JATIMTIMES - Asteroid 2024 YR4 tengah menjadi sorotan para astronom karena kemungkinan tabrakannya dengan Bumi pada tahun 2032 semakin meningkat. Berdasarkan laporan terbaru yang dikutip dari Science Alert, NASA telah memperbarui peluang tabrakan asteroid ini menjadi 3,1 persen atau 1 banding 32, angka tertinggi sejauh ini.
Asteroid 2024 YR4 pertama kali terdeteksi pada Desember tahun lalu dan sejak itu menjadi sorotan para astronom di seluruh dunia. Dengan pengamatan yang semakin banyak dilakukan, perhitungan mengenai kemungkinan tabrakan pun menjadi lebih akurat. Awalnya, peluangnya hanya 1 banding 83, namun angka ini terus meningkat hingga kini mencapai 1 banding 32.
Sementara itu, Badan Antariksa Eropa (ESA) memberikan angka yang sedikit berbeda, yakni 2,81 persen.
Meski demikian, peningkatan peluang ini bukan berarti kepastian asteroid akan menghantam Bumi. "Hanya karena jumlahnya meningkat dalam seminggu terakhir, tidak berarti akan terus demikian," ujar Hugh Lewis, pakar astronomi dari Universitas Southampton, Inggris, dikutip Science Alert, Kamis ( 20/2/2025).
Lewis juga menambahkan bahwa dalam beberapa bulan mendatang, asteroid ini akan bergerak di balik Matahari, sehingga sulit untuk diamati dari Bumi.
Asteroid ini diperkirakan memiliki lebar antara 40 hingga 90 meter. Jika benar-benar menghantam Bumi, energi yang dilepaskan bisa mencapai 7,7 megaton TNT, cukup untuk menghancurkan sebuah kota. Ledakan ini bahkan lebih dari 500 kali kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.
NASA saat ini terus mengumpulkan data mengenai komposisi asteroid. Jika asteroid ini mengandung banyak logam besi, maka dampaknya bisa jauh lebih parah dibanding asteroid berbatu, yang cenderung hancur saat memasuki atmosfer. "Massa membuat perbedaan besar dalam hal energi dan apakah atmosfer akan memengaruhinya atau tidak," kata Lewis.
Menurut laporan Daily Mail, seorang insinyur dari Catalina Sky Survey Project, David Rankin, telah menyusun 'koridor risiko' berdasarkan lintasan asteroid saat ini. Jika asteroid ini benar-benar menghantam Bumi pada 22 Desember 2032, maka jalur tabrakannya bisa melewati beberapa wilayah padat penduduk di Amerika Selatan bagian utara, melintasi Samudera Pasifik, Afrika Sub-Sahara, hingga Asia.
Beberapa kota yang masuk dalam jalur ini di antaranya Chennai di India dan Pulau Hainan di Tiongkok. Negara-negara lain yang berada dalam zona risiko termasuk India, Pakistan, Bangladesh, Ethiopia, Sudan, Nigeria, Venezuela, Kolombia, dan Ekuador. Namun, hingga saat ini belum ada cukup data untuk menentukan secara pasti lokasi tumbukan yang paling mungkin terjadi.
Asteroid 2024 YR4 telah menjadi satu-satunya asteroid besar dengan probabilitas tabrakan lebih dari satu persen dan mendapatkan peringkat tiga dalam Skala Torino. Sebelumnya, hanya asteroid 'Dewa Kekacauan' 99942 Apophis yang pernah mencapai peringkat ini.
Dalam beberapa bulan ke depan, para ilmuwan berharap dapat mengumpulkan informasi lebih lanjut melalui pengamatan dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb. "Data ini akan membantu kita memahami apakah asteroid ini akan tetap utuh saat memasuki atmosfer dan seberapa besar dampak yang mungkin ditimbulkan," kata Lewis.
Sementara itu, para astronom juga mencoba menelusuri data masa lalu untuk mencari pengamatan yang mungkin terlewatkan guna menyempurnakan perhitungan orbit asteroid ini. Namun, hingga asteroid ini terlihat kembali pada tahun 2028, ketidakpastian tetap ada.