
Tekanan semakin terasa dengan keluarnya dana asing dari pasar saham domestik pada Kamis (23/4/2026). Dalam satu hari perdagangan, nilai capital outflow mencapai angka signifikan.
“Di tanggal 23 April, asing keluar dari pasar saham Indonesia hampir Rp1,4 triliun,” ungkap Raymond.
Bahkan, saham perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung IHSG ikut terdampak paling besar. Salah satu saham bank besar mengalami aksi jual masif hanya dalam hitungan jam.
“Dan tepat di Jumat siang (kemarin), baru setengah hari ini, setengah hari perdagangan, BBCA udah dijual Rp1,3 triliun. Nggak heran harganya langsung ambles ke Rp6 ribuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap aliran dana keluar akan meningkatkan permintaan dolar AS, sehingga menekan nilai rupiah lebih dalam.
Baca Juga : Jamin Kepastian Pasar dan Batas Harga, CooSAE Terapkan Kontrak Pertanian
“Setiap dolar yang ditarik keluar itu bikin permintaan dolar naik dan rupiah makin tertekan,” tambahnya.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi dengan memanfaatkan cadangan devisa. Namun langkah ini berdampak pada penurunan jumlah cadangan dalam beberapa bulan terakhir.
“Bank Indonesia sendiri udah intervensi pake cadangan devisa. Tapi akibatnya, kalau kalian lihat, cadangan devisa kita turun hampir 8 miliar dolar hanya dalam waktu 3 bulan. Dari Rp156 miliar di Desember, jadi Rp148 miliar di bulan Maret kemarin,” jelas Raymond.
Ia menggambarkan kondisi ini sebagai upaya menutup kebocoran yang terus terjadi. “Kayak lo udah nabung seumur hidup nih, terus dipake buat tambal kebocoran setiap hari,” katanya.
Data Bank Indonesia sendiri sebelumnya menunjukkan cadangan devisa memang menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar, terutama saat terjadi tekanan global dan capital outflow.
Salah satu fenomena yang paling mencolok adalah anjloknya saham-saham perbankan. Raymond menilai hal ini bukan tanpa alasan. “Terus kenapa saham bank yang paling babak belur?” ujarnya.
Menurutnya, saham sektor perbankan merupakan aset paling likuid di pasar modal Indonesia, sehingga menjadi pilihan pertama saat investor ingin menarik dana dengan cepat.
“Simpelnya, saham bank itu paling likuid di bursa kita. Paling gampang dijual cepet. Jadi kalau investor asing mau cabut, saham bank yang pertama dilepas,” jelasnya.
Ia mengibaratkan kondisi ini seperti kebutuhan dana darurat dalam kehidupan sehari-hari. “Kayak lo butuh duit darurat, lo pasti bakal jual emas dulu kan, bukan tanah,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Raymond menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini merupakan hasil dari kombinasi tekanan global dan persoalan domestik yang belum terselesaikan.
“Jadi ada apa dengan Indonesia? Jawabannya, kombinasi tekanan dari luar yang memang berat, ditambah PR dalam negeri yang harus segera dibenahi,” tegasnya.
“Jadi ini bukan cuma soal perang atau masalah global lagi, ini soal kepercayaan dan kalau mau kepercayaan itu balik, harus dibangun kembali,” tutup Raymond.