free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Peristiwa

Datangi Wabup Ahmad Baharudin, Yayasan Sentono Dalem Majan Bahas Soal Pendopo Kanjengan

Penulis : Anang Basso - Editor : A Yahya

26 - Feb - 2025, 13:32

Loading Placeholder
Saat Wabup Ahmad Baharudin sambut kedatangan keluarga besar yayasan Sentono Dalem Majan / Foto : Istimewa for Tulungagung Times

JATIMTIMES - Sentono Dalem Perdikan Majan, meminta Pemkab Tulungagung fungsikan pendopo kanjengan Tulungagung sesuai kelayakannya. 

Menurut ketua Yayasan Sentono Dalem Perdikan Majan, Doktor Ali Sodik menyampaikan dalam rilisnya, keberadaan tombak legendaris di Kabupaten Tulungagung, yakni Kyai Upas yang berada di pendopo kanjengan harus dievaluasi. 

Baca Juga : Rangkaian HPN, PWI Malang Raya Gelar Donor Darah

Pasalnya, pendopo kanjengan yang digunakan untuk penempatan pusaka juga gunakan sebagai kantor dinas kebudayaan dan pariwisata. 

"pendopo kanjengan  dinilai sangat tidak tepat bila digunakan kantor dinas," kata Raden Ali, Rabu (26/2/2025).

Keluarga besar, dari Bupati Ke IV RMT Pringgodinngrat, Bupati Ke V RMT Adipati Jayaningrat, Bupati Ke X RMT Pringgokusumo dan bupati ke XIII R.P.A. Sosrodiningrat ini menyebut, pendopo kanjengan tempat menyimpan  tombak Kyai Upas  itu lebih layak digunakan rumah dinas wakil bupati Tulungagung. 

"Karena rumah dinas bupati ada di pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso peninggalan Bupati Ke IV RMT Pringgodingrat dan pendopo kanjengan merupakan peninggalan eyang  Bupati Ke X RMT Pringgokusumo yang terakir ditempati ahli waris mbah Raden Hendro yang juga keluarga Sentono Majan," ujarnya. 

Karena tidak punya keturunan, akhirnya kyai Upas diserahkan ke Pemkab untuk di uri-uri. Saat ini lanjut Ali, pendopo tempat Tombak Kyai Upas sudah dibeli Pemkab. 

"Sekarang kok digunakan kantor dinas, kami sangat keberatan, terdapat beberapa hal yang harus kami sampaikan, yakni pendopo kanjengan adalah rumah besar Bupati Ke X RMT Pringgokusumo ini yang perlu diperhatikan kalau bupati Tulungagung sudah menempati pendopo  Kongas Arum Kusumaning Bongso peninggalan Bupati Ke IV RMT Pringgodinngrat  maka pendopo kanjengan layak digunakan dan direhab untuk rumah dinas wakil bupati dari pada kosong atau digunakan untuk kantor dinas," paparnya. 

Menurutnya, pemegang pusaka Kyai Upas yang terakhir yakni almarhum Raden Mas (RM) Indronoto merupakan salah seorang ahli waris yang menempati dalem Kanjengan yang meninggal dunia, dan dimakamkan di pesarean keluarga Sentono Dalem Perdikan Majan. 

"Polemik Pendopo Kanjengan yang digunakan kantor dinas kami segera melakukan penyelesaian dan kirim surat resmi ," tuturnya.

Rencana pertama yang akan dilakukan adalah koordinasi dengan kepala daerah, karena bupati masih di Jakarta maka wakil bupati Ahmad Baharudin yang menemui. 

"Kami ketemu wakil bupati, seterusnya surat sesmi akan kami kirim," imbuhnya. 

Selain tidak pas atau kurang adab kalau dinas di kantor pendopo Kanjengan, menurutnya harus diberi tempat luas. Bahkan, ia mengusulkan agar pusaka ditempatkan ditempat yang layak. 

"Kalau Pemda tidak segera mengambil alih  dan memfungsikan pendopo Kanjengan sebagai rumah wakil bupati, maka kami keluarga Sentono akan urunan untuk membelinya kembali karena banyak keluarga yang mempertanyakan dan prihatin," ungkapnya.

Jika ternyata Pendopo Kanjengan tidak dijual, maka ia meminta agar Pemerintah Kabupaten Tulungagung segera memfungsikan kelayakan pendopo kanjengan sesuai sejarahnya.

"Alasannya, pendopo kanjengan dan pusaka itu adalah pusaka Bupati Tulungagung kalau bupati sudah punya pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso maka pendopo kanjengan bisa difungsikan layak jadi rumah dinas wakil bupati Tulunggung," terangnya. 

Jika kedua opsi tidak mendapatkan kejelasan, maka keluarga Sentono berencana memboyong pusaka secara hukum di dekat pusaran makam Bupati Ke IV RMT Pringgodinngrat, Bupati Ke V RMT Adipati Jayaningrat dan Bupati Ke X RMT Pringgokusumo yang nantinya menjadi pelengkap wisata religi kasepuhan perdikan Majan.

