JATIMTIMES - Pengurus Cabang, Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Tulungagung terus memperkuat peran strategisnya dalam membangun sinergitas antar lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Upaya ini dilakukan sebagai langkah konkret dalam mengoptimalkan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah dinamika zaman.
Ketua PC MDS Rijalul Ansor Tulungagung, Agus M. Fahmi Arafat, menegaskan bahwa saat ini merupakan era kolaborasi dan sinergitas. Kekuatan dakwah, menurut Gus Fahmi tidak lagi cukup dijalankan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dan saling menguatkan antar lembaga.
Baca Juga : Kronologi Matahari Department Store Ganti Nama, Kini Resmi Jadi MDS Retailing
“Hari ini adalah eranya sinergitas untuk menuju maksimalisasi dakwah yang kaffah. Ini menjadi ikhtiar kita bersama dalam mengisi ruang-ruang kosong di kalangan NU sekaligus memperkuat Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, bahwa sinergitas antar lembaga ini juga menjadi sarana strategis dalam mengoptimalkan distribusi kader, khususnya di kalangan pemuda dan alumni pondok pesantren.
"Penempatan kader dilakukan secara proporsional sesuai dengan kapasitas, minat, dan bakat masing-masing," ujarnya.
Dalam rangkaian pembukaan kegiatan PKD Dirosah Ula, MDS Rijalul Ansor Tulungagung juga melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah lembaga di bawah naungan NU.
Kerja sama ini mencakup berbagai bidang, di antaranya:
1. Kader dengan kompetensi keilmuan agama akan didistribusikan ke pondok pesantren melalui RMI NU.
2. Kader yang memiliki minat mengajar akan disalurkan ke lembaga pendidikan Al-Qur’an (TPQ).
3. Kader dengan kemampuan dasar seperti adzan akan diarahkan untuk memakmurkan masjid dan musholla melalui LTM NU.
4. Kader yang memiliki minat dalam bidang penggalian hukum Islam akan dibina melalui LBM NU.
Baca Juga : MAN 2 Kota Malang Jadi Rujukan Studi Tiru, MA Raudlatul Muta’allimin Pelajari Program Insan Pro dan Ma’had
Sementara itu, penguatan ideologi Aswaja juga dilakukan melalui kerja sama dengan Aswaja NU Center.
"Langkah ini tidak hanya memperluas peran kader, tetapi juga menjadi benteng dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah dari berbagai paham di luar tradisi NU," ungkap Gus Fahmi, Sabtu (18/4/2026).
Ia juga menekankan pentingnya kaderisasi yang terstruktur dan sistematis sebagai fondasi masa depan organisasi.
“Ansor adalah masa depan NU. Maka kaderisasi harus berjalan runtut dan sistemik, karena kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan keburukan yang tertata rapi,” sambungnya.
Ke depan, MDS Rijalul Ansor Tulungagung menargetkan diri sebagai rumah besar bagi para santri dari berbagai latar belakang di lingkungan NU. Dengan demikian, peran santri dalam khidmah organisasi dapat lebih optimal dan terarah.
"Melalui sinergitas yang kuat antar lembaga, diharapkan gerakan dakwah NU di Tulungagung semakin kokoh, terstruktur, dan mampu menjawab tantangan zaman secara bijak dan berkelanjutan," tutupnya.