JATIMTIMES - Publikasi ilmiah bereputasi internasional kembali dihasilkan oleh mahasiswa Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang. Nur Nabilah Fauziyah dari Program Studi Sastra Inggris berhasil menembus jurnal terindeks Scopus Q2, MEXTESOL Journal , melalui artikel yang mengangkat isu kebahasaan dalam konteks multibahasa di Indonesia. Capaian ini menampilkan tidak hanya kapasitas individu, tetapi juga kekuatan proses akademik yang terbangun dalam lingkungan pembelajaran Humaniora.
Artikel berjudul The Dynamic Constructions of Subjectivity, Attitude, Investment and Identity Against English(es): A Case Study of Multilingual English Learners in Indonesia tersebut ditulis bersama dosen pembimbingnya, Ribut Wahyudi, M.Ed., Ph.D., dan dipublikasikan pada 25 Maret 2026 dalam Volume 50 Nomor 1. Dengan indikator bibliometrik seperti SJR 0.243 dan H-Index 9, ini berada dalam kategori Q2 yang tingkat selektivitas serta pengaruhnya dalam lanskap akademik global.
Baca Juga : Resmi! Bupati Magetan Tunjuk Yok Sujarwadi sebagai Plt Sekwan DPRD Gantikan Jaka Risdiyanto
Lahirnya artikel ini tidak dapat dilepaskan dari proses akademik yang panjang, sistematis, dan berdasarkan penelitian mendalam. Naskah tersebut berangkat dari skripsi yang tidak hanya disusun untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi sejak awal diarahkan sebagai embrio publikasi ilmiah. Proses transformasi dari skripsi menjadi artikel jurnal melibatkan serangkaian tahapan kritis, mulai dari rekonstruksi kerangka teoritis, penajaman fokus penelitian, hingga belakangtikulasikan temuan dalam format yang sesuai dengan standar jurnal internasional.
Revisi dilakukan secara berlapis dengan menitikberatkan pada konsistensi argumentasi, kedalaman analisis, serta relevansi terhadap diskursus global. Penyesuaian gaya akademik, penguatan sitasi dari literatur mutakhir, hingga penyelarasan metodologi dengan ekspektasi reviewer internasional menjadi bagian integral dari proses tersebut. Tahapan ini menunjukkan bahwa publikasi ilmiah bukan sekadar hasil akhir, melainkan produk dari disiplin intelektual dan ketekunan metodologis.
Ribut Wahyudi menegaskan bahwa proses pembimbingan diarahkan untuk membangun budaya akademik yang berorientasi publikasi. “Kami mendorong mahasiswa untuk melihat skripsi sebagai titik awal produksi pengetahuan, bukan titik akhir. Dari situ, riset dikembangkan, dipertajam, dan diposisikan agar relevan dalam percakapan akademik internasional,” ujarnya.
Dari sisi substansi, penelitian ini beroperasi dalam kerangka World Englishes yang menempatkan bahasa Inggris sebagai entitas yang plural dan kontekstual. Fokus utama kajian terletak pada bagaimana subjektivitas, sikap, investasi, dan identitas pembelajar bahasa Inggris terbentuk secara dinamis dalam konteks masyarakat multibahasa Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga analitis-kritis terhadap konstruksi sosial bahasa.
Metode kualitatif yang digunakan memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap pengalaman individu pembelajar, termasuk bagaimana mereka menegosiasikan identitas linguistik di tengah tekanan normatif standar bahasa Inggris global. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa identitas pembelajar tidak bersifat statis, melainkan terus mengalami rekonfigurasi seiring interaksi dengan faktor sosial, institusional, serta pengalaman personal yang beragam.
Baca Juga : Jember Jadi Percontohan MBG Nasional
Penelitian ini juga mengintervensi wacana dominan mengenai Inner Circle English yang selama ini cenderung menempatkan standar bahasa tertentu sebagai acuan utama. Dengan mengedepankan perspektif World Englishes, artikel ini membuka ruang bagi legitimasi variasi bahasa Inggris yang berkembang di konteks lokal, sekaligus menegaskan bahwa praktik kebahasaan tidak dapat dilepaskan dari relasi kuasa, ideologi, dan akses terhadap sumber daya linguistik.
Lebih jauh, konsep “investment” dalam pembelajaran bahasa yang diangkat dalam penelitian ini memberikan dimensi tambahan dalam memahami motivasi pembelajar. Bahasa tidak semata dipelajari sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang berkaitan dengan mobilitas, identitas, dan posisi dalam struktur masyarakat. Dengan demikian, proses belajar bahasa Inggris menjadi arena negosiasi yang kompleks antara aspirasi individu dan realitas sosial yang dihadapi.
Capaian ini sekaligus menampilkan bagaimana penelitian mahasiswa, ketika dikelola melalui pendekatan metodologis yang ketat dan bimbingan akademik yang terarah, mampu berkontribusi dalam produksi pengetahuan global. Lingkungan Fakultas akademik Humaniora tampak memainkan peran penting dalam membentuk ekosistem penelitian yang tidak hanya produktif, tetapi juga responsif terhadap perkembangan kajian yang berubah di tingkat internasional.