Baca Juga : Jembatan Kali Complang Ambruk, BPBD Blitar Lakukan Asesmen

Alasannya, Kyai upas adalah nama sebuah pusaka berbentuk tombak, dengan landeannya sepanjang tidak kurang dari 5 meter. Pusaka ini berasal dari Mataram yang dibawa oleh R.M. Tumenggung Pringgodiningrat, putra dari pangeran Notokoesoemo di Pekalongan yang menjadi menantu Sultan Jogyakarta ke II (Hamengku Buwono II yang bertahta pada tahun 1792-1828) atau ketika RM.T Pringgodiningrat diangkat menjadi Bupati Ngrowo (Tulungagung). 

Raden Ali lantas menuliskan silsilah peralihan keberadaan pusaka itu mulai dari R.M Tumenggung Pringgodiningrat. Di mana pusaka tersebut dipelihara baik-baik, turun temurun kepada R.M. Djayaningrat (Bupati Ngrowo V) lalu kepada R.M Somodiningrat (Bupati ke VI) kemudian kepada R.T. Gondokoesoemo (Bupati ke VIII) dan selanjutnya diwariskan kepada adiknya ialah R.M Tumenggung Pringgokoesoemo (Bupati Ngrowo yang ke X).

Bahwa Setelah R.M.T Pringgokoesoemo pensiun dalam tahun 1895 dan wafat pada tahun 1899, maka pemeliharaan pusaka diteruskan oleh Raden Aju Jandanya, sedang hak temurun pada puteranya yang bernama R.M Moenoto Notokoesoemo Komisaris Polisi di Surabaya.

Sejak tahun 1907 pemeliharaan pusaka berada di tangan menantu dari R.M.T Pringgokoesoemo yaitu R.P.A Sosrodiningrat Bupati Tulunngagung yang ke XIII, dan sejak jaman Jepang diteruskan oleh saudaranya yang bernama R.A Hadikoesoemo.

Setelah R.A Hadikoesoemo wafat tugas ini diambil alih kembali oleh R.M. Notokoesoemo. Bahwa keluarga Sentono Dalem Perdikan Majan menegaskan mempunyai peran dalam menjaga dan menguri-uri Pusaka itu.

Disebutkan, bahwa Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar merupakan putra dari Kyai Ageng Derpoyudo, Kyai Ageng Derpoyudo merupakan putra dari Kyai Ageng Wiroyudo, Kyai Ageng Wiroyudo merupakan  putra dari Raden Tumenggung Sontoyudo II, Raden Tumenggung Sontoyudo II merupakan putra dari Raden Tumenggung Sontoyudo I, Raden Tumenggung Sontoyudo I merupakan putra dari Raden Mas Ayu Sigit, Raden Mas Ayu Sigit merupakan putra dari Kanjeng Ratu Mas Sekar, Kanjeng Ratu Mas Sekar merupakan putra dari sampean dalem ingkang sinuhun Kanjeng Susuhan Hadi Prabu Hanyokrowati ing Mataram raja ke-II.

Sampean dalem ingkang sinuhun kanjeng susuhan Hadi Prabu Hanyokrowati ing Mataram raja ke-II merupakan putra dari  panembahan senopati alias danan Sutowijoyo alias Raden Ngabehi Loring Pasar Raja ke-I Kerajaan Mataram.

Kyai Ageng Raden khasan Mimbar Mempunyai 2 putra yakni Raden Harun dan KHR. Tafsir Anom. Kemudian, KHR Tafsir Anom mempunyai Istri 3 yakni ( 1. Rr Duwet, Rr. Marsih , Rr Maryati).

KHR Tafsir Anom dengan Rr. Marsih mempunyai keturunaan 8 anak yakni R. Abu Mandur, R. Joyo Winoto, R. Abu Tafsir, R. Arisman, R. Prapto Wiartojo, R. Imam Mimbar  RR. Murtiningrum, R. Imam Puro.

Kemudian Rr. Murtiningrum menikah dengan RMT Pringgokusumo. Makam RMT Pringgodiningrat Bupati Ngrowo Ke IV, RMT Adipati Joyoningrat  Bupati Ngrowo ke V, dan RMT Pringgokusumo Bupati Ngrowo Ke X Berada di Pemakaman Keluarga sentono dalem Perdikan Majan Desa Majan Kedungwaru Tulungagung.

Makam ini merupakan salah satu aset dari Yayasan sentono dalem perdikan Majan.

Kecuali tokoh yang sudah disebutkan itu, terdapat makam lagi yakni almarhum Raden Mas (RM) Indronoto salah seorang ahli waris yang menempati dalem kanjengan yang merupakan pemegang dan pemelihara terkhir pusaka Kyai Upas. 

"Beliau dimakamkan juga di Pemakaman Keluarga Sentono Dalem ini. Raden Mas (RM) Indronoto selain salah seorang ahli waris yang menempati Dalem Kanjengan, tidak mempunyai keturunan," pungkasnya.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anang Basso

Editor

A Yahya

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa

--- Iklan Sponsor ---