JATIMTIMES - Pemimpin umat Katolik Paus Fransiskus mengalami dua kali gagal napas akut pada Senin (3/3) malam. Dua kali bronkoskopi harus dilakukan untuk mengeluarkan sekresi dan Paus kembali dibantu dengan alat bantu napas mekanis non-invasif.
Paus, yang kini berusia 88 tahun, sempat stabil selama akhir pekan setelah mengalami muntah pada Jumat lalu. Kini, Vatikan mengatakan Paus mengalami gagal napas akut disebabkan oleh akumulasi lendir endobronkial yang signifikan dan bronkospasme.
Baca Juga : 7 Cara Bakar Lemak saat Puasa Ramadan Menurut Ade Rai
"Oleh karena itu, dua bronkoskopi dilakukan, yang memerlukan aspirasi sekresi yang melimpah. Pada sore hari, ventilasi mekanis non-invasif dilanjutkan," tulis Vatikan dalam keterangannya dikutip Selasa (4/3).
"Bapa Suci selalu waspada, berorientasi, dan kolaboratif. Prognosisnya tetap terkendali," lanjut Vatikan.
Sumber Vatikan mengatakan situasinya tenang pada pagi hari sebelum menjadi lebih buruk pada sore harinya.
Mereka mengatakan, masalah pernapasan yang dialami Paus ini disebabkan oleh infeksi yang sedang berlangsung, bukan infeksi baru. Tetapi Paus masih dalam bahaya.
Ketika ditanya apakah Paus dalam keadaan baik, mereka tidak memberikan jawaban. Sementara ketika ditanya apakah apartemen Vatikan sedang bersiap untuk menyambut kembali Paus Fransiskus, sumber tersebut mengatakan masih terlalu dini untuk membahas hal ini. "Gambaran klinisnya masih kompleks," kata mereka.
Baca Juga : Ekspedisi Jepara ke Banten dan Maluku: Jejak Perang dan Diplomasi Maritim Abad Ke-16
Diketahui, Paus Fransiskus mulai dirawat di rumah sakit pada 14 Februari karena bronkitis. Tetapi kondisinya memburuk menjadi pneumonia di kedua paru-paru. Pada 22 Februari, Paus mengalami serangan asma yang berkepanjangan dan memerlukan transfusi darah karena jumlah trombosit yang rendah.
Setelah beberapa hari di minggu lalu, kondisinya mengalami sedikit perbaikan, Paus mengalami episode yang mirip dengan serangan asma pada hari Jumat yang juga menyebabkannya menghirup muntahan.
Paus Fransiskus rentan terhadap infeksi paru-paru karena mengidap radang selaput dada saat masih muda dan menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru saat ia menjalani pelatihan untuk menjadi pendeta di negara asalnya, Argentina. Para ahli medis mengatakan bahwa usia Fransiskus dan penyakit pernapasan kronis yang diidapnya membuat pemulihan yang berkelanjutan akan memakan waktu.