free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Hiburan, Seni dan Budaya

Sangiran, Warisan Dunia: Perjalanan Fadli Zon Menelusuri Tapak Zaman

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

14 - Feb - 2025, 14:40

Loading Placeholder
Fadli Zon saat berkunjung ke Museum Sangiran. (Foto: Instagram @fadlizon)

JATIMTIMES - Di sebuah lorong waktu yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, Museum Sangiran berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan manusia purba di Nusantara. Situs ini bukan sekadar koleksi fosil atau peninggalan arkeologi, tetapi sebuah cerminan dari evolusi lingkungan dan budaya yang telah berlangsung selama jutaan tahun. 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam lawatannya ke Museum Sangiran, menegaskan pentingnya situs ini sebagai warisan dunia yang tidak hanya bernilai ilmiah, tetapi juga memperkaya identitas nasional.

Baca Juga : Ritual Topo Mbisu Mubeng Deso: Tangkap Sinyal Alam ala Bersih Desa Tlogomas

Museum Manusia Purba Sangiran, yang terbentang di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, merupakan pusat penelitian manusia purba terlengkap di Asia. Keberadaan museum ini bermula dari Museum Plestosen yang didirikan pada 1974 sebagai tempat penyimpanan temuan fosil di kawasan Sangiran. 

Seiring meningkatnya jumlah temuan, pada 1983 pemerintah membangun Museum Situs Sangiran yang lebih besar di Dusun Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen.

Fadli Zon, dalam kunjungannya ke Museum Dayu (salah satu dari lima klaster Museum Sangiran) mengapresiasi bagaimana situs ini menggambarkan perubahan lingkungan sejak era rawa purba hingga menjadi daratan. “Museum Dayu memiliki stratigrafi lengkap yang menunjukkan evolusi lingkungan selama jutaan tahun,” ungkapnya melalui akun Instagram @fadlizon.

Stratigrafi yang dimaksud terdiri dari lima formasi utama: Formasi Kalibeng (tertua), Formasi Pucangan, Formasi Grenzbank, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro. Masing-masing lapisan ini mengandung jejak kehidupan purba yang berharga bagi pemahaman tentang evolusi manusia.

Dalam ekspedisinya, Fadli Zon menelusuri jejak manusia purba melalui artefak yang ditemukan di Museum Dayu. Salah satu temuan paling signifikan adalah serpih-bilah batu dari lapisan Pucangan yang diperkirakan berusia 1,2 juta tahun. Temuan ini mengindikasikan bahwa manusia purba di Sangiran telah memiliki kecakapan dalam membuat dan menggunakan alat untuk bertahan hidup.

Penelitian yang dilakukan di Sangiran mengungkap bahwa situs ini dihuni oleh Homo erectus sejak 1,5 juta tahun lalu. Spesies ini, yang diyakini sebagai nenek moyang manusia modern, memiliki kemampuan berburu, mengumpulkan makanan, serta membuat alat dari batu dan tulang. Fosil Homo erectus yang ditemukan di Sangiran menjadi bukti konkret bahwa wilayah ini memiliki peran kunci dalam sejarah evolusi manusia.

Museum Sangiran juga menjadi saksi bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi kehidupan manusia purba. Bukti geologis menunjukkan bahwa daerah ini pernah menjadi dasar laut sebelum akhirnya mengalami pengangkatan daratan akibat aktivitas vulkanik. Proses ini menciptakan ekosistem baru yang memungkinkan manusia purba untuk berkembang.

Seiring berkembangnya penelitian arkeologi, Museum Sangiran kini memiliki lima klaster utama yang masing-masing menawarkan perspektif unik tentang sejarah kepurbakalaan.

Klaster Krikilan menjadi pusat utama museum, menyajikan sejarah kepurbakalaan secara lengkap, mulai dari temuan fosil hingga evolusi manusia purba. Klaster Bukuran menampilkan teori evolusi manusia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, dikemas dalam tampilan visual interaktif. Sementara itu, Klaster Ngebung mengisahkan sejarah eksplorasi arkeologi di Sangiran, termasuk temuan awal yang dilakukan oleh tokoh seperti Eugène Dubois dan G.H.R. von Koenigswald.

Baca Juga : Momen Bersejarah 14 Februari: Jejak Heroik Pemberontakan PETA Blitar dan Supriyadi Melawan Penjajahan Jepang

Di Klaster Dayu, tempat yang dikunjungi oleh Fadli Zon, pengunjung dapat melihat stratigrafi lengkap serta berbagai temuan alat batu tertua. Selain itu, Museum Sangiran juga memiliki Lapangan Museum Manyarejo, sebuah pusat penelitian terbuka yang memungkinkan pengunjung menyaksikan langsung proses ekskavasi fosil.

Keberadaan lima klaster ini tidak hanya memperkaya wawasan arkeologi, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif bagi pengunjung. Dengan berbagai fasilitas modern, Museum Sangiran telah bertransformasi menjadi pusat riset yang menarik bagi ilmuwan dan masyarakat umum.

Pada 1996, UNESCO menetapkan Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia karena nilai ilmiahnya yang luar biasa. Sejak saat itu, upaya konservasi terus dilakukan untuk menjaga kelestarian temuan fosil dan ekosistemnya. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah perdagangan ilegal fosil dan pembangunan yang tidak terkendali di sekitar situs.

Fadli Zon menekankan pentingnya perlindungan kawasan Sangiran agar tetap menjadi laboratorium alami bagi penelitian manusia purba. “Melalui jelajah museum, kita mampu menggali berbagai kisah masa lampau yang tidak hanya bermanfaat bagi literasi, tetapi juga memperkuat rasa cinta dan nasionalisme kita terhadap tanah air,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, pemerintah berencana memperluas area konservasi dan meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga situs ini. Salah satu program yang tengah dikembangkan adalah digitalisasi koleksi museum agar dapat diakses oleh lebih banyak orang, baik di dalam maupun luar negeri.

Perjalanan Fadli Zon ke Museum Sangiran bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi sebuah refleksi mendalam tentang sejarah dan kebudayaan Nusantara. Situs ini bukan hanya menyimpan jejak manusia purba, tetapi juga menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki warisan ilmiah yang diakui dunia.

Melalui eksplorasi museum, kita tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana peradaban berkembang. Sangiran adalah pengingat bahwa kehidupan modern yang kita jalani saat ini merupakan hasil dari perjalanan panjang yang dimulai jutaan tahun lalu. Oleh karena itu, menjaga kelestarian situs ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama sebagai pewaris sejarah peradaban manusia.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

--- Iklan Sponsor ---